Jalur alternatif masih berupa rencana yang perlu diuji
Jalur alternatif Jawa–Bali adalah layanan penyeberangan tambahan yang menghubungkan pelabuhan di Jawa Timur dengan Pelabuhan Celukan Bawang di Bali untuk membagi arus kendaraan dari lintasan utama. Pemerintah menyiapkan Pelabuhan Jangkar, Pelabuhan Tanjung Wangi, dan Celukan Bawang menghadapi lonjakan penyeberangan Nataru 2026/2027. Gagasan ini tepat, tetapi kesiapan dermaga saja belum cukup untuk menjanjikan perjalanan yang lancar: keputusan rute, kapal, jadwal, keselamatan, dan koordinasi antarpelabuhan masih harus dibereskan. Rencana tersebut menjadi penting setelah antrean Ketapang–Gilimanuk pada akhir September 2026 mencapai 13 kilometer di Ketapang dan 6,6 kilometer di Gilimanuk, sementara kapasitas penyeberangan turun 20 persen akibat pekerjaan peningkatan dermaga. Dari 58 kapal yang biasanya beroperasi, hanya 24–28 kapal yang dapat beroperasi dalam kondisi itu.
Tekanan berpotensi bertambah saat libur akhir tahun karena Tol Probolinggo–Banyuwangi diperkirakan mendorong lebih banyak kendaraan menuju Bali. Maka, menyediakan jalur lain bukan sekadar opsi tambahan; langkah ini merupakan cara mengurangi ketergantungan pada satu lintasan yang sedang terbatas kapasitasnya. Namun manfaatnya bagi pengguna baru nyata jika layanan alternatif benar-benar beroperasi dan informasinya diumumkan sebelum perjalanan.

Celukan Bawang hampir siap, tetapi lampu hijau belum menyala
Dermaga 3 Pelabuhan Celukan Bawang diproyeksikan melayani kapal Ro-Ro dan hampir rampung. Pada akhir Oktober, progres pekerjaan dilaporkan lebih dari 80 persen; pembaruan pada 5 November menyebut kesiapan fasilitas telah mencapai 99 persen. Pekerjaan mencakup akses dermaga, pengerasan jalan, penerangan, dan rambu. Dermaga ini dirancang untuk mendukung kendaraan golongan VA dan VB, termasuk kendaraan pribadi sesuai klasifikasi yang ditetapkan. Meski begitu, angka kesiapan fisik bukan tanda bahwa penyeberangan sudah dapat dibeli atau dijadwalkan. Asesmen keselamatan dan kesiapan operasional masih diperlukan, sedangkan keputusan mengenai lintasan, spesifikasi serta jumlah kapal, dan jadwal pelayaran menunggu arahan Kementerian Perhubungan.
Kepala KSOP Kelas IV Celukan Bawang, Taufikur Rahman, merekomendasikan uji coba penyandaran kapal Ro-Ro pada November 2026 untuk mengukur kesiapan teknis dan operasional. Uji coba itu semestinya dipandang sebagai syarat penting, bukan formalitas menjelang pembukaan layanan. Dermaga 2 juga melayani kapal kargo dan kapal pesiar, sehingga penggunaan Dermaga 3 serta jadwalnya perlu diatur agar layanan baru tidak mengganggu kegiatan pelabuhan yang sudah berjalan.
Tanjung Wangi siap, sedangkan Jangkar menunggu kepastian
Pemerintah mengkaji dua lintasan menuju Celukan Bawang: dari Tanjung Wangi di Banyuwangi dan dari Jangkar di Situbondo. Keduanya bukan pengganti langsung Ketapang–Gilimanuk karena jarak dan waktu tempuhnya jauh lebih panjang. Kajian teknis memperkirakan Tanjung Wangi–Celukan Bawang berjarak sekitar 57 kilometer dengan waktu tempuh 2,8 jam, sedangkan Jangkar–Celukan Bawang sekitar 100 kilometer dan 4,9 jam. Sebagai pembanding, Ketapang–Gilimanuk sekitar 7 kilometer dengan perkiraan perjalanan 0,3 jam. Perbedaan ini menegaskan bahwa alternatif dapat membagi antrean, tetapi belum tentu cocok bagi setiap pengguna yang mengutamakan waktu tempuh singkat.
Pengelola Tanjung Wangi menyatakan pelabuhannya siap jika mendapat instruksi pusat dan telah melayani rute menuju Gilimas dengan lima kapal. Namun, pembahasan resmi rute ke Celukan Bawang belum dimulai. Di Jangkar, arah rencana sudah disebut, tetapi jadwal kapal, frekuensi, dan jenis armada belum ditetapkan; seluruhnya menunggu persetujuan Kementerian Perhubungan demi keselamatan dan kelancaran pelayaran. Karena itu, kesiapan umum sebuah pelabuhan tidak sama dengan kesiapan layanan pada rute baru.
Untuk pengguna, pesan praktisnya sederhana: jangan mengubah rencana perjalanan dengan mengandalkan lintasan Jangkar atau Tanjung Wangi sebelum pemerintah mengumumkan jadwal dan layanan resmi. Jalur alternatif Jawa Bali akan berguna bila informasi keberangkatan, kapasitas kendaraan, dan akses menuju pelabuhan tersedia dengan jelas.

Keberhasilan diukur dari operasi, bukan dari kesiapan dermaga
Rute alternatif direncanakan untuk kendaraan pribadi dan angkutan barang golongan V ke bawah, dengan Dermaga 3 Celukan Bawang diproyeksikan mendukung kendaraan golongan V berkapasitas sekitar 12 ton. Pembatasan ini membantu menetapkan sasaran layanan, tetapi juga berarti tidak semua kendaraan dapat beralih dari lintasan utama. Pemerintah perlu mengumumkan kategori kendaraan yang diterima, titik keberangkatan, jadwal, serta mekanisme pemesanan sebelum puncak arus Nataru agar pengendara tidak tiba di pelabuhan tanpa kepastian.
Kesimpulannya, tiga pelabuhan ini menawarkan penyangga yang masuk akal bagi lintasan Ketapang–Gilimanuk yang pernah mengalami antrean panjang. Celukan Bawang sudah dekat siap secara fisik, Tanjung Wangi menyatakan kesiapan, dan Jangkar masuk dalam rencana. Tetapi sampai keputusan Menteri Perhubungan, asesmen keselamatan, uji sandar, armada, dan jadwal dituntaskan, jalur tersebut belum menjadi solusi yang dapat diandalkan. Pemerintah sebaiknya menilai keberhasilan penyeberangan Nataru dari layanan yang benar-benar berjalan dan mampu mengurai antrean, bukan dari persentase pembangunan dermaga semata.






