Dongeng dan Lagu Tradisional sebagai Benteng Identitas Anak
Dongeng tradisional anak dan lagu lokal pembelajaran adalah metode pendidikan budaya yang memanfaatkan cerita rakyat, tokoh leluhur, serta musik daerah sebagai sarana mengenalkan sejarah lokal, nilai hidup, dan identitas budaya kepada anak sejak sekolah dasar, melalui pengalaman belajar yang interaktif, emosional, dan mudah diingat. Di Banyumas, pendekatan ini bukan sekadar kegiatan seni, melainkan strategi sadar untuk melawan arus budaya populer yang mendominasi layar gawai dan ruang obrolan anak. Di tengah gempuran budaya populer, budayawan NasSirun PurwOkartun memilih bergerak di akar rumput, menghadirkan sejarah lokal dalam format yang akrab bagi dunia anak: cerita dan nyanyian ceria. Pilihan medium ini adalah pernyataan politik budaya: jika generasi muda terus diberi tontonan seragam, jawabannya bukan melarang, tetapi memberi alternatif yang sama menarik namun berakar pada tanah kelahiran mereka.
Pentas Dongeng Babad Banyumas: Sejarah Lokal Anak SD yang Hidup dan Bernyanyi
Pentas Dongeng Babad Banyumas di Bale Babad Banyumas, Desa Mandirancan, Kebasen, digelar pada Jumat 14 Agustus dan diikuti puluhan siswa-siswi SD Mandirancan sejak pukul 07.30 hingga 10.30 WIB. Di tangan NasSirun PurwOkartun, sejarah yang biasanya beku di buku pelajaran berubah menjadi pertunjukan interaktif: anak-anak diajak menyelami kisah kepahlawanan leluhur Banyumas melalui dongeng yang diselingi nyanyian ceria. Inilah contoh konkret bagaimana sejarah lokal anak SD bisa terasa dekat, bukan abstrak. Tokoh seperti Raden Baribin yang pantang menyerah, Raden Katuhu yang memaksimalkan potensi diri, dan Jaka Kaiman yang bertanggung jawab dijadikan role model yang realistis, bukan sekadar nama di soal ujian. Saat lantun anak-anak riang menyanyi “Babad Banyumas Kuwe, Babade awake dhewek…” benih kecintaan pada tanah kelahiran sedang ditanam melalui lirik dan emosi, bukan hafalan kering.

Dari Naskah Kuno ke Dongeng Anak: Kontra-Budaya yang Serius
Yang sering luput disadari, kerja kontra-budaya ini berdiri di atas fondasi riset sejarah yang tekun. NasSirun tidak asal bercerita; ia lebih dulu menerjemahkan naskah kuno “Serat Babad Banyumas” yang ditulis pada masa Bupati Adipati Mertadiredja I (1816-1826) ke bahasa Indonesia pada 2019 dan menerbitkannya sebagai “Babad Banyumas Mertadiredjan” pada 2020. Naskah berhuruf Jawa dengan tembang Macapat itu kemudian disadur menjadi buku anak seperti “Dongeng Banyumas” dan “Serial Bacaan Babad Banyumas” yang diluncurkan 2023. Kutipan yang layak dicatat: naskah kuno yang dulu hanya bisa diakses segelintir orang, kini menjelma jadi dongeng tradisional anak yang terjangkau siswa SD. Di sini tampak jelas bahwa pelestarian budaya sekolah tidak boleh berhenti di ekstrakurikuler seremonial; ia butuh bahan ajar yang serius. Mengemas sejarah dalam pertunjukan interaktif agar mudah dicerna anak adalah langkah strategis, bukan dekorasi kegiatan kelas.
Sanggar Seni Hadinan: Pelestarian Budaya Sekolah Lewat Latihan Kolektif
Jika Banyumas menunjukkan kekuatan dongeng, Sanggar Hadinan di SMP Negeri Umanen menegaskan peran sekolah sebagai garda pelestarian budaya. Ketua sanggar seni sekaligus guru, Yasintha Metkono, menyebut tempat latihan mereka sebagai garda pelestarian budaya. Sanggar ini rutin terlibat dalam berbagai acara adat dan penyambutan tamu penting, bahkan bersaing dengan sekolah tingkat atas dan meraih hasil membanggakan. Di sini pelestarian budaya sekolah berwujud latihan seni tradisional yang teratur, bukan kegiatan musiman. Tantangan utama bukan kekurangan materi, melainkan rasa malu siswa memulai; Yasintha menjawabnya dengan penguatan dan dorongan agar mereka berani maju, tidak merasa malu, serta tetap semangat demi masa depan yang lebih maju. Pernyataan kuncinya tegas: “Mustahil orang lain kita harapkan untuk lestarikan budaya daerah kita”. Pesan ini menempatkan anak sebagai subjek budaya, bukan sekadar penonton.
Mengapa Storytelling dan Musik Harus Masuk Ruang Kelas
Pendekatan storytelling dan musik dalam lagu lokal pembelajaran membawa keunggulan yang sulit ditandingi metode ceramah. NasSirun sengaja mengemas sejarah dalam bentuk pertunjukan interaktif agar mudah dicerna; bukti lapangan menunjukkan anak-anak bukan hanya diam mendengar, tetapi aktif bernyanyi dan merespons tokoh cerita. Pengalaman ini membangun asosiasi emosional: sejarah lokal anak SD menjadi memori gembira, bukan materi ujian yang menegangkan. Di sisi lain, sanggar seni seperti Hadinan melatih anak menghadapi panggung, mengatasi rasa malu, dan menantang rasa canggung lewat kebersamaan latihan. Kombinasi dongeng tradisional anak dan praktik seni di sanggar menjadikan pelestarian budaya sekolah sebagai proses yang hidup dan sosial. Kesimpulannya tegas: jika kurikulum benar-benar ingin menanam identitas, maka cerita leluhur dan lagu daerah harus diberi ruang setara dengan konten budaya populer, bukan ditempatkan sebagai pelengkap eksotis.






