Komunikasi menjadi kriteria utama
Pelatih baru Arema adalah sosok yang diharapkan mampu memimpin tim sekaligus berkomunikasi efektif dengan skuad yang ada. Seusai mengakhiri kerja sama dengan Marcos Santos, Arema FC menerima banyak tawaran pelatih kepala, sementara sejumlah nama kandidat terus bermunculan dan Andre Caldas masih memegang jabatan sementara. Banyaknya peminat memberi klub pilihan, tetapi bukan alasan untuk mengambil keputusan secara gegabah. Manajemen perlu memastikan calon pengganti Marcos Santos dapat menjawab kebutuhan tim, bukan sekadar memiliki nama atau rekam jejak yang menarik. General Manager Yusrinal Fitriandi menyebut tawaran datang langsung maupun melalui agen, dan manajemen kini memetakan kandidat yang tersedia. Arah seleksi itu masuk akal: ketika hasil pertandingan belum konsisten, pilihan pelatih harus dinilai dari kesesuaiannya dengan skuad dan kemampuannya menyampaikan instruksi dengan jelas.
Bahasa harus menjembatani ruang ganti
Dalam kriteria pelatih Arema, kemampuan berbahasa bukan pelengkap, melainkan kebutuhan kerja. Manajemen memprioritaskan kandidat yang fasih berbahasa Portugis dan Inggris karena sebagian besar pemain asing Arema berasal dari Brasil. Pilihan ini menunjukkan pemahaman bahwa taktik sulit berjalan jika arahan pelatih tidak tersampaikan dengan baik. Bahasa yang sama dapat membantu pelatih menjelaskan peran, membangun kepercayaan, dan merespons kebutuhan pemain secara langsung. Namun, kefasihan saja tentu tidak cukup: komunikasi harus disertai kemampuan membaca karakter dan mengelola pemain. Yusrinal menegaskan bahwa pengalaman menangani tim dengan pemain Brasil tidak otomatis berarti seorang pelatih memahami karakter serta kebutuhan mereka. Karena itu, seleksi sebaiknya menilai bagaimana kandidat bekerja dengan pemain, bukan hanya bahasa apa yang dikuasainya.
Komposisi pemain Brasil mengubah profil kandidat
Banyaknya pemain Brasil Arema membuat kecocokan dengan komposisi tim menjadi pertimbangan strategis. Manajemen mencari pelatih yang mengenal kompetisi sepak bola Indonesia sekaligus memahami karakter pemain asing yang mendominasi skuad. Urutan itu penting: pengalaman lokal membantu pelatih membaca konteks kompetisi, sedangkan pemahaman terhadap pemain Brasil dapat mempercepat penyatuan tim. Nama Arturo Reyes dan Joel Cornelli dikabarkan masuk dalam pembicaraan sebagai calon pengganti Marcos Santos, tetapi manajemen belum mengonfirmasi pilihan dan tidak ingin terburu-buru. Nama yang beredar semestinya tidak mengalihkan perhatian dari ukuran yang lebih relevan: apakah kandidat mampu menerjemahkan filosofi bermain ke skuad yang tersedia? Jawaban atas pertanyaan itu lebih menentukan daripada reputasi semata.
Keputusan harus berangkat dari kebutuhan tim
Manajemen menyatakan masih memetakan calon yang tersedia, sementara minat pelatih dan agen disebut sangat banyak. Sikap menahan diri tepat selama proses itu menghasilkan penilaian yang jelas, bukan penundaan tanpa arah. Arema masih menghadapi persoalan konsistensi hasil, sehingga pelatih berikutnya perlu memberi tim pijakan yang lebih stabil. Masukan Aremania juga didengar, tetapi keputusan akhir sebaiknya bertumpu pada kecocokan kandidat dengan kebutuhan skuad. Pelatih yang mengenal kompetisi lokal, fasih berkomunikasi dalam Portugis dan Inggris, serta memahami karakter pemain Brasil menawarkan dasar yang lebih kuat untuk membangun kerja sama. Kesimpulannya, pengganti Marcos Santos tidak cukup dipilih berdasarkan nama besar atau kedekatan dengan klub; ia harus mampu menyatukan pemain dan membuat instruksi benar-benar dipahami.






