Bekal keuangan sejak bangku SMK
Literasi keuangan siswa adalah pemahaman dan keterampilan dasar untuk mengelola uang secara bijak, sehingga seseorang dapat membuat keputusan keuangan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Bekal ini penting bagi pelajar vokasi, yang tengah bersiap memasuki dunia kerja dan menghadapi tanggung jawab mengatur penghasilan maupun kebutuhan pribadi. Pada 27 Oktober 2026, FIFGROUP Cabang Kebumen mengadakan Jam Sosial Mengajar di SMK Negeri 1 Ambal untuk 87 siswa. Sehari kemudian, program serupa menjangkau 103 siswa SMK Negeri 1 Alian. Kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi keuangan SMK dapat dimulai sebelum siswa lulus, bukan hanya setelah mereka memperoleh penghasilan sendiri. Materi disampaikan secara interaktif dan disesuaikan dengan pemahaman peserta. Langkah ini patut diperluas: pengetahuan mengelola uang akan lebih berguna jika dibangun sejak pelajar mulai mengambil keputusan sehari-hari.

Dua sekolah, satu kebutuhan nyata
Kegiatan di Ambal diikuti 87 siswa pada Selasa, 27 Oktober, sedangkan sesi di Alian menjangkau 103 siswa pada Rabu, 28 Oktober 2026. Jumlah di Alian berarti program tersebut menjangkau lebih dari seratus pelajar dalam satu sekolah, sementara pelaksanaan di Ambal menyentuh puluhan siswa. Cakupan ini penting, tetapi nilai utamanya bukan sekadar angka kehadiran. Siswa perlu memahami cara mengelola uang dengan bijak sebagai bekal praktis untuk kehidupan sehari-hari. Bagi pelajar vokasi, pembelajaran semacam ini seharusnya melengkapi keterampilan teknis: kesiapan kerja juga mencakup kemampuan membuat keputusan keuangan yang bertanggung jawab. Karena itu, Jam Sosial Mengajar layak dinilai dari seberapa jauh pelajaran dapat diterapkan, bukan hanya dari banyaknya peserta.
Program sosial perlu diikuti penerapan
FIFGROUP mengajar melalui program tanggung jawab sosial yang mengusung edukasi literasi keuangan bagi pelajar. Perusahaan menyatakan Jam Sosial Mengajar merupakan bagian dari pilar FIFGROUP Pintar dan mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan poin keempat tentang pendidikan berkualitas. Program ini juga sejalan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 3 Tahun 2023 mengenai peningkatan literasi dan inklusi keuangan bagi konsumen dan masyarakat. Namun, keselarasan dengan kebijakan dan tujuan pendidikan baru bermakna bagi siswa jika pemahaman dari sesi interaktif itu dapat digunakan setelah kegiatan selesai. Sekolah dapat memperkuat dampaknya dengan menghubungkan materi ke situasi yang dekat dengan keseharian pelajar, sementara kegiatan lanjutan membantu memastikan dasar pengelolaan keuangan tidak berhenti sebagai pengetahuan sesaat.
Perluasan harus menjaga mutu
Pada 2026, Jam Sosial Mengajar direncanakan berlangsung melalui 262 cabang FIFGROUP di seluruh Indonesia, dengan sasaran sekitar 85 siswa per sekolah penerima manfaat; keterangan dari Ambal menyebut sedikitnya 85 siswa. Rencana tersebut memberi peluang untuk menjangkau lebih banyak generasi muda, tetapi perluasan tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah cabang atau peserta. Materi yang sesuai usia, penyampaian yang interaktif, serta kaitan dengan keputusan keuangan sehari-hari akan menentukan manfaatnya. Pengalaman Alian dan Ambal menawarkan pijakan yang baik: ratusan siswa mendapat pengenalan dasar melalui kegiatan di sekolah mereka. Tantangan berikutnya adalah menjaga agar edukasi serupa konsisten dan relevan di setiap tempat pelaksanaan.
Pada akhirnya, Jam Sosial Mengajar merupakan langkah yang berguna karena membawa literasi keuangan langsung kepada siswa SMK sebelum mereka menghadapi tanggung jawab finansial yang lebih besar. Jangkauan 87 siswa di Ambal dan 103 siswa di Alian menunjukkan adanya kebutuhan sekaligus kesempatan untuk memperluas edukasi ini. Dampak terbaiknya akan terlihat ketika pelajar mampu menerapkan kebiasaan mengelola uang secara bijak, bukan sekadar mengingat materi. Perluasan program patut didukung, dengan mutu pembelajaran dan penerapan nyata sebagai ukuran utamanya.






