Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Pelabuhan Muaro Disiapkan Menjadi Pusat Wisata Maritim Terpadu

Pelabuhan Muaro Disiapkan Menjadi Pusat Wisata Maritim Terpadu
Minat|Asia Tenggara

Pelabuhan yang Menjadi Gerbang, Bukan Sekadar Tempat Transit

Revitalisasi Pelabuhan Muaro Padang adalah upaya memperbarui dermaga dan layanan laut sekaligus menautkannya dengan kawasan bersejarah, sungai, serta kegiatan wisata dan usaha lokal dalam satu rencana pengembangan pesisir. Arah itu penting bagi kota yang ingin menjadikan perjalanan laut sebagai awal pengalaman wisata, bukan hanya urusan naik dan turun kapal. Pada 27 Oktober 2026, Wali Kota Padang Fadly Amran mendampingi COO Danantara Indonesia sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria meninjau pelabuhan hingga Kota Tua. Pemko Padang, Danantara Indonesia, dan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) mendorong revitalisasi sebagai bagian dari pengembangan wisata maritim yang terhubung dengan Kota Tua dan Batang Arau. Dorongan ini muncul saat fasilitas yang tersedia dinilai belum sebanding dengan kebutuhan penumpang. Dermaga melayani sekitar 500 hingga 1.000 wisatawan setiap hari, sebagian besar menuju Mentawai. Maka, peningkatan kenyamanan dan mutu layanan bukan pelengkap pariwisata, melainkan kebutuhan dasar.

Satu Rencana untuk Muaro, Batang Arau, dan Kota Tua

Nilai utama proyek ini terletak pada keterhubungannya. Jika pelabuhan dibenahi tanpa menata kawasan di sekitarnya, wisatawan bisa tetap datang dan pergi tanpa mengenal sejarah, kuliner, atau ruang pesisir Padang. Karena itu, rencana infrastruktur pelabuhan terintegrasi mencakup penyatuan terminal penumpang Mentawai Fast dengan Maritim Center di Muaro, penataan kapal wisata, serta pembenahan sungai dan drainase dalam satu master plan. Rencana lebih luas untuk Sungai Batang Arau dibahas pada 25 Oktober 2026 bersama Focus Architects + Urban Planner. Usulannya meliputi jembatan yang menghubungkan pesisir dengan Gunung Padang, Pasar Nelayan, Maritim Center, Marina Center, pasar malam Batang Arau, fasilitas jeti, restoran makanan laut, dan penataan Kota Tua. Wali kota mendorong kawasan sungai ini menjadi destinasi berstandar internasional yang terintegrasi dengan Kota Tua Padang. Namun, standar internasional tidak lahir dari daftar bangunan saja: akses, kenyamanan, dan karakter sejarah harus dirancang sebagai satu pengalaman.

Pelabuhan Muaro Disiapkan Menjadi Pusat Wisata Maritim Terpadu

Wisata yang Menggerakkan Usaha Warga

Wisata maritim Muaro akan lebih berarti jika manfaatnya terasa di luar area dermaga. Pelabuhan yang nyaman dapat mendorong pengunjung menyisihkan waktu untuk menjelajahi bangunan bersejarah, kawasan sungai, kuliner, dan usaha kreatif. Pemerintah kota berharap penataan kawasan memperpanjang kunjungan dan mengarahkan belanja wisatawan kepada UMKM, pedagang, pelaku kuliner, serta penyedia jasa pariwisata. Inilah ukuran yang patut dipakai untuk menilai ekonomi wisata pesisir: bukan hanya ramai dikunjungi, tetapi juga memberi peluang bagi warga setempat. Pengembangan Muaro hingga Kota Tua sejalan dengan Program Unggulan Jelajah Padang, yang berfokus pada kawasan pesisir dan destinasi wisata kota. Sementara itu, integrasi fungsi wisata, perikanan, dan jasa maritim dipandang dapat menghidupkan Batang Arau sepanjang hari. Arah tersebut masuk akal karena aktivitas yang beragam dapat membuat kawasan tetap berguna bagi warga, bukan hanya saat kapal berangkat atau wisatawan berkunjung. Pengembangan Kota Tua Padang pun perlu mempertahankan nilai sejarah sembari membuka ruang bagi kegiatan ekonomi yang sesuai dengan karakter kawasan.

Ujian Berikutnya: Pelaksanaan yang Konsisten

Rencana besar akan kehilangan daya tarik bila berhenti sebagai gambar master plan. Langkah lanjutan yang disebutkan adalah proses lelang pembangunan Maritim Center yang telah dimulai Pelindo. Proyek itu ditargetkan memasuki tahap peletakan batu pertama pada Desember 2026, dengan pelaksanaan tetap bergantung pada hasil lelang dan persetujuan kantor pusat. Untuk Batang Arau, usulan master plan mencakup bentang dari kawasan Masjid Al-Hakim hingga Kota Tua Padang. Pemerintah perlu menjaga agar pengerjaan pelabuhan, sungai, dan kawasan bersejarah tidak berjalan dengan standar atau jadwal yang saling bertentangan. Keterlibatan pemerintah daerah, Danantara, Pelindo, dan pemangku kepentingan lain memberi peluang untuk menyatukan arah, tetapi keberhasilan akhirnya ditentukan oleh mutu layanan dan manfaat bagi warga. Revitalisasi pelabuhan Padang layak didukung karena menghubungkan kebutuhan transportasi dengan potensi wisata kota. Kesimpulannya, Muaro dapat menjadi gerbang maritim yang lebih kuat hanya jika pelabuhan, Kota Tua, dan Batang Arau tumbuh sebagai satu destinasi—dan ekonomi lokal menjadi bagian nyata dari hasilnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!