Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kabut Asap Karhutla dan Krisis Kesehatan Jiwa

Kabut Asap Karhutla dan Krisis Kesehatan Jiwa
Minat|Kesehatan Mental

Kabut Asap Karhutla: Dari Ancaman Fisik Menjadi Krisis Psikologis

Kabut asap karhutla adalah kondisi udara tercemar partikel halus dan zat berbahaya akibat kebakaran hutan dan lahan yang berkepanjangan, yang tidak hanya merusak ekosistem dan mengganggu aktivitas sosial ekonomi, pendidikan, serta pekerjaan, tetapi juga memicu gangguan kesehatan jiwa berupa stres, kecemasan, dan perubahan perilaku pada masyarakat yang terpapar dalam jangka waktu lama. Poin pentingnya: kabut asap karhutla bukan sekadar masalah paru-paru, melainkan krisis kesehatan jiwa yang pelan-pelan menggerus ketahanan psikologis warga. Data pemantauan menunjukkan luas karhutla mencapai 202.004,30 hektare pada Januari–Juli 2026, meningkat sekitar 69 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan ini berarti jutaan orang hidup dalam bayang-bayang langit kelabu, rutinitas terganggu, dan rasa aman yang terkikis. Menganggapnya hanya sebagai “musim asap” adalah sikap abai terhadap dampak mental yang nyata.

Ketika Ekosistem Terbakar, Psikologi Warga Ikut Runtuh

Kebakaran hutan dan lahan adalah ecological disturbance yang mengubah struktur, komposisi, dan proses ekosistem; namun gangguan itu merembet ke kehidupan batin manusia. Webinar “Bencana dalam Perspektif Ekologi dan Psikologi” yang digelar oleh Dedikasi Untuk Negeri (DUN) menegaskan bahwa penanganan karhutla harus memulihkan ekosistem sekaligus mendukung ketangguhan manusia. Di lapangan, kabut asap memaksa orang membatasi aktivitas di luar rumah, menunda pekerjaan, dan mengurangi interaksi sosial. Perubahan mendadak ini adalah resep klasik bagi stres lingkungan: rasa terkurung, kehilangan kontrol, dan ketidakpastian berkepanjangan. Ketika penanganan karhutla masih berlangsung di berbagai wilayah hingga akhir September, artinya warga hidup berbulan-bulan dalam situasi darurat yang tidak jelas ujungnya. Tanpa pemulihan psikologis yang terstruktur, kita sedang membiarkan trauma kolektif tumbuh di atas tanah yang hangus.

Mengenali Gejala Stres Akibat Kabut Asap Karhutla

Kabut asap karhutla yang berkepanjangan memicu gejala stres yang sering disalahartikan sebagai “capek biasa”. Perubahan rutinitas, terbatasnya aktivitas di luar rumah, dan terganggunya kegiatan sosial serta pekerjaan dapat memicu stres dan kecemasan. Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, mengingatkan bahwa kabut asap berkepanjangan dapat menimbulkan gangguan kesehatan jiwa ketika aktivitas sosial ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan terganggu. Gejalanya antara lain sulit tidur, mudah marah, cemas berlebihan terhadap kualitas udara, merasa tidak berdaya, hingga menarik diri dari interaksi. Pada anak, stres bisa muncul sebagai rewel, sulit berkonsentrasi, atau menolak belajar. Ketika keluhan emosional dan fisik menetap dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, itu bukan lagi keluhan sepele, melainkan sinyal bahwa bantuan profesional dibutuhkan. Mengabaikan gejala ini sama saja membiarkan kabut asap menembus batas paru-paru dan menguasai pikiran.

Kabut Asap, ISPA, dan Beban Ganda pada Kesehatan Mental

Paparan kabut asap karhutla menciptakan beban ganda: tubuh sakit, pikiran tertekan. Kemenkes mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif hingga 12 Oktober di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak, dengan 62.400 kasus atau sekitar 22,5% terjadi pada anak berusia 0–5 tahun. Angka ini bukan sekadar statistik medis; setiap batuk berkepanjangan, sesak napas, dan kunjungan ke fasilitas kesehatan menambah kecemasan orang tua. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis adalah kelompok paling rentan terhadap partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya dalam asap. Ketika rumah tidak lagi terasa aman karena udara di luar beracun, rasa waswas menjadi latar belakang setiap keputusan sehari-hari. Di titik ini, gangguan kesehatan jiwa bukan kemungkinan, melainkan konsekuensi yang hampir tak terelakkan jika dukungan psikososial tidak segera diperkuat.

Menuju Pemulihan Psikologis: Dari Ruang Kelas Daring ke Kebijakan Nyata

Webinar DUN yang menghadirkan pakar ekologi Hirmas F. Putra dan psikolog Rizqi Solekhah menunjukkan arah yang tepat: bencana harus dipahami sebagai peristiwa ekologis sekaligus psikologis. Namun diskusi tidak cukup jika tidak diikuti kebijakan yang menempatkan pemulihan psikologis setara dengan pemulihan ekosistem. Kemenkes sudah mengimbau agar anak tetap beraktivitas di dalam ruangan dengan udara lebih bersih dan mendorong masyarakat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan bila keluhan menetap. Langkah ini perlu diperluas menjadi layanan psikososial terintegrasi di wilayah terdampak, mulai dari konseling, kelompok dukungan, hingga edukasi tentang stres lingkungan. Intinya, pemulihan karhutla tidak boleh berhenti pada menurunnya titik api; ia baru bisa disebut tuntas ketika warga kembali merasa aman, mampu berfungsi, dan tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang kabut asap karhutla.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!