Budaya Baca Anak Lahir dari Pemimpin Komunitas, Bukan Sekadar Buku
Gerakan Bunda Literasi komunitas adalah inisiatif yang dipimpin tokoh lokal, terutama perempuan dan guru PAUD, yang menghubungkan keluarga, sekolah, perpustakaan, pemerintah, dan organisasi akar rumput untuk membangun budaya baca anak dan pendidikan nonformal daerah sebagai satu ekosistem, bukan rangkaian kegiatan seremonial yang berdiri sendiri tanpa dukungan berkelanjutan dari warga dan pemimpin sekitar. Di tengah gempuran gawai, langkah ini penting: anak tidak akan otomatis dekat dengan buku jika lingkaran terdekatnya—orang tua, kader, guru, bhabinkamtibmas—tidak menempatkan membaca sebagai kebiasaan harian. Karena itu, tokoh komunitas hari ini tidak hanya diukur dari kemampuan bicara di forum, tetapi dari keberanian mengubah kebijakan, memobilisasi relawan, dan menggeser cara pandang warga bahwa literasi adalah kebutuhan hidup, bukan hobi elitis.
Sulastri Agung Nugroho: Bunda Literasi yang Menjadikan Rumah Sebagai Sekolah Pertama
Penghargaan Apresiasi Swara Cantika (ASCA) 2026 yang diraih Sulastri Agung Nugroho sering dipandang sebagai prestise personal, padahal inti ceritanya jauh lebih politis: ini pengakuan bahwa kerja literasi paling efektif terjadi di rumah dan lingkungan sekitar, bukan hanya di ruang kelas formal. Sebagai Ketua TP PKK dan Bunda Literasi Pekanbaru, Sulastri menggerakkan kader hingga tingkat kecamatan dan kelurahan untuk menjadikan keluarga sebagai ruang pendidikan pertama bagi anak. Di sini peran perempuan tidak berhenti pada slogan "ibu adalah madrasah", melainkan berubah menjadi aksi kolektif: kelas parenting, sudut baca di posyandu, dan kampanye minat baca yang masuk ke obrolan arisan. Kutipan tegasnya merangkum gagasan itu: "Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mendidik anak, menjaga kesehatan keluarga, mengelola ekonomi, dan mengambil keputusan secara bijak".
Strategi Multi-Sektor: Guru PAUD, PKK, dan Bunda Literasi Komunitas
Keberhasilan program literasi lokal di Pekanbaru tidak muncul dari satu lembaga, melainkan dari strategi multi-sektor yang sengaja dirajut. Sebagai Bunda Literasi, Sulastri membangun kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perpustakaan, komunitas dan masyarakat untuk meningkatkan minat baca serta memperkuat literasi keluarga. Di lapangan, yang menjadi motor penggerak adalah figur-figur yang selama ini sering dianggap "pelengkap": guru PAUD, kader PKK, pengurus majelis taklim, hingga pegiat taman baca kecil di lingkungan RT. Pandangan bahwa pendidikan adalah urusan sekolah saja pelan-pelan dipatahkan melalui pendidikan nonformal daerah yang menjadikan ruang tamu, balai RW, dan teras masjid sebagai kelas literasi. Di titik ini, peran TP PKK menjadi strategis: organisasi yang sebelumnya dikenal sibuk dengan lomba memasak dan taman toga bertransformasi menjadi jaringan relawan literasi anak yang punya daya tekan sosial dan kedekatan emosional dengan keluarga di setiap sudut kota.
Kargo Baca Karimun: Ketika Buku Naik Sepeda dan Turun ke Gang-Gang
Jika Pekanbaru menguatkan literasi dari rumah, Kabupaten Karimun memilih jalan lain yang sama radikal: membawa buku keluar dari gedung dan mengayuhnya masuk ke gang-gang lewat program Kargo Baca. Bupati Ing Iskandarsyah memberi apresiasi kepada Kapolres Karimun, AKBP Yunita Stevani, atas dukungan dan inovasi memperluas akses bacaan masyarakat melalui Sepeda Kargo Baca. Program ini menghadirkan layanan literasi bergerak dengan memanfaatkan peran aktif Bhabinkamtibmas di tengah masyarakat. Secara politis, ini menarik: aparat keamanan yang biasanya identik dengan penindakan kini tampil sebagai kurir pengetahuan dan penjaga budaya baca anak. Bupati menilai gerakan literasi tidak cukup hanya dibangun lewat fasilitas formal; mendekatkan buku ke anak-anak di kampung, di pesisir, dan di wilayah perbatasan adalah investasi sumber daya manusia jangka panjang yang sering diabaikan dalam narasi pembangunan yang sibuk mengukur beton dan aspal.
Dari Penghargaan ke Ekosistem: Literasi Sebagai Agenda Masa Depan Daerah
Baik di Pekanbaru maupun di Karimun, pesan para pemimpinnya sama: penghargaan hanyalah titik koma, bukan titik akhir. Sulastri menegaskan pengakuan nasional yang diterimanya bukan tujuan akhir, melainkan motivasi untuk memperluas gerakan pendidikan, literasi dan pemberdayaan perempuan. Di Karimun, Bupati Ing Iskandarsyah menyebut Kargo Baca bukan sekadar sepeda pembawa buku, tetapi kendaraan kecil yang membawa cita-cita besar untuk masa depan literasi dan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Pernyataan itu penting karena mengikat literasi dengan arah kebijakan pembangunan sumber daya manusia nasional, bukan sekadar proyek lokal yang musiman. Kalau anak terbiasa melihat guru PAUD, Bunda Literasi komunitas, kader PKK, dan bhabinkamtibmas bersama-sama menggelar kegiatan baca, mereka belajar bahwa pengetahuan adalah urusan semua orang. Di situlah budaya baca anak tumbuh: ketika membaca bukan lagi tugas sekolah, melainkan norma sosial baru yang dipelihara komunitas.






