Literasi tumbuh lewat akses dan kedekatan
Literasi anak adalah kemampuan dan kebiasaan memahami cerita, kosakata, serta informasi yang tumbuh melalui akses bahan bacaan dan interaksi sehari-hari dengan orang dewasa. Karena itu, membangun kebiasaan membaca tidak cukup dengan menyediakan buku: anak juga perlu diajak membuka halaman, bertanya, dan menikmati cerita bersama.
Dua kegiatan komunitas menunjukkan bagaimana dukungan itu bisa hadir dalam bentuk berbeda. YBM BRILiaN RO Pekanbaru mengadakan Book Picnic dan berbagi bantuan pada Senin (28/09), menjangkau 120 anak di empat panti asuhan. Sementara itu, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga menggelar pelatihan mendongeng untuk ibu-ibu di Desa Cerme Lor, Gresik, pada Minggu (25/10/2026). Keduanya menegaskan bahwa kegiatan membaca anak akan lebih bermakna saat buku dan pendamping hadir bersamaan.
Buku lebih berarti saat dibaca bersama
Dalam Book Picnic, para penerima Bright dan Smart Scholarship mendampingi anak-anak membaca buku dan belajar bersama. Sesudah sesi edukasi, tim membagikan puluhan buku bacaan serta bantuan sembako secara merata. Program itu menyasar Panti Asuhan As-Shohwah, Darul Ilmi, Rahmat Nur Hidayat, dan Putra Harapan.
Pemberian buku anak membuka peluang untuk membaca lebih sering, tetapi pendampinganlah yang membantu anak mengubah kesempatan itu menjadi pengalaman. Relawan dapat membacakan cerita, mengajak anak memilih buku, atau berbincang tentang isinya. Pola ini layak ditiru oleh komunitas lain: bantuan bahan bacaan akan lebih berdampak jika disertai ruang untuk membaca dan belajar bersama. Dukungan kebutuhan harian juga penting, tetapi tidak seharusnya menenggelamkan tujuan pendidikan yang menjadi inti kegiatan.
Mendongeng menguatkan kebiasaan di rumah
Pelatihan mendongeng bagi ibu-ibu PKK di Cerme Lor berangkat dari kekhawatiran bahwa tingginya penggunaan gawai dapat mengurangi interaksi langsung orang tua dan anak. Tim pengabdian masyarakat FIB Universitas Airlangga memperkenalkan mendongeng untuk anak sebagai kegiatan keluarga yang dapat mendukung literasi sekaligus menjadi alternatif waktu bersama tanpa perangkat digital.
Cerita bukan sekadar hiburan: kegiatan ini dapat membangun komunikasi, memperkenalkan kosakata, dan menumbuhkan minat anak pada literasi. Ketua tim PKK Desa Cerme Lor, Nur Farida, mengatakan para peserta terinspirasi untuk mendongeng di rumah agar anak tidak bergantung pada gawai sekaligus mengenal literasi. Dampak terpenting pelatihan seperti ini bukan acara sesaat, melainkan kebiasaan yang dapat diulang keluarga dengan cerita sederhana dan waktu yang konsisten.
Gerakan literasi perlu menjadi kerja bersama
Relawan, keluarga, komunitas, dan lembaga pendidikan membawa kekuatan yang berbeda. Penerima beasiswa mendampingi anak-anak di panti, sementara tim universitas, mahasiswa, pendongeng, dan ibu-ibu PKK membangun keterampilan bercerita di desa. Kolaborasi ini lebih menjanjikan daripada menyerahkan tanggung jawab literasi hanya kepada sekolah atau orang tua: akses, pendampingan, dan kebiasaan rumah saling melengkapi.
Langkah berikutnya perlu berupa kesinambungan. Tim pelatihan berharap praktik mendongeng terus diterapkan di keluarga dan diperluas ke desa lain, terutama dengan melibatkan ibu usia produktif. YBM BRILiaN juga berharap program serupa menjangkau lebih banyak anak melalui dukungan para donatur. Kesimpulannya, literasi anak tidak dibangun oleh satu kegiatan atau satu pihak. Buku yang mudah dijangkau, orang dewasa yang meluangkan waktu, dan komunitas yang menjaga semangat bersama dapat mengubah kegiatan sesaat menjadi kebiasaan membaca yang bertahan.






