Ketahanan berawal dari ilmu dan nilai
Literasi digital pesantren adalah pembelajaran yang membekali santri untuk menilai informasi daring secara kritis, memahami konteksnya, dan memilih sikap yang bertanggung jawab saat berinteraksi di ruang digital. Inilah benteng yang perlu dibangun bersama pendidikan agama dan akhlak, bukan dianggap sebagai keterampilan tambahan. Pada Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof. KH. Didin Nurul Rosidin, mengingatkan bahwa tradisi keilmuan pesantren dapat membantu membangun ketahanan generasi muda terhadap paham radikal. Menurut Didin, kekuatan santri tumbuh dari perpaduan kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan. Nilai tawadhu, tasamuh, tawazun, tawassuth, dan i’tidal perlu hadir pula dalam perilaku daring. Namun, status santri saja tidak otomatis membuat seseorang kebal propaganda; ketahanan moderat harus dirawat lewat pendidikan yang konsisten.
Mengajari santri memeriksa, bukan sekadar melarang
Ancaman intoleransi, radikalisme, dan ekstremisme berbasis kekerasan di ruang digital membuat pendidikan keagamaan digital perlu melampaui penyampaian larangan. Tradisi sorogan, bandongan, dan musyawarah sudah membiasakan santri mempelajari penjelasan guru serta mengenali perbedaan pandangan ulama; kebiasaan itu seharusnya diteruskan saat mereka menghadapi arus informasi di media sosial. Kewaspadaan epistemik—konsep yang dikembangkan Dan Sperber—berarti memeriksa kredibilitas sumber dan menilai informasi sebelum memercayai atau menyebarkannya. Praktiknya jelas: telusuri asal informasi, pahami konteks pernyataan, bandingkan sumber, dan pikirkan tujuan di balik pesan. Edukasi media sosial juga perlu melatih santri mengenali ceramah provokatif, berita konflik tanpa sumber tepercaya, serta ajakan menyerang kelompok lain. Dengan bekal ini, pencegahan radikalisme santri bertumpu pada kemampuan mengambil keputusan, bukan kepatuhan pasif. Perbedaan pandangan tidak boleh berubah menjadi alasan untuk menyebarkan kebencian atau membenarkan kekerasan.
Santri harus ikut merancang pesan pencegahan
Program pencegahan akan lebih berarti bila generasi muda bukan hanya penerima pesan, melainkan ikut merancangnya. Didin menekankan bahwa bahasa dan format perlu sesuai dengan karakter generasi Z dan Alfa agar terasa dekat dengan kehidupan mereka. Pelibatan ini bukan soal mengikuti tren semata: santri dapat membantu memilih cara menyampaikan materi yang membuat mereka mau bertanya, berdialog, dan mengenali propaganda tanpa merasa digurui. Pesantren, perguruan tinggi, dan BNPT perlu membangun kemitraan pendidikan berkelanjutan serta ekosistem yang membuat anak muda merasa dihargai dan dapat menyelesaikan perbedaan secara damai. Langkah berikutnya juga mencakup ruang perjumpaan lintas kelompok, jalur bantuan tepercaya bagi remaja yang merasa terasing, dan evaluasi berdasarkan perubahan perilaku. Hari Santri Nasional semestinya menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren menjaga persatuan dan keutuhan bangsa. Kesimpulannya, benteng terbaik bukan larangan belaka, melainkan santri yang berilmu, kritis, dan ikut membentuk ruang digital yang damai.






