Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Ketika Gempa Menutup Kelas: Lahirnya Ruang Belajar Darurat

Ketika Gempa Menutup Kelas: Lahirnya Ruang Belajar Darurat
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Ruang kelas darurat: ketika tenda menggantikan tembok

Ruang kelas darurat adalah ruang belajar sementara yang dibangun dengan sarana sederhana seperti tenda, terpal, bambu, atau kayu untuk menjamin pembelajaran pasca-gempa tetap berjalan saat bangunan sekolah rusak dan tidak layak dipakai, sekaligus menjadi simbol resiliensi pendidikan di tengah bencana alam yang mengganggu proses belajar mengajar secara tiba-tiba.

Di SMPN 1 Talibura, gedung sekolah yang retak setelah gempa bermagnitudo 7,7 memaksa seluruh kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke halaman sekolah. Bukan kontraktor yang datang pertama, melainkan orang tua, siswa, dan guru yang membawa bambu dan kayu lalu urunan membeli terpal dan tali untuk mendirikan tenda. Sebanyak 314 siswa mengungsi dari ruang kelas yang dikhawatirkan ambruk ke bawah tenda darurat yang jauh dari ideal namun dianggap paling aman. Di sini terlihat dengan telanjang: ketika negara belum siap, komunitas sekolah bencana alam menolak menyerah dan memilih merancang perlindungan seadanya demi hak belajar.

Ketika Gempa Menutup Kelas: Lahirnya Ruang Belajar Darurat

Gotong royong lintas peran: sekolah, orang tua, pemerintah, TNI

Gambaran ruang kelas darurat yang muncul di berbagai titik pascagempa memperlihatkan satu pola: resiliensi pendidikan lahir dari kolaborasi, bukan dari satu aktor tunggal. Di SD Katolik Doki, ketika ruang kelas roboh dan rusak berat, guru memindahkan pembelajaran ke posko pengungsian sebelum bersama orang tua dan pemerintah setempat membangun posko belajar sederhana di tiga titik dengan rangka bambu dan terpal. Pembelajaran pasca-gempa tidak lagi mengenal batas jenjang, karena dalam satu posko bergabung murid TK, SD, hingga SMP; guru dipaksa merancang kelas rangkap sambil tetap menjaga ketenangan anak-anak yang trauma.

Di SMKN 1 Riung, satu terpal kiriman kementerian menjadi simbol harapan, apalagi ketika anggota Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan 834 turun tangan mendirikan tenda darurat untuk KBM. Kutipan yang patut dicatat dari wakil kepala sekolah setempat: satu terpal itu mungkin tampak sederhana, tetapi manfaatnya besar karena menjadi ruang berlindung sekaligus ruang pembelajaran. Sementara di SDK Nirangkliung, ruang kelas darurat di halaman sekolah lahir dari gotong royong orang tua ketika tiga ruangan, termasuk perpustakaan, tidak bisa digunakan setelah gempa. Pola ini jelas: tanpa menunggu anggaran rehabilitasi, ekosistem lokal bergerak lebih cepat daripada birokrasi.

Ketika Gempa Menutup Kelas: Lahirnya Ruang Belajar Darurat

Anak-anak di bawah terpal: antusias belajar di tengah trauma

Di balik narasi heroik tenda dan terpal, jangan dilupakan bahwa pembelajaran pasca-gempa berlangsung di tengah rasa takut yang nyata. Siswa SMPN 1 Talibura mengaku sedih tidak bisa kembali ke ruang kelas dan masih takut dengan gempa susulan meski sudah belajar di tenda darurat. Trauma bukan abstraksi; itu hadir setiap kali angin kencang menggoyang tiang bambu atau suara keras memicu kepanikan. Namun, mereka tetap datang ke sekolah, membantu memindahkan papan tulis, kursi, dan meja ke halaman, seolah ingin berkata bahwa sekolah boleh retak, tetapi keinginan belajar tidak boleh ikut roboh.

Di SD Katolik Doki, guru memaknai tugas pascagempa bukan sekadar mengembalikan jam pelajaran, tetapi juga memulihkan kondisi psikologis murid. Pendampingan psikososial bersama relawan membantu anak-anak kembali beraktivitas dengan lebih tenang, hingga antusias mereka mulai tampak dan mereka tidak lagi panik mengikuti kegiatan belajar. Di SMKN 1 Riung, satu terpal menjadi simbol harapan bagi guru dan siswa; jika atap sementara saja bisa menguatkan, bayangkan dampak jika resiliensi pendidikan diurus secara serius, terencana, dan berkelanjutan.

Dari darurat ke sistemik: menjadikan resiliensi pendidikan sebagai strategi tetap

Ruang kelas darurat yang muncul di halaman sekolah dan posko pengungsian adalah respon cepat yang patut diapresiasi, tetapi tidak boleh berhenti di situ. Di SDK Nirangkliung, laporan kerusakan sudah disampaikan ke dinas terkait, sementara ruang darurat dipakai agar proses belajar tidak terhenti sambil menunggu penanganan bangunan. Kepala sekolah berharap pemerintah tidak hanya hadir dengan bantuan terpal, tetapi juga dengan rehabilitasi yang layak bagi bangunan yang rusak. Di SD Katolik Doki, kepala sekolah menekankan pentingnya tindak lanjut survei lapangan dan revitalisasi satuan pendidikan, khususnya bagi sekolah yang sudah mengikuti bimbingan teknis, agar penanganan tidak berhenti pada fase tanggap darurat.

Pembelajaran pasca-gempa di sekolah bencana alam harus dibaca sebagai sinyal mendesak untuk merancang standar nasional ruang kelas darurat, pelatihan desain pembelajaran kelas rangkap, dan protokol pemulihan psikososial. Maria Sefiriana Sebo menegaskan harapan agar guru dibekali pelatihan desain pembelajaran kelas rangkap untuk memperkuat kesiapan menghadapi kondisi serupa. Resiliensi pendidikan bukan sekadar kemampuan bangkit setelah bencana, melainkan kesiapan sistemik agar ketika tenda dan terpal kembali harus menggantikan tembok, tidak ada satu pun anak yang kehilangan hak belajar walau sehari.

Ketika Gempa Menutup Kelas: Lahirnya Ruang Belajar Darurat

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!