Menyalahkan Korban adalah Kekerasan Sekunder
Victim blaming adalah tindakan menyalahkan seseorang atas kekerasan atau pelecehan yang dialaminya, alih-alih menempatkan tanggung jawab pada pelaku dan mengakui hak korban atas perlindungan serta pemulihan yang layak. Sikap ini bukan sekadar komentar yang kurang peka. Ia menggeser perhatian dari tindakan pelaku ke pilihan, pakaian, atau kehidupan pribadi korban. Dalam kajian viktimologi, victim blaming perlu dibedakan dari viktimisasi sekunder: yang pertama adalah tindakan menyalahkan korban, sedangkan yang kedua merupakan penderitaan tambahan akibat respons negatif dari lingkungan, masyarakat, bahkan pihak yang semestinya melindungi. Perbedaan ini penting karena kerugian tidak berhenti pada peristiwa kekerasan. Penghakiman sosial dapat menambah rasa malu, menimbulkan ketakutan untuk berbicara, dan memperburuk kondisi psikologis korban. Menamai mekanisme ini dengan tepat membantu kita melihat bahwa menyalahkan korban bukan respons yang netral, melainkan bagian dari masalah.
Bagaimana Penghakiman Menyebar di Ruang Digital
Ketika sebuah kasus menjadi viral, komentar warganet dapat berubah menjadi ruang pengadilan bagi korban. Dalam pelecehan seksual media sosial, korban bisa ditanya soal pakaian, gaya hidup, atau alasan berada di tempat tertentu, sementara tindakan pelaku justru luput dari perhatian. Pola lain adalah menganggap korban turut bertanggung jawab karena mengonsumsi alkohol atau berada bersama laki-laki. Bahkan, alkohol dapat dipakai untuk memaklumi perilaku pelaku, meskipun keadaan mabuk bukan pembenaran atas pelecehan. Narasi seperti ini bekerja dengan membangun kesan bahwa kekerasan dapat dicegah jika korban berperilaku sesuai harapan orang lain. Itu standar yang tidak adil: kebebasan korban diperlakukan sebagai kesalahan, sedangkan tanggung jawab pelaku dikaburkan. Karena itu, membaca komentar bukan hanya soal pilihan kata; kita perlu memeriksa siapa yang sedang dimintai pertanggungjawaban dan siapa yang diberi alasan.
Luka Sosial Memperberat Trauma
Trauma psikologis korban dapat memburuk ketika pengalaman kekerasan disusul penghakiman dari orang lain. Tekanan sosial berpotensi menghadirkan rasa malu, membuat korban takut berbicara, dan memperburuk kondisi psikologisnya. Dampak ini tidak semestinya dipandang sebagai reaksi berlebihan atau tanda bahwa korban kurang kuat. Respons lingkungan ikut menentukan apakah seseorang merasa didengar atau kembali diserang. Menuntut korban menceritakan detail, mempertanyakan konsistensi cerita tanpa kepekaan, atau menjadikan kisahnya bahan perdebatan publik dapat menambah beban. Sebaliknya, dukungan tidak menuntut kita menjadi penyelidik atau langsung mengetahui semua jawaban. Dengarkan tanpa menyudutkan, hormati batas yang ditetapkan korban, dan jangan menyebarkan informasi pribadinya. Pemulihan bukan kewajiban korban untuk meyakinkan semua orang; lingkungan pun bertanggung jawab agar responsnya tidak menambah luka.
Mengubah Narasi, Menciptakan Ruang Aman
Perubahan perspektif masyarakat harus dimulai dari kebiasaan bertanya: bukan “apa yang dilakukan korban?”, melainkan “siapa yang melakukan kekerasan dan dukungan apa yang dibutuhkan korban?” Perhatian semestinya diarahkan pada tindakan pelaku, perlindungan hak korban, dan proses pemulihan, bukan pencarian kesalahan dalam kehidupan pribadinya






