Peringatan saja tidak cukup
Judi online adalah aktivitas taruhan melalui platform digital yang menjanjikan peluang menang, tetapi dapat membawa kerugian finansial, mengganggu belajar, dan menimbulkan konsekuensi hukum bagi pelajar. Karena itu, edukasi di sekolah seharusnya tidak berhenti pada larangan: siswa perlu memahami bagaimana bujukan bekerja dan apa akibat dari pilihan mereka.
Di Mataram, penyuluh hukum Kanwil Kemenkum NTB memberikan edukasi kepada siswa kelas X dan XI SMKN 4 Mataram pada Jumat, 23 Oktober 2026. Materinya mencakup bahaya judi online, cara bijak bermain game online, serta etika bermedia sosial. Tujuannya membantu siswa menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Cakupan itu penting: risiko tidak hanya muncul saat seseorang membuka situs taruhan, tetapi juga ketika ajakan, iklan, dan tautan menyebar melalui ruang digital yang mereka gunakan sehari-hari. Edukasi judol sekolah akan lebih berguna jika menghubungkan kebiasaan bermedia dengan kemampuan mengenali bahaya dan mengambil keputusan.
Literasi hukum dimulai sejak SMP
Pencegahan tidak seharusnya menunggu sampai siswa memasuki jenjang SMK. Pada Senin, 26 Oktober 2026, Kanwil Kemenkum NTB memberikan pemahaman hukum dan literasi digital kepada siswa kelas VII SMPN 15 Mataram. Kegiatan itu ditujukan untuk meningkatkan kesadaran hukum sekaligus mencegah dampak negatif game online dan judi online.
Materi bertajuk “Menjadi Remaja Keren tanpa Judi Online” dan “Bijak Bermain Game Online” mengarahkan siswa untuk membedakan aktivitas digital yang bermanfaat dari yang berisiko. Langkah ini menunjukkan bahwa literasi hukum siswa lebih efektif bila ditanamkan sejak dini, dengan bahasa dan contoh yang sesuai usia, bukan hanya disampaikan setelah masalah muncul.
Pendekatan lintas jenjang juga memberi kesinambungan: siswa SMP mulai mengenali batas dan risiko, sementara siswa SMK dapat memperdalam tanggung jawab bermedia serta konsekuensi tindakannya. Dengan bekal itu, pelajar tidak hanya mendengar bahwa judi online berbahaya, tetapi juga belajar mengenali situasi yang patut dihindari.
Risiko nyata dan konsekuensi hukum
Sosialisasi yang dibawakan mahasiswa hukum UNNES kepada siswa SMK Gajah Mada menghubungkan iming-iming kemenangan dengan akibat yang dekat dengan kehidupan pelajar. Alif Ramadhani Rusmaneka menjelaskan cara kerja judi online, risiko kehilangan uang, terganggunya konsentrasi belajar, dan masalah dalam hubungan dengan keluarga maupun teman. Ia juga membahas aspek hukum perjudian online dan pentingnya menaati aturan.
Risiko judol pelajar tidak berhenti pada kerugian finansial. Ketika konsentrasi belajar dan hubungan sosial terganggu, dampaknya dapat merembet ke keseharian siswa. Karena itu, siswa juga diingatkan agar tidak mudah tergiur iklan, tautan, atau ajakan bermain yang beredar di media sosial.
Peringatan yang disertai pemahaman hukum memberi alasan yang lebih kuat untuk menolak ajakan berjudi dan menghindari permainan yang mengandung unsur taruhan. Edukasi juga mengarahkan siswa untuk menjauhi aktivitas tersebut dan melaporkannya melalui saluran pengaduan yang sesuai jika menemukannya.

Bangun kecakapan, bukan sekadar rasa takut
Rangkaian edukasi di SMKN 4 Mataram, SMPN 15 Mataram, dan SMK Gajah Mada memperlihatkan bahwa pencegahan dapat melibatkan penyuluh hukum maupun mahasiswa, serta menjangkau tingkat sekolah yang berbeda. Nilai utamanya bukan banyaknya peringatan, melainkan bekal praktis untuk mengenali bujukan, memahami aturan, dan memilih tindakan yang aman.
Sekolah perlu menempatkan literasi digital dan literasi hukum sebagai bagian dari pendidikan sehari-hari. Siswa harus mampu menilai konten dan ajakan di internet, memahami bahwa perjudian memiliki konsekuensi hukum, serta mencari bantuan ketika menghadapi tekanan. Keluarga dan lingkungan pertemanan pun menjadi bagian dari konteks yang perlu dibahas, mengingat dampak judi online dapat menjalar ke hubungan sosial.
Kesimpulannya, bahaya judi online tidak dapat ditangkal dengan larangan singkat semata. Edukasi lintas jenjang yang menjelaskan risiko, etika digital, dan konsekuensi hukum memberi pelajar dasar lebih kuat untuk menolak ajakan berjudi dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.






