Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Polisi hingga Aktivis: Pendampingan ODGJ sebagai Misi Hidup

Dari Polisi hingga Aktivis: Pendampingan ODGJ sebagai Misi Hidup
Minat|Kesehatan Mental

Pendampingan ODGJ: Bukan Sekadar Tugas Sosial, Melainkan Pilihan Hidup

Pendampingan ODGJ adalah praktik mendampingi orang dengan gangguan jiwa dan keluarganya secara berkelanjutan, melalui edukasi, perawatan komunitas jiwa, penguatan dukungan sosial, serta advokasi kesehatan mental, agar pemulihan tidak berhenti pada pengobatan medis tetapi berlanjut pada reintegrasi yang manusiawi di lingkungan tempat mereka hidup.

Kisah Pipit Anggraini Putri dan Ipda Purnomo menunjukkan satu hal yang mengguncang cara kita memandang kesehatan jiwa: perubahan tidak digerakkan oleh kebijakan di atas kertas, melainkan oleh orang-orang yang menjadikannya misi hidup. Pipit, Pendamping Pasung Kabupaten Bojonegoro, dan Purnomo, polisi yang merawat hampir 500 ODGJ, samasama memilih jalur yang melelahkan, penuh stigma, dan jarang mendapat sorotan.

Di saat banyak orang menghindari isu gangguan jiwa karena dianggap rumit dan "pekerjaan orang ahli", mereka membuktikan bahwa pendampingan ODGJ bisa dimulai dari kepedulian tingkat lokal, lalu dipertegas dengan ilmu yang teruji. Inilah arah baru advokasi kesehatan mental: akar rumput yang tidak anti-ilmu, melainkan aktif menjemput pengetahuan lewat program psikologi lokal.

Pipit Anggraini Putri: Mengubah Program Bebas Pasung Menjadi Ruang Inklusi

Pipit Anggraini Putri, S.E., bukan sekadar penerima penghargaan Inspiring Woman dalam Jawa Pos Radar Bojonegoro Award 2026; pengakuan itu muncul dari tahun-tahun mendatangi rumah demi rumah untuk mendampingi ODGJ pasung di Bojonegoro. Penghargaan ini layak dibaca bukan sebagai selebrasi individu, tetapi sebagai pengingat bahwa pelepasan pasung tidak boleh berhenti pada seremoni foto dan berita singkat.

Sebagai Pendamping Pasung Kabupaten Bojonegoro di bawah Dinas Sosial, Pipit terlibat dalam program Jawa Timur Bebas Pasung, yang menuntut kerja pelan tapi tegas: mendata, mendatangi keluarga, membangun komunikasi, memberi edukasi, dan menantang stigma di lingkup desa. Ia berhadapan dengan ketakutan keluarga, kekhawatiran soal keamanan, serta penolakan lingkungan. Di sinilah pendampingan ODGJ tampak jelas sebagai kerja emosional yang tidak terbaca dalam angka.

Pipit memilih pendekatan humanis dan kolaboratif, menjalin sinergi dengan dinas sosial, rumah sakit jiwa, dinas kesehatan, pemerintah desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan tokoh masyarakat agar perawatan komunitas jiwa berlanjut setelah pasung dilepas. Baginya, ODGJ berhak atas pengobatan, rehabilitasi, pendampingan psikososial, dan dukungan keluarga. Pernyataan bahwa keberhasilan diukur dari kesempatan hidup lebih manusiawi, bukan sekadar bebas pasung, adalah kritik halus terhadap pendekatan yang terlampau administratif.

Pak Purnomo: Polisi Baik yang Memilih Bangku Kuliah demi Profesionalisasi Pengabdian

Di Lamongan, Ipda Purnomo menolak puas dengan label “Polisi Baik”. Hampir satu dekade merawat ODGJ, lansia terlantar, anak jalanan, dan penyintas narkoba di Yayasan Berkas Bersinar Abadi tidak membuatnya merasa cukup berbekal niat baik. Ia kembali ke kampus, menempuh Magister Psikologi di Universitas Negeri Surabaya, dan membagi hari antara tugas kepolisian, pengelolaan yayasan, dan statusnya sebagai mahasiswa.

Selama hampir 10 tahun, ia telah merawat hampir 500 ODGJ, sebuah angka yang menunjukkan bahwa perawatan komunitas jiwa bisa tumbuh dari ruang yang sama sekali tidak "klinikal": sebuah yayasan di desa Nguwok, Kecamatan Modo. Purnomo mengakui bahwa selama ini ilmu pendampingan banyak ia pelajari secara otodidak, hingga akhirnya memilih menguatkan dasar keilmuan psikologi agar pendampingan ODGJ dan kelompok rentan lain dapat dilakukan lebih profesional.

Langkahnya mengajak istri dan merencanakan sekitar 30 anggota tim yayasan untuk mempelajari psikologi menunjukkan bahwa program psikologi lokal bisa menjadi motor perubahan kapasitas layanan. Di luar kelas, ia mengedukasi publik melalui kanal YouTube dengan sekitar 2,7 juta pelanggan, menjadikan advokasi kesehatan mental bukan hanya kerja lapangan, tetapi juga kerja narasi. Ia menggugat gagasan bahwa polisi tugasnya hanya penegakan hukum; dalam praktiknya, ia menggeser polisi ke posisi pendamping bagi mereka yang rentan.

Menghadapi Tantangan: Dari Stigma hingga Kebutuhan Pendidikan Berkelanjutan

Kedua sosok ini sama-sama bergulat dengan sisi gelap penanganan gangguan jiwa: stigma, rasa takut, dan keterbatasan layanan. Pipit berhadapan langsung dengan kekhawatiran keluarga dan penerimaan lingkungan yang sering kali enggan menerima kembali ODGJ setelah pasung dilepas. Tanpa pendampingan psikososial berkelanjutan, proses pemulihan dan reintegrasi sosial mereka mudah tersendat. Di sini, pendampingan ODGJ tidak bisa disederhanakan menjadi kegiatan sesaat; ia adalah komitmen jangka panjang.

Purnomo mengidentifikasi tantangan dari sisi kapasitas pendamping. Ia menyadari bahwa mengandalkan pengalaman lapangan semata tidak cukup untuk menjawab kompleksitas kasus yang datang setiap hari. Keputusan kuliah lagi adalah pernyataan politik kecil: advokasi kesehatan mental harus ditopang oleh ilmu yang teruji, bukan hanya empati. Ia bahkan menyebut menuntut ilmu sebagai kewajiban yang melekat pada pekerja pendamping.

Namun, pendidikan formal dan penghargaan publik bukan solusi tunggal. Penanganan ODGJ tetap membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat luas. Tanpa ekosistem itu, kerja Pipit dan Purnomo terancam menjadi pulau-pulau kebaikan yang kelelahan. Di sinilah pentingnya melihat mereka bukan sebagai pahlawan tunggal, melainkan sebagai pemantik perubahan kebijakan dan kebiasaan di tingkat komunitas.

Dari Kisah Lokal ke Gerakan Komunitas: Apa yang Seharusnya Kita Lakukan?

Model pendampingan lokal yang dijalankan Pipit dan Purnomo menunjukkan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, dapat berkontribusi pada kesehatan mental masyarakat: aktivis sosial, aparat kepolisian, perangkat desa, hingga keluarga ODGJ sendiri. Pipit menempatkan Bojonegoro sebagai ruang praktik inklusi, sementara Purnomo menjadikan desa Nguwok sebagai laboratorium perawatan komunitas jiwa lintas klaster — ODGJ, lansia, anak terlantar, dan rehabilitasi narkoba.

Kita seharusnya berhenti melihat advokasi kesehatan mental sebagai isu “ahli” yang eksklusif. Cerita mereka mengajarkan bahwa program psikologi lokal dapat tumbuh dari yayasan kecil, dinas sosial, komunitas RT, dan kanal digital. Tugas kita adalah mendukung, bukan sekadar mengagumi: melawan stigma di obrolan sehari-hari, mendorong keluarga untuk mencari bantuan, dan mendesak pemerintah serta tenaga kesehatan untuk membangun mekanisme pendampingan yang tidak terputus.

Pada akhirnya, Pipit dan Purnomo menantang kita dengan pertanyaan senyap: jika mereka bisa menjadikan pendampingan ODGJ sebagai misi hidup, apa kontribusi paling realistis yang bisa kita berikan di lingkungan terdekat? Jawaban atas pertanyaan itu, jika dijalankan, akan mengubah cerita mereka dari sekadar kisah inspiratif menjadi titik balik perawatan komunitas jiwa di banyak tempat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!