Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Menghidupkan Kembali Dongeng dan Permainan Rakyat untuk Literasi Budaya Anak

Menghidupkan Kembali Dongeng dan Permainan Rakyat untuk Literasi Budaya Anak
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Mengapa Literasi Budaya Anak Harus Dimulai dari Permainan dan Dongeng

Literasi budaya anak adalah proses mengenalkan nilai, cerita, dan praktik tradisi sejak dini melalui pengalaman sehari-hari yang menyenangkan, seperti permainan rakyat anak, mendongeng, dan aktivitas komunitas yang interaktif, sehingga anak tidak hanya tahu warisan budaya, tetapi juga merasakannya sebagai bagian dari identitas diri dan kebersamaan keluarga. Di tengah gempuran gawai dan konten digital, perdebatan soal cara terbaik mendidik generasi kecil sering macet pada kekhawatiran, bukan pada solusi. Padahal, inisiatif komunitas di berbagai kota sedang menunjukkan arah yang lebih optimistis: tradisi tidak harus kalah oleh teknologi, asalkan tradisi diberi panggung yang relevan dengan kehidupan anak masa kini. Kuncinya ada pada kombinasi pembelajaran tradisional interaktif dan ekosistem mendongeng era digital yang mengakui cara anak belajar: lewat gerak, imajinasi, dan kedekatan emosional.

Tanjungpinang: Permainan Rakyat Anak sebagai Sekolah Kebersamaan

Di Tanjungpinang, Pengurus Daerah Ikatan Guru Raudhatul Athfal menggelar senam bersama dan edukasi permainan rakyat untuk menyemarakkan HUT ke-81 Kemerdekaan di Pelataran Tugu Sirih pada 28 Agustus. Bukan acara seremonial biasa: 600 anak dari 17 RA datang dan larut dalam jengket, yeye, ular tangga, congklak, hingga bakiak. Ketika anak berlari mengejar teman dalam permainan bakiak atau berhitung di papan ular tangga, mereka sedang menjalani pembelajaran tradisional interaktif yang menanamkan kebersamaan, kreativitas, sportivitas, dan interaksi sosial tanpa disadari. Di sini, permainan rakyat anak bukan nostalgia romantis orang dewasa, melainkan alat pendidikan karakter yang konkret. Ketua IGRA menegaskan bahwa banyak anak sudah tidak mengenal permainan tradisional, sehingga ruang seperti ini menjadi perlu untuk mengembalikan pengalaman bermain langsung di tengah dominasi permainan berbasis gawai.

Menghidupkan Kembali Dongeng dan Permainan Rakyat untuk Literasi Budaya Anak

Dongeng di Era Digital: Jembatan Tradisi dan Teknologi

Di Jakarta, anak muda yang tergabung dalam program BerKawan Jabodetabek memilih jalur lain: menghidupkan budaya mendongeng era digital lewat workshop bersama komunitas Ayo Dongeng Indonesia (AyoDI) di Social Enterprise Hub, Benhil, pada 29 Agustus. Komunitas ini sejak 2011 konsisten mengembalikan mendongeng dan menjaga cerita daerah di keluarga, sekolah, dan ruang komunitas. Pendongeng Kak Budi mengingatkan bahwa mendongeng adalah seni berkomunikasi dan pengalaman bersama yang membangun ikatan batin antara pendidik dan anak serta mendukung perilaku positif. Pernyataan menarik muncul ketika teknologi sering dituduh menjauhkan anak dari buku: bagi Kak Budi, media sosial, video pendek, podcast, animasi, hingga kecerdasan buatan adalah peluang emas bagi ekosistem dongeng. Anak muda dianggap punya kemampuan menjadikan cerita masa lalu relevan bagi generasi sekarang, menjadi jembatan kreatif antara warisan budaya dan medium digital yang akrab bagi anak.

Dari Panggung Komunitas ke Rumah: Membangun Kepercayaan Diri dan Peran Keluarga

Baik permainan rakyat di Tanjungpinang maupun workshop mendongeng di Benhil menunjukkan satu pola penting: aktivitas budaya yang terstruktur mendorong keberanian berbicara dan kepercayaan diri anak sejak dini. Dalam simulasi kelompok BerKawan, peserta diminta menyusun konsep dongeng tiga babak untuk anak TK dan menyajikannya dengan gaya ekspresif, bukan hanya membaca teks. Ini memberi contoh langsung pada para guru PAUD dan pustakawan bagaimana cerita dapat digunakan sebagai latihan komunikasi, bukan sekadar hiburan. Di sisi lain, pejabat Kementerian Agama yang hadir di Tanjungpinang menekankan bahwa permainan tradisional adalah bagian penting dari pengalaman belajar, bermain, dan membangun kebersamaan anak. Ketika organisasi sosial dan komunitas lokal saling berkolaborasi, keluarga mendapat dukungan nyata untuk menghadirkan literasi budaya anak di rumah: orang tua tidak lagi sendirian, tetapi menjadi bagian dari ekosistem yang memandang budaya sebagai kebutuhan, bukan pelengkap.

Kesimpulan: Literasi Budaya Butuh Gerak, Cerita, dan Komunitas

Pelajaran utama dari dua inisiatif ini sederhana namun menantang: literasi budaya anak tidak tumbuh dari buku yang diletakkan di rak, melainkan dari pengalaman bersama yang diulang dan dirayakan. Permainan rakyat anak yang digelar massal, mendongeng era digital yang membuka ruang kreasi, dan kegiatan komunitas yang melibatkan guru, pustakawan, serta anak muda adalah bentuk investasi sosial jangka panjang. Tanpa gerak, cerita, dan komunitas, warisan budaya akan cepat bergeser menjadi sekadar data di mesin pencari. Karena itu, kota lain, komunitas lain, dan keluarga lain perlu berani menyalin pola ini: kombinasikan pembelajaran tradisional interaktif dengan medium cerita yang dekat dengan generasi kini, sehingga anak tumbuh dengan akhlak, iman, dan identitas budaya yang kuat, bukan terputus dari akar cerita yang membentuk mereka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!