Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Simulasi SAR Menguji Evakuasi Korban saat Bangunan Runtuh

Simulasi SAR Menguji Evakuasi Korban saat Bangunan Runtuh
Minat|Pelatihan Komprehensif

Latihan yang menguji kerja bersama

Simulasi SAR gabungan adalah latihan lintas instansi untuk menguji kemampuan mencari, menyelamatkan, dan mengevakuasi korban melalui pembagian tugas serta koordinasi dalam keadaan darurat. Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar latihan ini di Taman Budaya Embung Giwangan pada Kamis, 29 Oktober 2026, dengan sekitar 150 personel dari organisasi perangkat daerah, instansi terkait, dan relawan. Besarnya jumlah peserta penting, tetapi ukuran keberhasilan sesungguhnya ialah apakah semua unsur dapat bergerak terpadu ketika waktu menyelamatkan korban terbatas. Latihan tersebut melibatkan Basarnas, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, PSC, PMI, Tagana, Satpol PP dan Satlinmas, petugas keamanan lokasi, serta relawan. Dengan beragam kemampuan dan perlengkapan di satu tempat, simulasi memberi ruang untuk menguji pola kerja bersama sebelum keadaan darurat sungguhan terjadi.

Kepala BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menyatakan latihan itu ditujukan untuk memperkuat kerja sama antarlembaga agar penanganan bencana berlangsung terpadu dan tidak membuat tugas saling tumpang tindih.

Simulasi SAR Menguji Evakuasi Korban saat Bangunan Runtuh

Skenario runtuhan menguji proses evakuasi

Skenario gempa yang menyebabkan bangunan runtuh menjadi ujian praktis bagi peserta: mereka berlatih menangani korban yang tertimpa material dan melakukan evakuasi korban bencana dengan teknik vertical rescue. Latihan juga mencakup penggunaan lifting pad untuk membantu pengangkatan atau penanganan material bangunan. Ini bukan sekadar demonstrasi teknik. Proses penyelamatan menuntut tim memahami kondisi lokasi, menyampaikan informasi yang tepat, dan bekerja sesuai peran agar tindakan satu kelompok tidak menghambat kelompok lain. Peserta turut mempraktikkan pembentukan posko lapangan, posko SAR gabungan, dan posko medis, disertai dukungan logistik. Rangkaian tersebut mengingatkan bahwa penyelamatan korban tidak berhenti pada pengangkatan dari reruntuhan: operasi memerlukan dukungan medis dan pengaturan lapangan yang terhubung.

Ketua Tim Kerja Kedaruratan BPBD Kota Yogyakarta, Restu, menjelaskan bahwa latihan melatih komunikasi, pertukaran informasi, penanganan material dengan lifting pad, dan penyelamatan menggunakan vertical rescue.

Simulasi SAR Menguji Evakuasi Korban saat Bangunan Runtuh

Koordinasi adalah bagian dari kesiapsiagaan

Peralatan dan personel tidak otomatis menghasilkan operasi yang efektif. Koordinasi penanganan bencana bergantung pada komunikasi cepat, pemahaman tugas, dan kesediaan instansi saling melengkapi. Nur Hidayat menekankan bahwa keterbatasan personel dan sarana di satu lembaga dapat diatasi dengan dukungan dari pihak lain. Itulah alasan latihan bersama perlu melampaui pembagian peran di atas kertas: setiap tim harus mengetahui kebutuhan tim lain dan jalur untuk menyampaikan informasi saat keadaan berubah. Bagi warga, kesiapan semacam ini relevan karena kecepatan dan ketepatan respons dapat memengaruhi peluang korban memperoleh pertolongan. Simulasi di Giwangan memberi kesempatan untuk menguji pola tersebut, tetapi satu latihan belum cukup untuk memastikan semua mekanisme berjalan lancar dalam bencana nyata.

Selain latihan, BPBD bersama BNPB dan Universitas Teknologi Yogyakarta telah mendata 1.000 rumah untuk menilai ketahanannya terhadap gempa. Pendataan ini menyoroti sisi pencegahan: kemampuan evakuasi perlu berjalan beriringan dengan perhatian pada bangunan yang lebih tahan gempa.

Latihan lanjutan tetap diperlukan

Simulasi ini juga memiliki batas. Latihan water rescue belum dapat dilakukan karena kondisi air sedang surut, sementara kegiatan gabungan tersebut baru pertama kali digelar dan masih menyisakan aspek yang perlu diperbaiki melalui latihan berkelanjutan. Menunda latihan air dalam kondisi yang tidak mendukung lebih masuk akal daripada memaksakan skenario, tetapi kemampuan itu tetap perlu diuji pada kesempatan berikutnya. Evaluasi atas komunikasi, pembagian tugas, penanganan reruntuhan, posko, dan dukungan medis juga sebaiknya menjadi dasar latihan berikutnya. Dengan begitu, simulasi tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, melainkan membangun kebiasaan kerja yang semakin teruji. Kesimpulannya, latihan SAR di Yogyakarta menunjukkan bahwa evakuasi korban bergantung pada kesiapan teknis sekaligus koordinasi lintas instansi. Konsistensi latihanlah yang dapat mengubah kerja sama di lapangan menjadi respons yang lebih terarah saat bencana terjadi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!