Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari 700 ke 114: Taruhan Terakhir Anak Sungai Palembang

Dari 700 ke 114: Taruhan Terakhir Anak Sungai Palembang
Minat|Asia Tenggara

Ketika Kota Tumbuh, Anak Sungai Palembang Menghilang

Krisis anak sungai Palembang adalah kondisi ketika jaringan sungai kecil yang dulu menopang kehidupan, sejarah, dan tata air kota menyusut drastis akibat pembangunan infrastruktur dan perubahan lahan, sehingga ekosistem air terancam, identitas kota melemah, dan risiko banjir serta genangan meningkat bagi warga yang hidup di sekitarnya.

Intinya tegas: jika 114 anak sungai yang tersisa tidak segera dirawat, Palembang kehilangan bukan hanya saluran air, tetapi juga memori kolektifnya. Data resmi menunjukkan, dari lebih dari 700-an anak sungai, kini hanya tersisa 114 yang perlu dijaga kelestariannya. Penyusutan ini bukan kebetulan; ia adalah konsekuensi langsung dari cara kota mengejar kemajuan. Perubahan kondisi daratan, kekeringan, dan pembangunan infrastruktur untuk pengembangan ekonomi daerah disebut sebagai faktor pendorong utama menyusutnya jaringan sungai kecil ini. Pertanyaannya sekarang: apakah modernisasi harus selalu dibayar dengan punahnya ekosistem air terancam yang menjadi fondasi kota sungai ini?

Dari 700 ke 114: Taruhan Terakhir Anak Sungai Palembang

Sungai sebagai Karakter Kota, Bukan Sekadar Saluran Drainase

Cara pemerintah kota berbicara tentang sungai menunjukkan pergeseran penting: dari beban drainase menjadi penentu karakter kota. Wali Kota Ratu Dewa menegaskan bahwa sungai memiliki peran vital sebagai jalur transportasi sekaligus menyimpan nilai sejarah dan budaya yang besar. Kota yang dikenal sebagai salah satu kota tertua ini memiliki 114 anak sungai yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah, kehidupan masyarakat, dan pembentukan karakter kota.

Di sini letak ironi Palembang: publik lebih mengingat Sungai Musi sebagai ikon, sementara ratusan anak sungai yang dulu menjadikannya “Venesia dari Timur” menghilang satu per satu. Seminar bertema “Lestarikan 114 Sungai di Kota Palembang” digelar bersama komunitas wartawan lingkungan dan para sejarawan untuk menghidupkan kembali kesadaran itu. Ratu Dewa bahkan menyebut forum ini bukan sekadar seremonial, melainkan wahana untuk melegitimasi sejarah dan mendokumentasikan sungai-sungai yang tersisa. Artinya, sungai diposisikan sebagai identitas, bukan ornamen.

Dari 700 ke 114: Taruhan Terakhir Anak Sungai Palembang

Modernisasi: Ancaman Bagi Ekosistem Air, Peluang Bagi Konservasi

Pembangunan infrastruktur di Palembang selama ini berjalan seolah sungai adalah ruang kosong yang boleh diisi beton. Penyusutan anak sungai dipengaruhi perubahan kondisi daratan, kekeringan, dan pembangunan infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi daerah. Dengan kata lain, modernisasi kota ikut mendorong ekosistem air terancam. Ketika anak sungai ditimbun atau dipersempit, kota kehilangan kapasitas alami untuk mengalirkan dan menyimpan air.

Namun, modernisasi juga membuka peluang jika diarahkan dengan benar. Pemerintah kota menyiapkan langkah konkret melalui revitalisasi anak sungai yang masih ada, sekaligus mengupayakan pemulihan fungsi sungai sebagai bagian dari sistem pengendalian air perkotaan. Dalam waktu dekat, program revitalisasi dengan dukungan kementerian teknis mencakup pembangunan tanggul dan pompa air untuk membantu mengurangi genangan, terutama di Kecamatan Kalidoni dan Sukarami, termasuk kawasan Simpang Polda. Di sini konservasi sungai kota mulai terlihat bukan sebagai penghambat pembangunan, melainkan solusi infrastruktur yang lebih cerdas.

Digitalisasi Data Sungai: Arsip, Alat Kendali, dan Ruang Partisipasi

Langkah paling menarik sekaligus strategis adalah dorongan digitalisasi data sungai. Wali Kota Ratu Dewa mendorong pengembangan digitalisasi data sejarah 114 anak sungai di kota sebagai sarana mendokumentasikan sejarah sungai sekaligus memudahkan masyarakat mengakses informasi mengenai warisan lingkungan yang membentuk identitas kota. Salah satu langkah yang ingin dikembangkan adalah digitalisasi data sejarah 114 sungai agar informasi mengenai sungai-sungai tersebut dapat dihimpun dalam sumber informasi yang mudah diakses dan diperbarui.

Pendataan sejarah 114 sungai disebut sebagai langkah strategis untuk menghimpun pengetahuan lokal, mendokumentasikan perjalanan sejarah, serta memperkuat pemahaman masyarakat bahwa sungai merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas kota. Jika digitalisasi data sungai dikerjakan serius—bukan sekadar proyek dokumentasi—ia bisa menjadi basis perencanaan tata ruang, pendidikan sejarah lokal, hingga pemantauan publik atas nasib tiap anak sungai Palembang. Di era ketika ruang fisik sungai menyempit, ruang digital bisa menjadi alat kendali dan ruang partisipasi warga.

Dari Seminar ke Aksi: Menjaga 114 Sungai Sebelum Tinggal Nama

Seminar dan wacana tidak akan menyelamatkan air jika berhenti di ruang rapat. Pemerintah kota sendiri mengakui, pelestarian anak sungai tidak hanya berkaitan dengan upaya menjaga lingkungan, tetapi juga menjadi salah satu langkah untuk meminimalkan genangan air yang masih terjadi di sejumlah titik kota. Merawat sungai berarti melindungi rumah warga dari genangan, bukan sekadar menjaga panorama.

Ratu Dewa mengingatkan bahwa sungai tidak boleh hanya tinggal dalam catatan sejarah; sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan harus kembali menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan kota. Di sini letak garis tegas: konservasi sungai kota harus diikat ke kebijakan tata ruang, bukan hanya ke nostalgia. Dengan jumlah yang kini tinggal 114 dari lebih dari 700 anak sungai, pelestarian membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat. Jika digitalisasi data sungai, revitalisasi fisik, dan edukasi generasi muda berjalan beriringan, Palembang masih punya peluang mengubah cerita dari kepunahan menjadi kebangkitan ekosistem airnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!