Perlindungan dimulai dari imunisasi
Imunisasi polio anak adalah pemberian vaksin untuk melindungi anak dari penyakit polio yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen, bahkan kematian. Karena vaksin tersedia, menunda imunisasi berarti membiarkan risiko yang sebenarnya bisa dicegah tetap ada. Wali Kota Semarang Agustina mengajak orang tua yang anaknya belum mendapat vaksin polio agar segera membawanya ke fasilitas kesehatan. Ia mengingatkan bahwa vaksin tersedia di banyak tempat, sehingga keluarga dapat mengambil langkah perlindungan tanpa menunggu kampanye besar berlangsung. Pesan ini penting karena pencegahan polio tidak bisa dibebankan kepada pemerintah saja: keputusan orang tua untuk memastikan anak menerima imunisasi sesuai jadwal merupakan bagian langsung dari upaya melindungi masyarakat. Imunisasi bukan sekadar urusan administratif atau kunjungan rutin. Ketika setiap keluarga menindaklanjuti ajakan tersebut, perlindungan anak menjadi lebih luas dan risiko penularan dapat ditekan.

Semarang mengajak, Surabaya menggerakkan
Perbedaan pendekatan di Semarang dan Surabaya justru memperlihatkan dua jalur yang saling melengkapi. Di Semarang, ajakan Wali Kota berfokus pada tindakan yang bisa segera dilakukan setiap keluarga: membawa anak yang belum mendapat imunisasi ke fasilitas kesehatan. Di Surabaya, Rotary Clubs of East Java, Pemerintah Kota Surabaya, dan UNICEF memperkuat kampanye pemberantasan polio melalui peringatan World Polio Day 2026 di Atrium Lantai 1 Ciputra World Surabaya pada Minggu, 25 Oktober. Kegiatan Surabaya mengusung tema “Setetes Harapan, Bebaskan Dunia dari Polio” dan menjadi bagian dari gerakan global End Polio Now. Edukasi kesehatan, seremoni penetesan vaksin, serta aktivitas untuk anak dan keluarga membawa pesan pencegahan polio ke ruang publik. Pendekatan ini lebih dari sekadar seremoni bila berhasil mengubah perhatian menjadi tindakan: orang tua memahami bahaya penyakit, lalu memastikan anak memperoleh vaksin polio.
Kemajuan bukan alasan untuk lengah
Polio masih menjadi ancaman, meskipun upaya global telah menekan kasus secara besar-besaran. Sejak Global Polio Eradication Initiative dimulai pada 1988, kasus polio di dunia turun lebih dari 99 persen. Namun, capaian itu tidak menghapus kebutuhan untuk terus mengimunisasi anak dan mencegah penularan kembali. Inilah alasan kampanye polio perlu berjalan berdampingan dengan layanan vaksinasi. Informasi tentang bahaya penyakit saja tidak cukup bila tidak disertai akses dan tindak lanjut, sementara tersedianya vaksin juga belum menjamin semua anak terlindungi. Agustina menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bergerak sendiri dan berterima kasih kepada Rotary atas dukungannya dalam meningkatkan kesadaran serta mendorong vaksinasi. Kolaborasi yang efektif menghubungkan pemerintah, tenaga kesehatan, organisasi sosial, dan keluarga. Masing-masing punya peran berbeda, tetapi tujuan akhirnya sama: memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari perlindungan.
Dari kampanye ke tindak lanjut keluarga
Surabaya telah merencanakan langkah lanjutan berupa sosialisasi di tingkat kecamatan dengan melibatkan orang tua dan anak-anak usia taman kanak-kanak. Edukasi langsung kepada keluarga diharapkan membuat pemahaman tentang bahaya polio dan pentingnya imunisasi lebih mudah diterjemahkan menjadi keputusan nyata. Sementara itu, Agustina berharap kolaborasi dengan Rotary terus berjalan agar semakin banyak anak memperoleh perlindungan. Semarang juga mengaitkan perlindungan kesehatan dengan akses layanan: pemerintah kota menanggung iuran jaminan kesehatan bagi 180.000 warga. Angka itu menunjukkan pentingnya dukungan layanan, tetapi ajakan utamanya tetap sederhana—orang tua perlu memastikan anak yang belum mendapat vaksin segera dibawa ke fasilitas kesehatan. Kesimpulannya, ajakan langsung di Semarang dan kampanye bersama di Surabaya bukan pilihan yang bersaing. Keduanya harus saling menguatkan: kampanye membangun kesadaran, layanan memudahkan tindakan, dan orang tua memastikan imunisasi polio anak terlaksana sesuai jadwal serta rekomendasi tenaga kesehatan.






