Edukasi langsung sebagai benteng awal
Pencegahan judi online di kalangan pelajar adalah upaya membekali remaja dengan pemahaman dan kewaspadaan agar mereka mampu mengenali risiko kejahatan digital serta menjauhi perilaku yang merugikan. Langkah ini penting karena pesan pencegahan akan lebih dekat dengan keseharian siswa ketika disampaikan langsung di lingkungan belajar dan kegiatan mereka. Dua kegiatan kepolisian menunjukkan pendekatan tersebut: pesan tentang bahaya judi online disampaikan dalam kemah kebangsaan di Cibubur, sementara edukasi sekolah digelar di SMP Negeri 5 Pangkalpinang. Keduanya tidak hanya menyoroti larangan, tetapi mengajak pelajar memahami kerentanan usia remaja terhadap pengaruh negatif. Bagi siswa, pesan praktisnya jelas: lebih bijak menggunakan teknologi komunikasi, waspada terhadap ancaman digital, dan menjaga hubungan saling menghormati. Pendidikan langsung seperti ini patut dipandang sebagai langkah pencegahan yang perlu melekat pada pengalaman sehari-hari, bukan sekadar imbauan sesaat.

Pesan kebangsaan juga menyinggung risiko remaja
Dalam kemah kebangsaan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Kepala Badan Intelijen Keamanan Mabes Polri Komjen Pol Dedy Kusuma Bakti mengingatkan pelajar agar menjauhi judi online dan narkoba. Ia menilai remaja rentan terhadap pengaruh negatif, termasuk tawuran pelajar dan berita bohong yang beredar di media sosial. Peringatan ini ditempatkan dalam kegiatan yang bertujuan menanamkan cinta tanah air, persatuan, dan tanggung jawab. Itu pilihan yang masuk akal: ketahanan terhadap ajakan berjudi tidak tumbuh hanya dari mengetahui risikonya, tetapi juga dari karakter, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab yang dipupuk bersama. Kemah kebangsaan dengan demikian menjadi ruang untuk menghubungkan pembentukan karakter dengan keputusan yang dihadapi pelajar dalam kehidupan sehari-hari. Namun, nilai-nilai tersebut akan lebih berarti jika diterjemahkan menjadi kebiasaan konkret saat menghadapi tawaran atau konten digital yang berisiko.
Di sekolah, pencegahan dibuat lebih konkret
Pada Senin, 26 Oktober 2026, Ditbinmas Polda Kepulauan Bangka Belitung mengadakan kegiatan edukatif di SMP Negeri 5 Pangkalpinang. Dipimpin AKP Nur Kodri, personel kepolisian membahas bahaya judi online yang marak menyasar remaja, modus penipuan digital, serta pencegahan perundungan atau bullying di sekolah. Cakupan ini penting: pelajar tidak hanya perlu mengenali risiko judi online pelajar, tetapi juga memahami cara menjaga diri dari penipuan dan membangun lingkungan yang saling menghormati. Siswa diingatkan agar bijak memanfaatkan teknologi komunikasi dan menghargai sesama. Dibanding pesan umum, edukasi bahaya judi di ruang kelas dapat lebih dekat dengan situasi yang mereka hadapi, selama materi disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan membuka ruang bertanya. Sekolah menjadi tempat strategis untuk membicarakan ancaman digital tanpa memisahkannya dari tanggung jawab sosial antarteman.
Pencegahan perlu melampaui satu kegiatan
Kemah kebangsaan dan penyuluhan di SMPN 5 Pangkalpinang memperlihatkan satu pendekatan yang sama: pencegahan judi online dimulai dengan hadir langsung di tengah pelajar dan memberi mereka pemahaman sejak dini. Pesan di Cibubur mengaitkan kewaspadaan terhadap judi online dengan pembentukan karakter dan persaudaraan, sedangkan kegiatan sekolah membahas risiko digital sekaligus bullying. Kombinasi ini lebih kuat daripada larangan semata karena menyentuh pilihan pribadi dan suasana pergaulan siswa. Namun, satu sesi edukasi bukan jaminan bahwa pelajar otomatis kebal terhadap bujukan atau tekanan lingkungan. Nilai kegiatan semacam ini terletak pada kemampuannya membuka percakapan dan memberi bekal yang bisa diterapkan: berpikir kritis sebelum merespons konten, berhati-hati memakai teknologi, serta saling menghormati. Arah pencegahannya tepat; konsistensi dan kedekatan dengan pengalaman siswa akan menentukan apakah pesan itu bertahan.






