Bertutur di Sekolah: Literasi yang Berakar pada Budaya
Dongeng rakyat dan cerita budaya lokal di sekolah adalah pendekatan literasi yang mengajak anak membaca, mendengar, dan menuturkan cerita rakyat anak, legenda, serta kisah tradisional untuk memperkuat literasi budaya lokal sekaligus karakter, identitas, dan kepercayaan diri mereka sebagai bagian dari komunitasnya.
Jika literasi di sekolah hanya diukur dari seberapa cepat anak membaca buku paket, kita sedang menyempitkan makna belajar. Program storytelling sekolah yang mengangkat dongeng tradisional anak membuka jalur lain: literasi yang hidup, bersuara, dan berakar pada budaya. Ratusan pelajar kelas 1 hingga 6 di SDN Tugu Utara 09 mengikuti Kreasi Aksi Rekreasi Dongeng Keliling (Karedok) sebagai salah satu contoh, ketika mendongeng, musik, permainan edukatif, dan penampilan seni bertemu dalam satu ruang yang ramah anak. Di ruang lain, 15 siswa SD dan MI di Donggala masuk panggung Lomba Bertutur untuk membawakan cerita rakyat dan legenda daerahnya. Ini bukan kegiatan selingan; ini strategi pendidikan yang pantas ditempatkan di pusat kurikulum.

Karedok: Menjauhkan Anak dari Gadget, Mendekatkan ke Buku dan Dongeng
Karedok di SDN Tugu Utara 09 menunjukkan bahwa literasi budaya lokal bisa dikemas menyenangkan tanpa layar. Ratusan siswa antusias mengikuti rangkaian mendongeng, akustik literasi, permainan edukatif, hingga penampilan marawis, tari daerah, dan pencak silat. Ini bukan sekadar acara hiburan; di sini anak latihan mendengar dengan saksama, memahami alur, dan merasakan nilai dari cerita yang dibawakan. Asisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat setempat menyebut kegiatan ini mendukung program pembatasan penggunaan gawai pada anak dan menumbuhkan budaya membaca sejak dini.
Pendekatan seperti ini mengkritik kebiasaan sekolah yang masih bergantung pada ceramah satu arah. Di Karedok, anak diminta aktif, tertawa, bertanya, bahkan tampil. Kegiatan ini sengaja diarahkan menjadi ruang kreativitas yang “mampu membentuk karakter anak yang cerdas dan berbudaya literasi sejak dini”. Ketika pengalaman membaca selalu dikaitkan dengan teguran dan tugas, wajar bila minat anak turun. Karedok membalik itu: buku dan cerita hadir sebagai sumber kesenangan. Dampaknya, anak bukan hanya menjauh dari gadget, tetapi juga mulai mengasosiasikan bacaan dengan pengalaman emosional yang hangat.
Donggala dan Lomba Bertutur: Cerita Kaili sebagai Panggung Kepercayaan Diri
Lomba Bertutur di Donggala memperlihatkan bagaimana kompetisi bertutur siswa dapat menjadi arena pertemuan antara seni bercerita, kebanggaan budaya, dan literasi modern. Sebanyak 15 siswa SD dan madrasah ibtidaiyah tampil bergantian sejak pagi hingga siang hari di hadapan juri, guru, dan orang tua untuk membawakan cerita rakyat, legenda, dan kisah pendidikan. Mereka mengangkat legenda Bulu Polumba, asal-usul makanan Kaledo, hingga kisah Pusentasi yang sarat kearifan lokal.
Di sini literasi budaya lokal hadir lengkap: teks cerita, konteks budaya Kaili, hingga busana tradisional seperti sampolu dan siga yang dikenakan peserta. Anak diminta menjaga ekspresi, intonasi, artikulasi, dan gaya penyampaian—sebuah latihan public speaking yang jarang mereka dapatkan di kelas konvensional. Kepala dinas perpustakaan menyatakan bahwa lomba ini bertujuan mengembangkan kemampuan seni bercerita dan menyampaikan gagasan di depan umum. Quote ini penting: ia menegaskan bahwa cerita rakyat anak bukan nostalgia, melainkan alat strategis membentuk generasi yang berani bersuara. Apalagi juara pertama akan naik ke panggung tingkat provinsi, memberi pesan bahwa kemampuan bertutur setara pentingnya dengan kemampuan berhitung.
Mengapa Cerita Rakyat Anak Harus Kembali ke Jantung Kelas
Program storytelling sekolah seperti Karedok dan Lomba Bertutur mengajarkan satu hal: pelestarian warisan budaya tradisional tidak bertentangan dengan tuntutan literasi abad ke-21. Dalam kedua kegiatan, cerita rakyat dan legenda dikemas dengan nuansa pendidikan dan nilai pelestarian alam. Anak berlatih memahami pesan, menyimpulkan, dan mengaitkan kisah dengan kehidupan mereka hari ini. Dengan kata lain, dongeng tradisional anak berubah menjadi teks hidup yang melatih berpikir kritis sekaligus empati.
Kritiknya, banyak sekolah masih memandang cerita rakyat anak sebagai isi tambahan di buku Bahasa Indonesia, bukan sebagai medium pembelajaran lintas mata pelajaran. Padahal, dari satu legenda lokal, guru bisa mengajarkan bahasa, sejarah, moral, bahkan sains. Ketika pemerintah menyoroti bahaya gawai pada anak, solusi tidak bisa berhenti pada larangan. Program literasi budaya lokal yang konsisten, menyenangkan, dan melibatkan komunitas jauh lebih efektif dibanding sekadar daftar aturan penggunaan gadget. Sekolah perlu berani menggeser jam pelajaran yang kaku menjadi sesi bertutur yang hidup: di perpustakaan, aula, atau ruang terbuka, di mana anak merasa aman untuk bercerita dan didengar.
Penutup: Menjadikan Bertutur sebagai Agenda Serius Pendidikan
Karedok yang melibatkan ratusan siswa dan Lomba Bertutur yang mengangkat budaya Kaili menunjukkan arah yang seharusnya diambil sekolah. Literasi tidak cukup diukur dari skor ujian; ia harus tampak pada anak yang berani bercerita, menghargai akar budaya, dan mampu menyimak orang lain. Program storytelling sekolah membuktikan bahwa kompetisi bertutur siswa dapat sekaligus menjauhkan anak dari gadget, menguatkan kemampuan berbicara, dan menanamkan rasa bangga terhadap cerita komunitasnya.
Ke depan, harapan agar Karedok diperluas ke lebih banyak sekolah dan jenjang lebih tinggi menunjukkan bahwa ini bukan agenda sesaat. Di Donggala, keberlanjutan tampak dari jenjang lomba hingga tingkat provinsi. Pertanyaannya: apakah sekolah lain mau mengikuti? Jika jawabannya ya, maka kurikulum perlu memberi ruang bagi cerita rakyat anak sebagai bagian utama, bukan pelengkap. Anak yang tumbuh dengan literasi budaya lokal akan lebih siap menghadapi dunia global—karena ia tahu dari mana ia berasal, dan ia mampu menceritakan itu dengan lantang.






