Ancaman yang Tak Perlu Menyentuh Dinding Gua
Karhutla adalah kebakaran hutan dan lahan yang dapat merusak situs prasejarah bukan hanya melalui jilatan api, tetapi juga lewat panas dan asap yang menjangkau lingkungan gua. Di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan, ancaman itu kini nyata bagi lukisan gua prasejarah yang merekam jejak seni manusia purba. Arkeolog Griffith University Basran Burhan memperingatkan bahwa perubahan suhu di sekitar lukisan dapat mempercepat pelapukan meski api tidak menyentuh gua secara langsung. Karena itu, jarak antara titik api dan situs tidak bisa dijadikan alasan untuk menunggu. Api terdekat dilaporkan berjarak sekitar 800 meter dari gua, sementara kebakaran sempat berlangsung lebih dari sepekan pada awal Oktober. Perlindungan harus dimulai saat risiko muncul, bukan setelah kerusakan terlihat.
Taruhannya melampaui nilai visual. Lukisan Maros-Pangkep yang menggambarkan sosok menyerupai manusia berinteraksi dengan babi diperkirakan berusia setidaknya 51.200 tahun. Angka itu menjadikan situs ini kesaksian penting tentang perkembangan seni dan kemampuan manusia purba untuk bercerita. Bila bukti semacam ini rusak, kehilangan yang terjadi bukan sekadar berkurangnya daya tarik gua, melainkan terputusnya sumber pengetahuan yang tidak dapat dibuat ulang.

Panas Memicu Retakan, Asap Mengaburkan Pigmen
Panas ekstrem dapat mengubah suhu batu kapur yang selama ribuan tahun relatif stabil. Perubahan mendadak memicu pemuaian termal dan tekanan pada batuan, lalu membentuk retakan mikro. Retakan dapat menjalar sampai ke lapisan pigmen dan membuatnya terkelupas; kerusakan seperti ini berpotensi permanen. Jadi, kebakaran yang tidak mencapai mulut gua pun tetap dapat mengancam lukisan cadas Maros melalui perubahan lingkungan di sekitarnya.
Dampak asap kebakaran juga tidak berhenti pada udara yang mengganggu pernapasan. Asap tebal membawa partikel karbon yang mengendap sebagai jelaga di permukaan gambar, menutup bentuk dan warna asli pigmen. Bagi pengunjung dan peneliti, akibatnya langsung terasa: detail lukisan menjadi kabur dan sulit dikenali. Jelaga mungkin membuat gambar tak terbaca oleh mata, sedangkan panas dapat merusak lapisan aslinya. Keduanya menuntut tindakan pencegahan, bukan sekadar pembersihan setelah api padam.
Peringatan ini juga menyingkap betapa rapuhnya keseimbangan mikroklimat gua. Pengelola membatasi pengunjung maksimal lima orang dalam satu gua untuk mengendalikan suhu dan kelembapan; jika kehadiran manusia saja perlu diatur, paparan panas karhutla jelas tidak boleh dipandang ringan.
Kebakaran Meluas, Perlindungan Harus Mengikuti
Kebakaran terjadi saat musim kering diperburuk fenomena El Niño, yang meningkatkan suhu dan mengurangi curah hujan. Luas lahan terbakar di taman nasional tercatat lebih dari 270 hektare sepanjang 30 September hingga 18 Oktober. Catatan lain menunjukkan area hangus meningkat dari 34,74 hektare pada 12 Oktober menjadi 93,43 hektare pada 15 Oktober. Skala dan perkembangannya menunjukkan bahwa ancaman bagi situs purbakala bukan kejadian terisolasi, melainkan bagian dari kebakaran yang meluas di bentang karst.
Kerusakan juga menjalar ke luar gua. Kebakaran merusak vegetasi karst serta mengancam habitat satwa endemik yang dilindungi dan keanekaragaman hayati setempat. Petugas masih berupaya memadamkan api di bagian lain taman nasional pada 22 dan 23 Oktober. Setelah pemadaman, pemantauan suhu, kelembapan, jelaga, dan kondisi pigmen perlu menjadi bagian dari respons, bersama pencegahan titik api agar tidak kembali mendekati situs.
Warisan yang Tidak Bisa Dipulihkan
Kawasan Maros-Pangkep bukan hanya bentang alam karst, tetapi arsip terbuka tentang kehidupan manusia purba. Lukisan hewan dan cap tangan di gua-gua kapurnya berusia lebih dari 45.000 tahun. Nilai itu membuat perlindungan situs seharusnya menjadi prioritas dalam strategi penanganan karhutla, bukan urusan yang baru dibahas setelah kebakaran berlalu. Pemadaman cepat, pemantauan dampak panas dan asap, serta koordinasi antara petugas kebakaran dan pelestari cagar budaya adalah langkah yang masuk akal untuk mengurangi risiko.
Karhutla Sulawesi Selatan menguji apakah perlindungan warisan purbakala mampu bergerak secepat api. Panas bisa meretakkan batu dan mengelupaskan pigmen; jelaga bisa menutupi gambar yang bertahan puluhan ribu tahun. Jika respons hanya berfokus pada batas api, ancaman tak kasatmata akan luput. Kesimpulannya jelas: menyelamatkan lukisan gua prasejarah Maros-Pangkep memerlukan mitigasi kebakaran sekaligus pengawasan kondisi gua sebelum kerusakan menjadi permanen.






