Ancaman yang melampaui batuk dan sesak
Asap kebakaran hutan dan lahan adalah campuran polutan yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan mengganggu kesehatan anak, baik saat paparan berlangsung maupun bertahun-tahun sesudahnya. Inilah alasan asap karhutla anak tidak boleh dipandang sebagai gangguan musiman yang selesai ketika langit kembali cerah. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan bahwa paparan kronis dapat menghambat pertumbuhan paru secara permanen, meningkatkan risiko asma persisten dan penyakit paru obstruktif kronis, serta berkaitan dengan stunting dan kemungkinan gangguan kognitif. Anak lebih rentan karena paru-parunya masih berkembang dan napasnya lebih cepat daripada napas orang dewasa. Partikel halus PM2,5 dapat mencapai bagian terdalam paru, memicu peradangan, dan melemahkan pertahanan saluran napas. Karena itu, dampak asap pada anak menuntut pencegahan dan pemantauan, bukan hanya penanganan ketika gejala muncul.
Bukti jangka panjang memperjelas taruhannya. Studi terhadap kebakaran besar pada 1997 menemukan kapasitas paru yang lebih rendah hingga 10 tahun kemudian. Paparan sejak dalam kandungan juga dikaitkan dengan dampak pertumbuhan yang bertahan 10 hingga 17 tahun, termasuk risiko stunting. Angka-angka ini bukan alasan untuk menyimpulkan nasib setiap anak, tetapi cukup untuk menolak anggapan bahwa udara berasap hanya menimbulkan keluhan sementara. Perlindungan paru anak harus dimulai saat kualitas udara memburuk.

Risiko akut: ISPA, pneumonia, dan asma
Ketika kabut asap melanda, kekhawatiran paling dekat adalah gangguan pernapasan yang dapat memburuk cepat. Paparan asap bisa memperparah asma dan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran pernapasan bawah, termasuk pneumonia. Pada 2026, fasilitas kesehatan di Kalimantan Selatan mencatat lonjakan rawat jalan dan rawat inap anak akibat infeksi pernapasan serta asma seiring puncak kemarau dan meningkatnya karhutla. Hubungan waktu ini memperkuat alasan untuk bertindak sebelum anak sakit, bukan menunggu ruang perawatan penuh.
Iritasi paru, serangan asma, dan pneumonia infeksius dapat menimbulkan gejala yang mirip, sehingga orang tua sebaiknya tidak menebak penyebab atau memberi obat tanpa arahan tenaga kesehatan. Antibiotik tidak selalu diperlukan untuk gangguan pernapasan akibat asap. Batuk atau mengi berulang patut dipantau, terutama jika tidak mereda atau mengganggu aktivitas dan tidur. Sesak napas atau kondisi yang memburuk memerlukan penilaian medis. Kewaspadaan ini penting: asap bukan hanya membuat anak tidak nyaman, tetapi dapat bertepatan dengan meningkatnya risiko penyakit saluran napas.

Pindahkan anak ke ruang yang lebih aman
Saat kualitas udara memburuk, mengurangi paparan langsung lebih masuk akal daripada mengandalkan masker sebagai satu-satunya perlindungan. Balita sering tidak betah memakai masker; seorang dokter anak menyebut anak usia sekitar dua tahun dapat melepasnya, dengan pemakaian yang dalam pengamatan hanya bertahan sekitar 60 menit hingga dua jam. Orang tua sebaiknya membawa anak—terutama bayi, balita, dan anak dengan penyakit penyerta—ke ruang tertutup yang lebih aman atau lingkungan terkontrol. Rumah aman dengan penyaring udara yang memadai maupun tempat pengungsian yang lebih terlindung dapat membantu menekan paparan. Jika memungkinkan, ikuti informasi kualitas udara dan manfaatkan ruang bersih yang tersedia di sekolah atau fasilitas setempat.
Untuk lindungi anak dari asap, kurangi kegiatan di luar saat udara tercemar dan hindari menambah polusi di dalam rumah: jangan merokok di rumah, jaga kebersihan, dan pastikan anak mendapat imunisasi lengkap serta nutrisi yang baik. Langkah-langkah ini tidak menghapus risiko karhutla, tetapi mengurangi beban pada saluran napas anak. Perlindungan juga tidak semestinya dibebankan kepada keluarga saja. Pemantauan udara, penyediaan ruang bersih di sekolah, tempat aman dengan penyaring yang layak, dan pencegahan kebakaran perlu menjadi tanggung jawab bersama.

Pemantauan tetap perlu setelah asap reda
Saat paparan kronis pernah terjadi, berakhirnya kabut asap bukan tanda bahwa pemantauan boleh berhenti. Ukur tinggi dan berat badan anak secara berkala, perhatikan perkembangan, dan catat batuk atau mengi yang berulang. Dokter dapat menilai kontrol asma dan mempertimbangkan uji fungsi paru bila tersedia. Pemeriksaan membantu mengenali masalah lebih awal, tetapi tidak berarti semua anak yang terpapar pasti mengalami kerusakan. Pendekatan yang tepat adalah memantau dengan tenang dan mencari penilaian medis ketika muncul gejala atau kekhawatiran tentang tumbuh kembang.
IDAI menekankan pemantauan jangka panjang bagi anak terdampak, sementara Universitas Indonesia dan Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja merencanakan studi tentang dampak kesehatan pascakebakaran pada pekerja dan masyarakat. Rencana penelitian dapat memperkuat dasar perlindungan ke depan, tetapi keluarga tidak perlu menunggu hasilnya untuk mengurangi paparan sekarang. Kesimpulannya jelas: ketika udara memburuk, pindahkan anak ke ruang yang lebih aman; sesudahnya, pantau pernapasan dan pertumbuhannya. Menjaga paru anak berarti bertindak sebelum kerusakan menjadi keluhan yang menetap.






