Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lomba Mendongeng Dorong Literasi Anak Usia Dini

Lomba Mendongeng Dorong Literasi Anak Usia Dini
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Mendongeng sebagai Strategi Literasi, Bukan Sekadar Hiburan

Lomba mendongeng anak adalah kegiatan kompetitif di lingkungan pendidikan PAUD yang menempatkan aktivitas bercerita sebagai sarana utama untuk menumbuhkan literasi anak usia dini, menguatkan perkembangan bahasa anak, dan membangun kebiasaan berinteraksi dengan teks, tokoh, serta alur cerita melalui cara yang menyenangkan dan dekat dengan dunia imajinasi mereka. Dalam konteks pendidikan PAUD, mendongeng seharusnya dipandang sebagai strategi literasi, bukan hiburan tambahan yang bisa dihapus ketika jadwal padat. Ketika anak mendengar dan mengulang cerita, mereka sedang berlatih memahami struktur bahasa, menghubungkan sebab-akibat, dan membangun kosakata baru. Karena itu, lomba mendongeng yang digelar di berbagai daerah patut dibaca sebagai langkah politik pendidikan: menggeser literasi dari sekadar kemampuan teknis membaca-menulis menjadi budaya berbahasa yang hidup di kelas dan rumah.

Lomba Mendongeng Dorong Literasi Anak Usia Dini

Bunda PAUD Banjarmasin: Mendongeng untuk Menguatkan Budaya Literasi

Pembukaan Apresiasi Bunda PAUD Kecamatan dan Kelurahan serta Lomba Mendongeng Bunda PAUD Kelurahan di sebuah hotel di Banjarmasin pada Senin, 12 Oktober 2026 menegaskan arah baru penguatan literasi anak usia dini. Bunda PAUD Kota Banjarmasin, Hj. Neli Listriani Yamin HR, menggunakan panggung lomba mendongeng sebagai pernyataan politik pendidikan: literasi harus dimulai sejak dini dan ditopang oleh ekosistem yang peduli. Menurutnya, lomba mendongeng tidak boleh berhenti sebagai ajang mencari pemenang, melainkan ruang mengembangkan kreativitas dan menumbuhkan budaya literasi yang menyenangkan bagi anak. Pernyataan ini penting karena menggeser fokus dari kompetisi ke proses belajar. Ketika Bunda PAUD mengajak keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat untuk bersinergi, ia sedang membangun pesan bahwa keberhasilan literasi bukan tugas guru bahasa, melainkan tanggung jawab kolektif.

Momentum Kartini dan Penguatan Fondasi PAUD di Kalimantan Tengah

Di Palangka Raya, pembukaan Lomba Fashion Show dan Lomba Mewarnai bagi anak usia dini dalam rangka Hari Kartini ke-147 yang digelar di Aula Dinas Pendidikan pada 27 April 2026 memperluas makna literasi di PAUD. Gubernur Kalimantan Tengah, H. Agustiar Sabran, menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah fondasi utama pembentukan sikap, karakter, kecerdasan, dan kepribadian anak. Pernyataan ini menempatkan setiap lomba kreatif—termasuk mendongeng, fashion show, dan mewarnai—sebagai praktik pembelajaran yang menyenangkan, bukan dekorasi acara seremonial. Komitmen pemerintah provinsi untuk memperkuat akses dan pemerataan layanan PAUD, meningkatkan kualitas pendidikan, serta mengintegrasikan layanan dengan kesehatan, gizi, dan perlindungan anak menunjukkan bahwa literasi dipahami secara luas: bukan hanya kemampuan membaca, tetapi kemampuan memahami diri, budaya, dan lingkungan melalui berbagai medium ekspresi.

Komunitas PAUD dan Ekosistem Literasi yang Tumbuh Bersama

Baik di Banjarmasin maupun Palangka Raya, pola yang muncul sama: lomba mendongeng anak dan berbagai kegiatan kreatif PAUD digerakkan oleh jaringan Bunda PAUD, dinas pendidikan, organisasi perempuan, dan komunitas lokal. Di Banjarmasin, pemerintah kota berharap kolaborasi seluruh pihak semakin kuat untuk mewujudkan layanan PAUD yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan. Di Kalimantan Tengah, kegiatan Hari Kartini diikuti 150 peserta dari murid PAUD dan TK, dengan dukungan unsur OPD, Bunda PAUD kota, dan dewan juri. Angka 150 peserta ini bukan sekadar statistik; ia menunjukkan bahwa ketika komunitas bergerak, ekosistem pembelajaran yang mendukung literasi anak usia dini mulai terbentuk. Lomba mendongeng dan kegiatan sejenis menjadi titik temu: guru, orang tua, pemerintah, dan anak berkumpul dalam satu ruang belajar yang mengakui pentingnya bahasa, cerita, dan keberanian tampil.

Kesimpulan: Menjadikan Mendongeng Praktik Harian di PAUD

Rangkaian lomba mendongeng anak dan kegiatan kreatif PAUD di Banjarmasin serta Palangka Raya menunjukkan bahwa literasi anak usia dini paling kuat tumbuh ketika cerita menjadi bagian dari keseharian, bukan acara tahunan. Ketika Bunda PAUD menempatkan mendongeng sebagai sarana mengembangkan kreativitas dan budaya literasi, ia sedang mengirim pesan bahwa perkembangan bahasa anak perlu dipupuk lewat interaksi yang hangat, bukan sekadar lembar kerja. Komitmen pemerintah daerah untuk memperluas akses pendidikan PAUD dan mengintegrasikannya dengan layanan lain memperkuat fondasi ini. Tantangannya kini adalah konsistensi: apakah praktik mendongeng akan terus hidup di kelas-kelas PAUD setelah lomba usai. Jika iya, maka lomba hanyalah pintu masuk menuju budaya literasi yang lebih kokoh, di mana setiap anak tumbuh dengan bahasa yang kaya dan rasa percaya diri untuk bercerita.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!