JOTA-JOTI: Dari Perkemahan Radio ke Laboratorium Pramuka Digital
JOTA-JOTI adalah rangkaian kegiatan kepramukaan yang menggabungkan komunikasi radio amatir dan internet dalam format perkemahan, untuk melatih literasi digital pemuda, keterampilan komunikasi lintas wilayah, dan pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab dalam semangat persaudaraan global. Di berbagai daerah, JOTA-JOTI 2026 tidak lagi sekadar ajang berkirim pesan, tetapi menjelma menjadi laboratorium Pramuka digital skills yang terstruktur. Di Lampung, kegiatan ini dikemas sebagai JOTA-JOTI Camp dan dibuka oleh Ketua Harian Kwarda Lampung Riski Sofyan pada 16 Oktober di aula Pusdiklat Kwarda. Ia menegaskan harapan agar peserta meningkatkan literasi digital, mengenal teknologi radio dan internet, sekaligus menjunjung nilai Satya dan Darma Pramuka dalam setiap aktivitas daring mereka.

Ratusan Penegak Asah Keterampilan Digital dari Lampung hingga Majalengka
Jika dulu Pramuka identik dengan tali-temali, kini JOTA-JOTI menunjukkan bahwa kompas abad ini adalah literasi digital pemuda. Di Lampung, 102 peserta mengikuti JOTA-JOTI Camp yang dirancang untuk membentuk Pramuka adaptif terhadap perkembangan teknologi, berkarakter, dan berintegritas. Sementara itu, di Majalengka, skala kegiatannya melonjak: 808 Pramuka tingkat Penegak memenuhi alun-alun kota untuk mengikuti JOTA ke-89 dan JOTI ke-47 sejak Jumat hingga Minggu, naik dari sekitar 600 peserta pada tahun sebelumnya. "Jumlah peserta JOTA-JOTI tahun ini mengalami peningkatan dari sekitar 600 menjadi 808 orang," ujar Bupati Majalengka Eman Suherman. Bagi para peserta, JOTA-JOTI menjadi ruang untuk memperluas pergaulan, mengasah komunikasi, dan memanfaatkan teknologi secara positif di tengah gempuran gawai dan media sosial.
Teknologi, Etika, dan Kepedulian Lingkungan: Nilai Lama dalam Wadah Baru
Kekuatan JOTA-JOTI bukan hanya pada perangkat radio atau jaringan internet, tetapi pada cara program ini mengawinkan teknologi dengan nilai kepramukaan. Di Lampung, Riski Sofyan mengingatkan peserta untuk memanfaatkan teknologi secara positif, bijak, dan bertanggung jawab, sambil tetap memegang etika serta Satya dan Darma Pramuka. Di Majalengka, Bupati Eman menegaskan agar Pramuka tidak dikuasai telepon seluler; kemajuan teknologi harus diikuti, tetapi penggunaannya perlu dikendalikan agar tidak membuat penggunanya kehilangan kendali. Di Bogor, JOTA-JOTI menjadi panggung pendidikan karakter yang lebih luas. Anggota DPRD Banu Lesmana Bagaskara memberi motivasi kepada 260 peserta, mengajak mereka bijak bermedsos dan peka terhadap isu lingkungan, sekaligus menunjukkan aksi konkret dengan membagikan wadah minum guna mengurangi sampah plastik sekali pakai.

Pendidikan Inklusi Pramuka: PBK Turut Hadir di JOTA-JOTI
Modernisasi Pramuka akan timpang jika hanya bicara teknologi tanpa menyentuh inklusi. Di Kota Tangerang, JOTA-JOTI mengusung tema "A Peaceful and Inclusive World" dan melibatkan 130 peserta dari berbagai kwartir ranting. Yang paling penting, kegiatan ini secara sadar mengikutsertakan Pramuka berkebutuhan khusus (PBK). Ketua Kwarcab Suli Rosadi menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya untuk anggota non-difabel; PBK didorong ikut serta sebagai bagian membangun karakter, mentalitas, dan kepercayaan diri mereka. Ia menekankan bahwa keikutsertaan difabel adalah upaya membangun eksistensi dan keberanian mereka untuk tampil dalam ruang digital JOTA-JOTI. Melalui pendekatan ini, pendidikan inklusi Pramuka tidak berhenti pada slogan, tetapi hadir dalam praktik: akses tanpa biaya pendaftaran, ruang belajar komunikasi radio dan internet, serta jejaring persahabatan global yang terbuka bagi semua anggota.
Jangkauan Nasional, Tantangan ke Depan: Pramuka Harus Menang di Ranah Digital
Rangkaian JOTA-JOTI di Lampung, Majalengka, Tangerang, dan Bogor menunjukkan bahwa program digital Pramuka telah bergerak menjadi gerakan nasional, bukan eksperimen lokal semata. Di Tangerang, JOTA-JOTI dirancang untuk memperkuat persaudaraan global, meningkatkan kemampuan komunikasi, dan mendorong pemanfaatan teknologi secara bijaksana, sekaligus memberi kesempatan anggota mempelajari komunikasi radio amatir dan internet serta memperluas jaringan persahabatan lintas wilayah dan negara. Di Bogor, Banu Lesmana berharap penutupan JOTA-JOTI melahirkan generasi muda yang kritis, peka lingkungan, dan berani menjadi agen perubahan. Jika konsisten, JOTA-JOTI bisa menjadi model pendidikan digital yang menyeimbangkan keterampilan teknis, etika bermedsos, kepedulian lingkungan, dan inklusi sosial. Tantangannya kini adalah memastikan semangat ini menetes ke gugus depan, agar setiap latihan Pramuka menjadi ruang latihan Pramuka digital skills yang relevan dengan zaman.






