Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Boikot hingga Inklusi: Revolusi Peragaan Busana Dalam

Dari Boikot hingga Inklusi: Revolusi Peragaan Busana Dalam
Minat|Pertunjukan Busana

Peragaan Busana Dalam Bukan Lagi Fantasi Satu Bentuk Tubuh

Peragaan busana dalam adalah pertunjukan fesyen yang menampilkan lingerie sebagai pusat perhatian, namun kini berkembang menjadi panggung opini sosial tentang tubuh, identitas, dan kekuasaan brand, di mana pilihan model, cara presentasi, dan narasi di baliknya dibaca sebagai pernyataan politik tentang siapa yang dianggap cantik dan layak dirayakan. Gelombang boikot pada 2018 memaksa salah satu brand terbesar menghentikan peragaan busananya setelah 23 tahun, di tengah penurunan penonton dan kritik keras atas kurangnya keberagaman. Pernyataan pejabat pemasarannya yang menolak model transgender dan plus size menjadi titik balik yang menggerus legitimasi citra “Angels” yang lama diagungkan. Sejak itu, setiap transformasi fashion show bukan sekadar strategi kreatif, tetapi manuver bertahan hidup di mata konsumen yang jauh lebih vokal.

Dari Boikot hingga Inklusi: Revolusi Peragaan Busana Dalam

Dari Boikot 2018 ke Panggung Inklusif: Brand Dipaksa Mendengar

Gelombang boikot 2018 bukan badai sesaat; ia mengungkap jurang antara fantasi lama brand dan realitas nilai penontonnya. Ketika publik mengecam penolakan terhadap model dengan beragam bentuk tubuh, termasuk transgender dan plus size, reputasi brand runtuh bersama rating acara. Keputusan menangguhkan peragaan busana dalam pada 2019 adalah pengakuan diam-diam bahwa formula lama sudah usang. Jawabannya muncul lewat transformasi fashion show: audisi “Angel Among Us” menghadirkan model kulit hitam, pekerja kelas bawah dan menengah, ibu menyusui, transgender, hingga plus size sebagai model inklusi panggung yang baru. Kutipan yang layak dicatat: “Saat ini, siapa pun bisa berjalan di atas panggung Victoria’s Secret, tanpa memandang bentuk tubuh, ukuran, atau tinggi badan”. Inklusi di sini bukan kemurahan hati, melainkan konsekuensi dari tekanan publik yang terorganisir.

Dari Boikot hingga Inklusi: Revolusi Peragaan Busana Dalam

Pergantian Roster: Antara Luka Para Veteran dan Standar Cantik Baru

Transformasi tidak datang tanpa korban. Tahun ini, sejumlah model veteran seperti Romee Strijd, Frida Aasen, dan Josephine Skriver tersingkir dari roster, memicu kekecewaan penggemar dan rasa sakit personal para model. Romee bahkan bercerita tentang proses audisi yang panjang, latihan intensif setelah melahirkan dua anak, dan penolakan yang diberitahukan terlambat hingga menimbulkan stres mental. Di mata banyak orang, ini tampak sebagai pengkhianatan terhadap wajah-wajah yang dulu membantu membangun kejayaan brand. Namun di sisi lain, perubahan casting dan presentasi jelas mencerminkan evolusi standar kecantikan di industri fashion internasional: panggung yang dulu eksklusif bagi tubuh super-ramping kini diisi model transgender seperti Valentina Sampaio dan Alex Consani, serta model plus size seperti Ashley Graham dan Paloma Elsesser. Perubahan ini menyakitkan bagi sebagian, tetapi membuka pintu bagi banyak yang sebelumnya tak terlihat.

Dari Boikot hingga Inklusi: Revolusi Peragaan Busana Dalam

Kylie Jenner dan Kontroversi Brand Fashion di Era Fandom

Masuknya Kylie Jenner sebagai pemakai Fantasy Bra dalam debutnya di panggung menjadi episentrum kontroversi brand fashion terbaru. Dengan pengalaman modeling yang terbatas, ia diberi salah satu posisi paling prestisius, sementara banyak Angels lama tersisih. Keputusan direktur kreatif untuk memilih figur dengan hampir 400 juta pengikut media sosial jelas bukan soal teknik berjalan, tetapi soal jangkauan pengaruh. Reaksinya terbelah: penggemar menganggap ini penghinaan terhadap model profesional, namun dari sisi bisnis, strategi ini memicu ledakan user generated content, dari analisis kreator fashion hingga obrolan receh di threads, tanpa brand perlu menggelontorkan promosi besar. Di era fandom, peragaan busana dalam berubah menjadi mesin percakapan: setiap langkah di catwalk dirancang agar bisa dipotong, diperdebatkan, dan diputar ulang di layar ponsel.

Dari Boikot hingga Inklusi: Revolusi Peragaan Busana Dalam

Inklusi sebagai Strategi Bisnis: Peluang Baru di Panggung Prestisius

Transformasi fashion show ini pada akhirnya adalah strategi rebranding yang memindahkan pusat gravitasi kekuasaan: dari brand ke komunitas. Dengan membuka audisi bagi model dari pekerja kelas bawah dan menengah, ibu menyusui, transgender, plus size, hingga non-model seperti Kylie Jenner, panggung prestisius yang dulu tertutup kini menjadi ruang negosiasi identitas baru. Konsumen merasakan dampaknya secara nyata: kepercayaan publik mulai pulih dan pelanggan merasa lebih dihargai serta dilibatkan dalam narasi brand. Bagi generasi muda yang akrab dengan konsep “self reward”, kombinasi inklusi dan kedekatan di media sosial mendorong pembelian yang lebih impulsif namun emosional. Ke depan, tantangannya adalah menjaga agar model inklusi panggung tidak berhenti sebagai gimmick. Jika brand kembali mengabaikan suara publik, siklus boikot bisa terulang. Inklusi harus diperlakukan sebagai komitmen jangka panjang, bukan sekadar tema musim ini.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!