Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

PISA: Filipina Menyalip, Singapura Tetap Menguasai

PISA: Filipina Menyalip, Singapura Tetap Menguasai
Minat|Asia Tenggara

PISA Sebagai Cermin Baru Persaingan Pendidikan ASEAN

Hasil PISA 2025 adalah ringkasan kemampuan siswa usia 15 tahun dalam membaca, matematika, sains, dan pemecahan masalah komputasional yang digunakan sebagai cermin kualitas pendidikan suatu kawasan, termasuk ASEAN, karena mengukur seberapa jauh pelajar mampu menerapkan pengetahuan pada persoalan kehidupan nyata dan bukan sekadar menguasai isi kurikulum formal. Hasil terbaru yang dirilis OECD di Paris pada September 2026 mengguncang peta persaingan kawasan: Filipina tiba-tiba menyalip Indonesia dalam membaca dan matematika, Vietnam menegaskan statusnya sebagai kekuatan sains berpendapatan menengah, sementara Singapura tetap tak tersentuh di posisi puncak. Ini bukan sekadar daftar skor; ini peta baru ranking pendidikan ASEAN dan alarm keras bagi negara yang merasa aman dengan perbaikan tipis dari siklus sebelumnya.

PISA: Filipina Menyalip, Singapura Tetap Menguasai

Filipina Melompat, Indonesia Tertinggal di Lapisan Bawah

Pusat cerita hasil PISA 2025 di kawasan bukan Singapura, melainkan Filipina. Negara yang selama ini berada di dasar klasemen tiba-tiba mencatat pertumbuhan eksponensial: skor membaca naik 20 poin menjadi 367, matematika naik 16 poin menjadi 371, dan sains naik 17 poin menjadi 373, capaian tertinggi sejak bergabung pada 2018. Di dua domain utama, Filipina kini berada 2 poin di atas skor membaca Indonesia (365) dan 7 poin di atas skor matematika Indonesia (364), mengakhiri pola lama di mana Indonesia selalu unggul atas Filipina. “Filipina mencatat peningkatan terbesar dalam kemampuan membaca di antara negara-negara OECD,” demikian ringkasan temuan lembaga kajian setempat. Sementara itu, skor matematika Indonesia turun dari 366 menjadi 364 meski membaca naik dari 359 ke 365 dan sains dari 383 ke 389, menunjukkan perbaikan yang lambat dan tidak cukup untuk mempertahankan posisi dalam ranking pendidikan ASEAN.

Singapura dan Vietnam: Lapisan Atas yang Kian Jauh di Depan

Di atas lonjakan Filipina dan kemandekan skor matematika Indonesia, lapisan atas kawasan tampak semakin menjauh. Singapura kembali menjadi negara dengan hasil PISA 2025 tertinggi di Asia Tenggara, meraih 560 poin untuk sains, 563 untuk matematika, 535 untuk membaca, dan 563 untuk computational problem solving, menjadikannya pemimpin mutlak di tiga bidang utama sekaligus pemecahan masalah komputasional. Vietnam, dengan sumber daya yang jauh lebih terbatas, mempertahankan status sebagai bintang sains kawasan dengan skor 457, jauh di atas 389 untuk sains Indonesia dan 373 untuk sains Filipina. Konsistensi Vietnam—yang sebelumnya bertengger di sekitar peringkat 31–35 dunia untuk matematika, membaca, dan sains—menunjukkan bahwa ekonomi berpendapatan menengah bisa menghasilkan hasil tinggi jika kebijakan pembelajaran fokus dan eksekusi berdisiplin. Kontras ini menandakan jurang baru: sementara lapisan bawah saling salip, lapisan atas makin kokoh dan meninggalkan yang lain dalam kualitas pendidikan regional.

Posisi Keenam dan Alarm Geopolitik Pendidikan

Jika peringkat disusun berdasarkan skor sains yang menjadi fokus PISA 2025, Indonesia berada di posisi keenam dari delapan negara Asia Tenggara, di bawah Malaysia dan Thailand, serta di atas Kamboja dan Filipina. Dengan skor 389 untuk sains, 364 untuk matematika, 365 untuk membaca, dan 427 untuk CPS, negara berpenduduk terbesar kawasan ini tidak lagi bisa bersandar pada skala demografis untuk menutup ketertinggalan kualitas. Peta persaingan kini jelas terbagi tiga lapisan: Singapura di puncak, Vietnam–Brunei–Malaysia–Thailand di tengah, sementara Indonesia bersama Filipina dan Kamboja menempati lapisan bawah yang saling bergeser posisi. Bagi Indonesia, disalip Filipina dalam membaca dan matematika adalah alarm geopolitik pendidikan: dalam konteks bonus demografi dan perebutan investasi manufaktur, skor PISA berkorelasi dengan produktivitas tenaga kerja dan daya saing jangka panjang. Tanpa lompatan kualitas belajar, bonus demografi bisa berubah menjadi beban sosial.

Dinamika Kompetitif dan Tugas Berat Kebijakan Pendidikan

Pergeseran hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa kualitas pendidikan regional di ASEAN semakin kompetitif dan dinamis. Filipina naik ke peringkat 72 dari 90 negara dalam membaca dan 74 dalam matematika, sementara Indonesia turun ke sekitar peringkat 78, menandai pergerakan yang berlawanan arah di lapisan bawah. Data delapan negara Asia Tenggara juga menampilkan spektrum luas skor: dari Singapura yang memimpin hingga Kamboja sebagai peserta baru dengan skor sains 382 dan membaca 347. Di tengah tekanan ini, kebijakan pendidikan tidak cukup berhenti pada pelatihan guru dan kepala sekolah. Respons yang disiapkan melalui program Pembelajaran Mendalam dengan tiga pilar Mindful, Meaningful, Joyful dan pengaturan baru lewat regulasi pendidikan harus diukur dari keberhasilan mengangkat kelompok siswa berkemampuan rendah, sebagaimana lonjakan yang dicapai Filipina. Jika tidak, kawasan akan terbelah antara segelintir negara dengan hasil tinggi dan mayoritas yang terjebak dalam kemiskinan pembelajaran, sebuah “bom waktu ekonomi” yang sudah diperingatkan analis sebagai ancaman menuju 2045.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!