Kesiapan SAR harus sesuai medan
Pelatihan SAR adalah latihan terarah untuk membekali petugas dengan keterampilan dan koordinasi yang dibutuhkan dalam pencarian serta pertolongan di situasi darurat. Di Gunungkidul, pemerintah kabupaten menggelar pelatihan teknik penyelamatan di Goa Jomblang pada Jumat (30/10/2026), dengan perhatian khusus pada medan ekstrem seperti goa dan tebing. Langkah ini tepat: kemampuan penyelamatan yang cocok untuk jalan perkotaan belum tentu memadai di gua vertikal atau tebing terjal. Bentang karst, perbukitan, dan kawasan pesisir di Gunungkidul menuntut kualifikasi khusus, bukan sekadar keberanian atau ketersediaan alat. Bagi wisatawan, kesiapan personel dan efektivitas evakuasi dapat membuat perjalanan ke destinasi alam terasa lebih aman. Namun pelatihan hanya akan berdampak bila keterampilan dipelihara dan didukung fasilitas serta koordinasi yang jelas.

Simulasi menguji kerja lintas instansi
Sementara itu, Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar simulasi SAR gabungan di Taman Budaya Embung Giwangan pada Kamis (29/10), melibatkan BPBD, OPD, instansi terkait, dan relawan. Sekitar 150 personel berlatih bersama. Tujuannya bukan hanya menguji kemampuan tiap petugas, melainkan memastikan lembaga berbeda dapat bekerja terpadu tanpa tumpang tindih peran. Alasan pendekatan ini praktis: jumlah personel dan perlengkapan tidak selalu cukup di satu instansi, sehingga dukungan antartim dapat menentukan kelancaran operasi. Latihan penyelamatan bencana seperti ini lebih bermakna daripada demonstrasi peralatan semata jika peserta memahami siapa mengambil keputusan, siapa memberi bantuan medis, dan bagaimana informasi diteruskan. Warga memerlukan respons yang terkoordinasi, bukan kumpulan tim yang bergerak tanpa gambaran operasi bersama.

Bangunan runtuh menuntut komunikasi dan ketepatan
Skenario gempa dalam simulasi mencakup bangunan runtuh, penanganan korban dengan lifting pad, dan evakuasi korban menggunakan teknik vertical rescue. Peserta juga berlatih bertukar informasi, membentuk posko lapangan, posko SAR gabungan, dan posko medis, serta menyiapkan dukungan logistik. Rangkaian ini menegaskan bahwa tindakan teknis harus berjalan seiring dengan komunikasi yang akurat: keputusan terlambat atau informasi yang tidak sampai dapat menghambat pertolongan. Pengalaman gempa 2006 turut menjadi pengingat bahwa kesiapan tidak berhenti pada latihan penyelamatan; kondisi bangunan juga perlu diperhatikan. BPBD bersama BNPB dan UTY telah mendata 1.000 rumah untuk melihat ketahanannya terhadap gempa. Pemetaan dapat membantu pemerintah menentukan rumah yang perlu perhatian serta mendorong edukasi pembangunan dan rehabilitasi yang lebih tahan gempa.

Latihan perlu berlanjut, bukan berhenti pada simulasi
Dua pendekatan ini saling melengkapi: pelatihan di Gunungkidul menyesuaikan keterampilan dengan medan wisata alam, sedangkan simulasi Yogyakarta menguji pembagian tugas dan kerja bersama saat bangunan runtuh. Keduanya menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak bisa diukur dari jumlah alat atau personel saja. Ketepatan tindakan, komunikasi, dan pemahaman atas peran masing-masing harus diuji dalam latihan. BPBD Kota Yogyakarta berencana mengagendakan latihan water rescue pada kesempatan berikutnya untuk memperluas kemampuan personel menghadapi kondisi darurat lain. Kelanjutan ini penting agar latihan tidak menjadi kegiatan satu kali tanpa peningkatan kapasitas yang terukur. Pada akhirnya, keselamatan pengunjung dan warga bergantung pada kemampuan penyelamat menyesuaikan diri dengan lokasi sekaligus bekerja sebagai satu tim. Itulah ukuran nyata kesiapan SAR.






