Inti Masalah: Pasar Ambruk, Pemain Premium Menggila
Pengiriman smartphone turun 11 persen adalah kondisi ketika volume ponsel yang dikirim ke pasar global merosot tajam dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dipicu krisis memori chip smartphone yang menaikkan biaya produksi dan memaksa produsen mengubah strategi harga, portofolio, serta fokus segmen pasar mereka. Pengiriman smartphone global anjlok 11 persen secara tahunan pada kuartal kedua, menjadi level terendah untuk kuartal II sejak lebih dari satu dekade. Ini bukan sekadar siklus lesu, melainkan koreksi struktural: komponen makin mahal, daya beli menurun, dan vendor dipaksa memilih antara margin, volume, atau repositioning produk.
Di tengah badai, Samsung memimpin dengan 24 persen pangsa pasar, sementara Apple menguntit dengan 20 persen. Ironinya, ketika hampir semua pemain menderita, dua raksasa premium ini justru menikmati pertumbuhan. Ini menegaskan satu hal: pasar smartphone kini sedang dipolarisasi—kalau tidak kuat di premium, bersiaplah tersisih.

Krisis Memori: Mengapa Ponsel Murah yang Paling Babak Belur?
Kunci kekacauan ini ada pada krisis memori chip smartphone. Harga memori DRAM dan NAND melonjak nyaris 300 persen secara tahunan, hingga menyumbang sekitar 65 persen bill of materials untuk perangkat entry-level. Dalam kata lain, komponen yang dulu sekadar salah satu pos biaya, kini menguasai sebagian besar biaya produksi ponsel murah. Tidak mengherankan jika banyak vendor terpaksa menaikkan harga jual, terutama pada ponsel kelas entry-level dan menengah.
Akibatnya, harga HP naik kelangkaan memori, dan smartphone entry-level serta menengah menjadi sulit dipasarkan pada harga sebelumnya. Konsumen merasakan langsung: ponsel yang dulu terjangkau kini terasa kemahalan, sehingga banyak yang menunda pembelian, memilih model lama, atau memperpanjang usia pakai perangkat. Tekanan ini diperparah ketegangan geopolitik yang menaikkan biaya logistik dan inflasi yang menggerus daya beli. Dalam kondisi seperti ini, pemain yang hidup dari volume ponsel murah berada di posisi paling rapuh.

Samsung dan Apple: Menang Karena Mahal, Bukan Meski Mahal
Di segmen premium, cerita berbalik. Samsung menjadi merek HP terbesar dengan 24 persen market share, naik dari 20 persen tahun sebelumnya, dan menjadi satu-satunya vendor lima besar dengan pertumbuhan shipment paling tinggi. IDC memperkirakan Samsung mengirim sekitar 62,7 juta unit, naik 8,1 persen tahun ke tahun. Motor utamanya adalah seri Galaxy S26, khususnya Galaxy S26 Ultra, yang laris berkat fitur AI dan Privacy Display, plus kemampuan perusahaan menjaga stok dan menahan kenaikan harga di beberapa pasar.
Apple juga menikmati momentum. Pangsa pasarnya naik dari 17 persen menjadi 20 persen—rekor tertinggi untuk kuartal kedua—dengan pertumbuhan pengiriman sekitar 3 persen. IDC bahkan mencatat kenaikan pengiriman hingga sekitar 15,3 persen secara tahunan, dengan estimasi 55,8 juta unit. Seri iPhone 17 menjadi salah satu ponsel dengan pengiriman terbesar secara global. Selama kuartal tersebut, Apple menahan harga meski komponen mahal, sementara kompetitor mid-range terpaksa menaikkan banderol. Inilah keuntungan brand premium: ketika biaya naik, mereka bisa menyerap sebagian beban tanpa langsung kehilangan daya tarik.

Xiaomi, Oppo, Vivo: Ketika Model Bisnis Volumenya Berbalik Arah
Berbeda dengan Samsung dan Apple, tiga vendor besar berbasis mid-range—Xiaomi, Oppo, dan Vivo—menghadapi tekanan serius. Pengiriman mereka turun tajam: Xiaomi merosot sekitar 26,3 persen menjadi 31,2 juta unit, Oppo turun 17,5 persen menjadi 28,8 juta, dan Vivo menurun 19,4 persen menjadi 21,2 juta. Laporan lain menegaskan, ketiganya mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya produksi yang didorong mahalnya chip memori DRAM dan NAND. Ketika chip memori mendominasi biaya di segmen HP kelas bawah, model bisnis berbasis volume dan harga tipis mendadak tidak lagi masuk akal.
Pengiriman smartphone turun 11 persen secara global menambah beban: pasar menyusut, sementara biaya meroket. Banyak produsen di segmen ini harus memilih: menaikkan harga dan mempertaruhkan permintaan, atau menahan harga dengan margin yang terkikis. Sebagian memperpanjang umur produk lama dan mengurangi peluncuran baru. Singkatnya, krisis memori chip smartphone mengungkap kelemahan struktural vendor mid-range: mereka terlalu bergantung pada kombinasi harga murah dan upgrade tahunan untuk bertahan.
Ke Depan: Pasar Mengecil, Harga Naik, dan Polarisasi Menguat
Gambaran ke depan tidak manis. Data lain menyebut pengiriman smartphone pada kuartal kedua turun 6,7 persen menjadi 277,5 juta unit, dan riset memprediksi pengiriman global akan kembali merosot hingga sekitar 14 persen sepanjang tahun. Krisis pasokan memori diperkirakan berlanjut hingga beberapa tahun, sehingga produsen akan lebih fokus menjual perangkat bernilai tinggi ketimbang mengejar volume. Artinya, harga HP naik kelangkaan chip belum akan mereda; konsumen harus siap menghadapi ponsel yang semakin mahal dan siklus upgrade yang lebih panjang.
Krisis ini juga bukan sekadar soal komponen, melainkan soal strategi. Pemain premium seperti Samsung dan Apple membuktikan bahwa di pasar yang menyusut, kualitas brand, ekosistem, dan kemampuan mengelola harga lebih penting daripada sekadar spesifikasi tinggi dengan harga murah. Jika tren ini berlanjut, pasar smartphone akan semakin terbelah: di satu sisi perangkat premium dengan margin tebal dan inovasi AI, di sisi lain segmen entry-level yang semakin sempit dan kurang menarik bagi produsen. Konsumen mungkin kehilangan pilihan murah, tapi mendapatkan dorongan untuk lebih selektif—membeli lebih jarang, tapi dengan pertimbangan yang jauh lebih matang.






