Kolaborasi akademik lintas benua: dari ruang kelas ke ekosistem pesisir
Kolaborasi universitas Indonesia Australia adalah bentuk kemitraan jangka panjang antara perguruan tinggi dan aktor kota yang menggabungkan pendidikan, riset berkelanjutan, serta inovasi kesehatan masyarakat untuk menjawab tantangan regional, mulai dari ekosistem pesisir, kota sehat, hingga pengelolaan mineral kritis sebagai penopang industri strategis modern. Kemitraan ini bukan lagi deretan MoU yang senyap di lemari arsip, melainkan jejaring aktif yang menghubungkan laboratorium, ruang kuliah, dan komunitas di lapangan. Di Oceania, kampus di kawasan ini memanfaatkan koneksi tersebut untuk membangun riset mineral kritis Oceania, memperkuat kapasitas kesehatan masyarakat, sekaligus menguji solusi teknologi baru di lingkungan pesisir dan perkotaan. Dengan skala pertemuan riset dan forum kota sehat yang melibatkan ribuan delegasi dan pemangku kepentingan lintas negara, pola kerja sama ini menunjukkan bahwa akses ke pengetahuan global kini ditentukan oleh keberanian kampus dan pemerintah daerah untuk terlibat, bukan sekadar oleh peringkat universitas.
Unhas–UQ: model baru kerja sama universitas Indonesia Australia
Pertemuan delegasi Universitas Hasanuddin dengan jajaran University of Queensland di sela IndOz Conference di Brisbane pada 1 September menandai babak baru kerja sama universitas Indonesia Australia yang lebih konkret dan saling menguntungkan. Program double degree program yang sudah berjalan untuk mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional dan Ilmu Komunikasi dengan skema 2 plus 2—dua tahun di Unhas lalu empat semester sebagai mahasiswa penuh waktu di kampus UQ St Lucia—menjadi bukti bahwa mobilitas mahasiswa bisa dirancang sebagai jalur karier global, bukan sekadar pengalaman singkat. Rencana perluasan ke Ekonomi Pembangunan dan Manajemen menunjukkan ambisi Unhas mendorong lebih banyak prodi berakreditasi unggul masuk ke orbit internasional. Di sisi lain, tawaran Unhas atas riset mineral kritis yang menjadi bahan penting industri militer, semikonduktor, dan kendaraan listrik adalah langkah strategis: kampus tidak hanya mengirim mahasiswa, tetapi turut mendesain agenda riset mineral kritis Oceania yang akan ditandatangani Oktober.
| Aspek kerja sama | Fokus Unhas–UQ | Dampak potensial |
|---|---|---|
| Akademik | Double degree program skema 2+2 | Lulusan dengan pengalaman studi lintas kampus dan jaringan global |
| Mobilitas | Magang dosen muda dan post doc di UQ | Kenaikan produktivitas riset dan kualitas publikasi ilmiah |
| Riset | Penelitian mineral kritis lintas kawasan | Kontribusi pada peta sumber daya dan kebijakan industri strategis |

Inovasi Seabug: kesehatan masyarakat dimulai dari laut
Kehadiran Prof. Fatma Lestari sebagai Guru Besar FKM UI dan Kepala Risk Reduction Center UI di International Coral Reef Symposium (ICRS) di Auckland mengirim pesan tegas: inovasi kesehatan masyarakat tidak bisa dipisahkan dari kesehatan ekosistem pesisir. ICRS 2026 mempertemukan lebih dari 2.100 delegasi dari 90 negara dan menyoroti kawasan Pasifik sebagai rumah seperempat luas terumbu karang dunia. Di tengah forum ilmiah, Town Hall CORDAP dan diskusi lintas disiplin, Prof. Fatma memperkenalkan Seabug, wahana tanpa awak berbasis Internet of Things yang dikembangkan untuk membantu mendeteksi serta mengurangi pencemaran minyak, logam berat, dan mikroplastik di wilayah pesisir serta terumbu karang. Inovasi ini adalah bentuk nyata kerja sama riset berkelanjutan: teknologi yang disesuaikan dengan konteks lokal, tetapi disajikan di panggung global agar bisa diadaptasi lintas wilayah. Ketika pengasaman laut dan dampak aktivitas manusia menggerus ekosistem, solusi seperti Seabug menunjukkan bahwa perlindungan terumbu karang sekaligus pengurangan risiko kesehatan bagi masyarakat pesisir memerlukan kolaborasi ilmuwan, komunitas, dan lembaga pendanaan internasional dalam satu meja.
Makassar di Sydney: kota sehat sebagai laboratorium pengetahuan
Forum Kota Sehat ke-11 di kampus University of New South Wales di Sydney, yang berlangsung tiga hari pada 1–3 September, menjadi panggung penting bagi Makassar untuk menampilkan inovasi kesehatan perkotaan. Kota ini hadir sebagai satu-satunya wakil dari Pulau Sulawesi dan menunjukkan bahwa kerja sama universitas Indonesia Australia tidak hanya terjadi di ruang akademik, tetapi juga di ranah kebijakan kota dan inovasi layanan. Urban farming dikembangkan bukan sekadar demi suplai pangan, tetapi sebagai strategi pengelolaan lingkungan, pengurangan sampah, dan penguatan ketahanan pangan yang sejalan dengan target Makassar Zero Waste. Di sisi lain, super apps Lontara+ mencerminkan inovasi kesehatan masyarakat berbasis teknologi: integrasi ratusan aplikasi perangkat daerah ke satu platform yang memudahkan warga menyampaikan laporan atau kebutuhan layanan, termasuk kepada dinas kesehatan. Langkah ini menunjukkan bahwa kota sehat menuntut pendekatan lintas sektor—dari pangan hingga layanan publik digital—dan forum internasional memberi ruang bagi kota-kota yang bukan pusat global untuk saling bertukar strategi.
Mengikat Oceania dengan riset berkelanjutan dan pertukaran pengetahuan
Benang merah dari inisiatif Unhas–UQ, partisipasi FKM UI di ICRS, dan presentasi Makassar di Sydney adalah keberanian menjadikan kawasan Oceania sebagai ruang belajar bersama, bukan sekadar pasar kerja. Kerja sama penelitian mineral kritis, inovasi Seabug, urban farming, dan Lontara+ semuanya menunjukkan bahwa riset berkelanjutan dan inovasi kesehatan masyarakat di kawasan ini bergantung pada pertukaran akademik yang hidup: mahasiswa dan dosen lintas kampus, pakar terumbu karang lintas negara, serta birokrat kota yang mau membuka praktik mereka untuk dikritisi dan disempurnakan. Dalam forum CORDAP, rencana penguatan program ke depan dibahas melalui diskusi panel dan sesi terbuka, sementara Makassar menegaskan arah kebijakan agar pelayanan kesehatan mudah, tepat, dan gratis untuk semua warga. Unhas dan UQ pun menyiapkan New Colombo Plan pada 2027 sebagai kanal baru mobilitas mahasiswa dan pengalaman lapangan—dari posyandu hingga konservasi hutan dan pembuatan perahu Pinisi—yang mengikat pengetahuan lokal dengan jaringan global. Jika konsisten, jejaring seperti ini dapat mengubah cara kawasan memandang pendidikan tinggi: bukan lagi menara gading, tetapi simpul solusi konkret bagi tantangan regional.






