Imunisasi adalah perlindungan yang tak layak ditunda
Imunisasi polio anak adalah pemberian vaksin sesuai jadwal dan anjuran tenaga kesehatan untuk melindungi anak dari penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen hingga kematian. Karena polio masih menjadi ancaman, menunda vaksinasi berarti membiarkan perlindungan anak tertunda pula. Menjelang Hari Polio Sedunia pada 24 Oktober, Wali Kota Semarang Agustina mengajak orang tua segera membawa anak yang belum mendapat vaksin ke fasilitas kesehatan. “Para orang tua yang anaknya belum vaksin polio harus segera membawa anaknya, karena vaksin tersedia di banyak tempat,” ujarnya. Pesannya tepat: kampanye publik hanya bermakna jika berujung pada tindakan keluarga. Orang tua yang ragu atau belum yakin jadwal anak sebaiknya bertanya kepada petugas kesehatan, bukan menunda tanpa kepastian. Akses edukasi dan layanan perlu berjalan beriringan agar ajakan imunisasi benar-benar menjangkau setiap anak.
Pemerintah Kota Semarang juga menyatakan menanggung iuran jaminan kesehatan bagi 180.000 warga untuk memperluas akses layanan kesehatan. Dukungan akses seperti ini penting, tetapi perlindungan polio tetap bergantung pada keputusan orang tua untuk memastikan anak menerima vaksin.

Kampanye publik harus berlanjut menjadi edukasi
Di Surabaya, Rotary Clubs of East Java, Pemerintah Kota Surabaya, dan UNICEF menggelar edukasi serta kampanye pemberantasan polio pada 25 Oktober 2026 di Ciputra World Surabaya. Acara bertema “Setetes Harapan, Bebaskan Dunia dari Polio” menggabungkan edukasi kesehatan, penetesan vaksin, dan kegiatan untuk anak serta keluarga. Pesannya bukan sekadar ajakan umum: polio dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dan bahkan kematian, sementara vaksin dapat mencegahnya. Rotary menyebut kasus polio global telah turun lebih dari 99 persen sejak inisiatif pemberantasan global dimulai pada 1988. Namun, capaian besar itu bukan alasan untuk lengah. Justru, edukasi langsung bagi keluarga perlu diteruskan agar capaian tidak berbalik dan pertanyaan orang tua mendapat jawaban yang tepercaya.
Penyelenggara juga merencanakan sosialisasi yang melibatkan orang tua dan anak usia taman kanak-kanak di tingkat kecamatan di Surabaya. Rencana ini patut didukung karena informasi yang mudah dipahami dapat membantu keluarga mengambil keputusan berdasarkan arahan tenaga kesehatan, bukan kabar simpang siur.

Dari Solo hingga Semarang, ajakan perlu menjadi aksi
Di Solo, Rotary dan berbagai elemen masyarakat mengadakan End Polio Campaign 2026 di kawasan Car Free Day Jalan Slamet Riyadi pada 25 Oktober, bertepatan dengan momentum Hari Polio Sedunia. Kampanye ini menekankan pencegahan polio, perlindungan kesehatan anak, dan imunisasi sesuai anjuran tenaga kesehatan. Wali Kota Surakarta mengajak orang tua memastikan anak mendapat imunisasi sesuai jadwal serta berkonsultasi jika memiliki pertanyaan atau kekhawatiran. Ini pendekatan yang lebih berguna daripada menganggap kampanye cukup dengan seremoni: keluarga perlu mendapat ruang untuk bertanya, lalu akses yang jelas untuk bertindak. Kampanye polio di Surabaya dan Solo sama-sama menegaskan bahwa imunisasi adalah langkah utama untuk mencegah penyakit dan kelumpuhan.
Pemberantasan polio tidak bisa dibebankan kepada pemerintah atau tenaga kesehatan saja. Kolaborasi Rotary, pemerintah daerah, UNICEF, petugas kesehatan, dan orang tua harus diteruskan melalui edukasi dan layanan yang mudah dijangkau. Kesimpulannya sederhana: pastikan jadwal imunisasi anak, cari informasi dari tenaga kesehatan, dan jangan menunda vaksin polio. Kampanye akan berhasil bukan saat acara usai, melainkan ketika setiap anak memperoleh perlindungan.







