Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Program Edukasi Keuangan Digital Jangkau Ribuan Siswa Sekolah Menengah

Program Edukasi Keuangan Digital Jangkau Ribuan Siswa Sekolah Menengah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Mengapa Literasi Keuangan Siswa Harus Dimulai dari Uang Saku dan Ponsel

Program edukasi finansial digital untuk siswa sekolah menengah pertama adalah inisiatif terstruktur yang mengajarkan pengelolaan uang saku, penggunaan layanan keuangan digital, dan kewaspadaan terhadap penipuan siber remaja, dengan tujuan membentuk kebiasaan finansial yang aman dan cakap digital sejak usia 12–15 tahun. Permata Bank mengemas gagasan ini dalam program tanggung jawab sosial Permata CERITA (Cinta dan Edukasi dari Kita) yang digelar serentak di 24 kota pada 16 Oktober sebagai bagian perayaan ulang tahun ke-24 bank tersebut. Fokus pada literasi keuangan siswa bukan sekadar pilihan tema, melainkan respons atas fakta bahwa kelompok usia 15–17 tahun baru mencatat indeks literasi keuangan 56,04 persen, meski inklusi keuangan sudah jauh lebih tinggi. Artinya, remaja sudah dekat dengan layanan keuangan, tetapi belum cukup dibekali kemampuan mengelola risiko dan keputusan finansial.

Program Edukasi Keuangan Digital Jangkau Ribuan Siswa Sekolah Menengah

Permata CERITA: 24 Kota, Satu Strategi Membangun Kebiasaan Finansial Sejak Dini

Permata CERITA 2026 bukan sekadar kunjungan ke sekolah, melainkan kampanye literasi keuangan siswa yang dirancang sistematis dan masif. Program ini menyasar siswa SMP dan sekolah luar biasa di 24 kota dengan tema “24 Tahun, 24 Kota, 1 CERITA”, melibatkan lebih dari 500 relawan karyawan yang mendampingi siswa melalui pembelajaran praktis dan interaktif. Di Surabaya, misalnya, kegiatan berlangsung di SMP Dapena 1 dan menekankan pengelolaan uang saku, penentuan prioritas pengeluaran, serta kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Pendekatan ini tepat: uang jajan adalah laboratorium kecil tempat remaja belajar disiplin, menunda keinginan, dan menabung. Menurut Direktur Utama Permata Bank, literasi keuangan adalah bekal agar generasi muda tidak hanya cakap menggunakan layanan keuangan, tetapi juga bijak mengambil keputusan finansial.

Program Edukasi Keuangan Digital Jangkau Ribuan Siswa Sekolah Menengah

Metode 3A dan PeKA: Jawaban Konkret atas Ledakan Penipuan Siber Remaja

Jika literasi keuangan siswa berhenti pada cara menabung, ia tidak akan cukup kuat menghadapi penipuan siber remaja yang kian agresif. Data Indonesia Anti-Scam Centre menunjukkan 702.342 laporan penipuan antara 22 November 2024 hingga 30 September 2026, atau lebih dari 1.000 laporan per hari, dengan kerugian masyarakat yang dilaporkan mencapai Rp9,1 triliun. Dalam konteks ini, edukasi finansial digital Permata CERITA mengambil posisi tegas: siswa diajak memahami keamanan transaksi digital, risiko permainan daring dan judi online, serta pentingnya menjaga PIN, kode OTP, dan data pribadi. Kurikulum memasukkan metode 3A—Amati, Awasi, Adukan—agar remaja punya langkah konkret saat menemui aktivitas mencurigakan. Program ini juga mengaitkan prinsip PeKA (Peduli, Kenali, Adukan) dari bank sentral sebagai kerangka sikap kritis terhadap penipuan digital.

Dari Uang Jajan ke Masa Depan: Dampak Nyata di Kelas dan Dunia Digital

Dampak paling penting dari edukasi finansial digital bukan pada materi yang disampaikan, melainkan pada kebiasaan baru yang tumbuh di kalangan siswa. Melalui modul finansial cerdas dan sesi interaktif, remaja diajak mengenali perbedaan kebutuhan dan keinginan, mempertimbangkan pilihan, menentukan prioritas, menunda keinginan, serta menyisihkan uang untuk ditabung. Mereka juga belajar menggunakan QRIS dan transfer online secara bijak, bukan sekadar mengikuti tren belanja daring atau pembelian item gim melalui ponsel. Di sisi lain, pemahaman keamanan transaksi digital dan kejahatan siber membentuk kecakapan digital yang lebih matang: teknologi dipakai dengan hati-hati, bukan dengan rasa penasaran tanpa batas. Jika kebiasaan ini bertahan, program seperti Permata CERITA layak disebut investasi sosial jangka panjang, bukan hanya acara seremonial.

Kesimpulan: Literasi Finansial Digital Bukan Lagi Tambahan, Melainkan Kebutuhan Pokok

Realitas hari ini jelas: siswa SMP sudah memegang ponsel, mengakses pembayaran digital, dan berhadapan dengan risiko penipuan siber, sementara literasi keuangan mereka belum sekuat akses terhadap layanan keuangan. Dalam situasi seperti itu, program edukasi finansial digital yang menyentuh pengelolaan uang saku, keamanan transaksi digital, dan pencegahan penipuan bukan lagi bonus, melainkan kebutuhan pokok pendidikan. Permata CERITA menunjukkan bahwa tanggung jawab sosial perusahaan dapat mengambil bentuk yang relevan dan menyentuh kehidupan sehari-hari siswa: dari cara mereka membelanjakan uang jajan hingga bagaimana mereka merespons pesan mencurigakan di aplikasi. Tantangannya kini adalah keberlanjutan. Sekolah, orang tua, dan pelaku industri keuangan perlu menjadikan literasi keuangan siswa sebagai agenda bersama, agar kebiasaan finansial aman yang ditanam hari ini benar-benar menjadi fondasi masa depan yang lebih sehat secara finansial dan digital.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!