Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari 700 ke 114 Anak Sungai: Krisis Senyap Warisan Palembang

Dari 700 ke 114 Anak Sungai: Krisis Senyap Warisan Palembang
Minat|Asia Tenggara

Anak Sungai yang Menghilang: Krisis Identitas Kota Pelabuhan

Krisis anak sungai Palembang adalah kondisi menyusutnya jumlah anak sungai dari lebih 700 aliran menjadi hanya 114 sungai yang tersisa, sehingga mengancam identitas kota pelabuhan tua, melemahkan fungsi ekologis dan sosial sungai, serta memutus ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah dan karakter ruang hidup yang sejak awal dibentuk oleh jaringan sungai kecil yang mengalir menuju Sungai Musi.

Fakta bahwa dari 700-an anak sungai Palembang kini tinggal 114 bukan sekadar angka mengejutkan; ini alarm keras bahwa kota pelabuhan yang lahir dari air sedang kehilangan tulang punggung historisnya. Ketika sungai-sungai kecil tertimbun, dipersempit, atau dilupakan, yang hilang bukan hanya saluran air, tetapi peta memori kolektif: rute perdagangan lama, kampung-kampung tepian, hingga jejak peradaban yang menjadikan Palembang dikenal sebagai salah satu kota tertua. Pertanyaannya, apakah pembangunan kota layak dibayar dengan menghapus warisan hidrologis yang membentuk dirinya sendiri?

Dari 700 ke 114 Anak Sungai: Krisis Senyap Warisan Palembang

Seminar 114 Sungai: Upaya Menghentikan Lupa Kolektif

Pada Rabu, 14 Oktober 2026, kesadaran itu mulai ditantang lewat Seminar Sejarah 114 Sungai yang digelar di ruang rapat Parameswara, Setda Kota Palembang. Komunitas wartawan lingkungan bekerja bersama pemerintah kota, menghadirkan Wali Kota Ratu Dewa, Ketua KAWALI Sumsel Chandra Anugrah Surya, dan sejarawan dari Tim Ahli Cagar Budaya Kemas A.R. Panji sebagai pembicara kunci. Ini bukan forum basa-basi; wali kota menegaskan seminar tersebut adalah wahana untuk melegitimasi sejarah dan mendokumentasikan sungai-sungai yang tersisa.

Langkah ini patut diapresiasi, tetapi juga perlu dikritisi: menghidupkan 114 sungai tidak cukup dengan seminar tahunan dan jargon pelestarian sejarah kota. Ratu Dewa sendiri mengakui bahwa masyarakat selama ini hanya mengenal Sungai Musi sebagai ikon, sementara 114 anak sungai lain nyaris tak disebut dalam percakapan publik. "Ternyata dari 700 sekian anak sungai yang ada, tersisa 114 maka ini harus kita rawat," ujarnya, menempatkan angka itu sebagai mandat moral, bukan sekadar data statistik. Pertanyaannya, apakah komitmen politik akan berlanjut menjadi kebijakan ruang dan anggaran yang nyata?

Pelestarian Sejarah Kota: Sungai sebagai Cagar Budaya Hidup

Dalam diskursus pelestarian sejarah kota, Palembang selama ini sibuk merayakan bangunan tua, situs arkeologi, dan narasi kerajaan, tetapi lupa bahwa sungai adalah cagar budaya Palembang yang paling hidup. Wali kota menekankan sungai sebagai alat transportasi, penanda status, dan simbol budaya yang membentuk identitas kota tertua ini. Pendataan sejarah 114 sungai disebut sebagai langkah strategis untuk menghimpun pengetahuan lokal dan mendokumentasikan perjalanan sejarah, agar sungai diakui sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kota.

Pendekatan ini menggeser cara pandang: sungai tidak boleh berhenti sebagai catatan di arsip, tetapi harus diperlakukan sebagai ruang hidup yang dilindungi seperti halnya kawasan cagar budaya. Di sinilah peran Tim Ahli Cagar Budaya menjadi krusial, bukan hanya mengurusi bangunan kolonial, tetapi juga lanskap hidrologis yang menyimpan memori sosial. Ketika sungai diakui sebagai aset ekologis, bagian dari sistem tata air, dan warisan sejarah bernilai sosial, budaya, dan ekonomi, maka menutup atau mengalihfungsikan anak sungai tanpa kajian sejarah seharusnya dipandang sama seriusnya dengan merobohkan bangunan bersejarah.

Dari Banjir ke Pendidikan: Dampak Nyata Merawat Anak Sungai

Pelestarian anak sungai Palembang bukan romantisme masa lalu; ia punya dampak langsung pada kehidupan warga hari ini. Ratu Dewa menegaskan bahwa merawat sungai adalah kunci mengurangi genangan air dan banjir di berbagai titik kota. Ketika anak sungai hilang atau tersumbat, sistem tata air kota lumpuh, dan warga di hilir menanggung banjir yang seharusnya bisa disalurkan oleh jaringan sungai kecil. Di sisi lain, sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan diminta kembali mendapat perhatian dalam perencanaan pembangunan kota, bukan sekadar dikenang di buku sejarah.

Dampaknya melampaui urusan teknis drainase. Pendataan sejarah 114 sungai diharapkan mendukung pendidikan sejarah lokal, mengenalkan identitas wilayah, membantu perencanaan lingkungan, dan memperkuat partisipasi masyarakat dalam pelestarian sungai. Generasi muda didorong memahami asal-usul aliran sungai di wilayahnya, sementara camat dan lurah diminta menjadi narator sejarah sungai di tingkat akar rumput. Ini langkah tepat: pelestarian sejarah kota tidak akan bertahan jika hanya menjadi proyek elit akademik; ia harus menjadi pengetahuan sehari-hari warga yang tinggal di bantaran sungai.

Digitalisasi Warisan Budaya Sungai: Harapan dan Tantangan

Gagasan paling menjanjikan dari pemerintah kota adalah digitalisasi warisan budaya berupa data sejarah 114 anak sungai Palembang. Wali kota mendorong agar informasi tentang sungai-sungai tersebut dihimpun dalam sumber digital yang mudah diakses dan diperbarui, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian, dan perencanaan lingkungan. Jika dijalankan serius, ini bisa menjadi basis pengetahuan publik: peta aliran, nama lokal, kisah kampung tepian, hingga perubahan fungsi sungai dari masa ke masa.

Namun digitalisasi warisan budaya tidak boleh berhenti sebagai katalog indah yang terputus dari kebijakan ruang. Data digital harus menuntun keputusan: mana anak sungai yang wajib dilindungi, bagaimana infrastruktur pembangunan disesuaikan dengan sistem tata air, dan bagaimana cagar budaya Palembang dipahami sebagai lanskap, bukan hanya monumen. Ratu Dewa berharap program ini dikembangkan bertahap dan dimanfaatkan masyarakat, tetapi publik berhak menagih transparansi dan konsistensi. Tanpa itu, 114 sungai yang kini didokumentasikan bisa saja tinggal angka di layar, sementara di lapangan satu per satu menghilang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!