Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Goa hingga Bangunan Runtuh: Mengapa Latihan SAR Harus Terpadu

Dari Goa hingga Bangunan Runtuh: Mengapa Latihan SAR Harus Terpadu
Minat|Pelatihan Komprehensif

Kesiapsiagaan dimulai dari medan yang dihadapi

Pelatihan SAR adalah latihan terencana untuk membangun keterampilan penyelamatan, komunikasi, dan kerja bersama agar petugas mampu merespons keadaan darurat sesuai risiko medan dan kebutuhan korban. Di Gunungkidul, kebutuhan itu nyata: perbukitan karst, tebing terjal, goa vertikal, serta pesisir menuntut kemampuan yang tak bisa diasumsikan sama dengan penyelamatan di wilayah perkotaan. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar pelatihan bagi personel Satuan Perlindungan Masyarakat Rescue Istimewa di kawasan Goa Jomblang, Pacarejo, Semanu, pada Jumat (30/10/2026). Fokusnya ialah teknik penyelamatan medan ekstrem, terutama di goa dan tebing. Langkah ini tepat karena destinasi alam yang menarik pengunjung juga membawa risiko khusus. Keselamatan wisatawan domestik maupun mancanegara perlu ditopang oleh personel terlatih, fasilitas pendukung, dan prosedur evakuasi yang siap digunakan, bukan hanya imbauan berhati-hati.

Simulasi menguji kerja tim, bukan sekadar alat

Sehari sebelumnya, Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar simulasi SAR gabungan di Taman Budaya Embung Giwangan. Sekitar 150 personel dari instansi pemerintah, organisasi perangkat daerah, dan relawan berlatih menangani skenario gempa yang meruntuhkan bangunan, termasuk evakuasi korban dengan teknik vertical rescue. Latihan itu melibatkan Basarnas, BPBD, pemadam kebakaran dan penyelamatan, layanan medis, PMI, Tagana, Satpol PP, Satlinmas, petugas keamanan, serta relawan. Peserta berlatih bertukar informasi, menggunakan lifting pad untuk menangani korban tertimpa reruntuhan, dan menyiapkan posko SAR, medis, serta logistik. Inilah alasan simulasi evakuasi korban perlu menguji hubungan antartim, bukan hanya kecakapan memakai alat. Dalam keadaan darurat, kemampuan satu lembaga tidak cukup bila informasi terlambat atau peran saling tumpang tindih. Keterbatasan personel dan perlengkapan pun lebih mudah diatasi ketika setiap unsur memahami kebutuhan tim lain.

Dari Goa hingga Bangunan Runtuh: Mengapa Latihan SAR Harus Terpadu

Koordinasi menentukan kecepatan pertolongan

Pesan utama dari dua latihan tersebut jelas: koordinasi penanganan bencana harus dibangun sebelum bencana terjadi. Di Yogyakarta, BPBD mengerahkan sekitar 50 personel dari total sekitar 150 peserta, termasuk Tim Reaksi Cepat, pengemudi, dan tenaga harian lepas. Perbedaan tugas dan kapasitas antarlembaga membuat komunikasi yang cepat, pembagian peran, dan ketepatan bertindak menjadi bagian dari penyelamatan itu sendiri. Kepala BPBD Kota Yogyakarta, Nur Hidayat, menegaskan bahwa kolaborasi diperlukan agar kemampuan serta sarana masing-masing unsur saling melengkapi. Latihan juga tidak berhenti pada respons lapangan: BPBD bersama BNPB dan Universitas Teknologi Yogyakarta telah mendata 1.000 rumah untuk menilai ketahanannya terhadap gempa. Pengalaman gempa 2006 menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan harus mencakup kondisi bangunan dan edukasi perbaikan, bukan hanya evakuasi setelah kerusakan terjadi.

Latihan berkelanjutan adalah ukuran kesiapan

Kesiapan tidak bisa dinilai dari satu simulasi, terlebih ketika latihan penyelamatan di air belum terlaksana karena kondisi air sedang surut. BPBD Yogyakarta berencana menjadwalkan water rescue pada kesempatan berikutnya untuk memperluas kemampuan personel. Rencana itu penting, tetapi nilai latihan akan ditentukan oleh tindak lanjut: apakah evaluasi memperbaiki prosedur, apakah komunikasi antarlembaga makin lancar, dan apakah perlengkapan sesuai dengan risiko yang dihadapi. Bagi warga dan wisatawan, hasilnya terasa dalam bentuk pertolongan yang lebih cepat dan evakuasi yang lebih tertata saat keadaan darurat. Pelatihan di medan ekstrem Gunungkidul dan simulasi reruntuhan di Yogyakarta menunjukkan dua sisi kesiapsiagaan yang saling melengkapi. Kesimpulannya, keselamatan bukan semata urusan keberanian penyelamat atau kelengkapan alat; ia bergantung pada latihan rutin, pembagian tugas yang jelas, serta koordinasi yang teruji sebelum korban membutuhkan bantuan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!