Target besar harus dimulai dari sistem yang utuh
Pengolahan sampah terpadu adalah rangkaian pemilahan, pengangkutan, pemrosesan, dan pemanfaatan residu yang dirancang agar sampah tidak menumpuk di tempat pembuangan akhir. Target Presiden Prabowo Subianto agar persoalan sampah nasional tertangani pada 2028 memberi arah yang tegas, tetapi tenggat itu hanya akan berarti jika seluruh mata rantai bekerja bersama. Dalam forum industri di Jakarta pada 28 Oktober 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Danantara mendapat mandat mengembangkan solusi terpadu, termasuk teknologi waste-to-energy, dan proses pengadaan teknologinya telah dimulai. Langkah ini patut didorong, tetapi membangun fasilitas saja bukan ukuran keberhasilan. Tanpa pemilahan di rumah, pasokan sampah yang sesuai, armada angkut andal, dan rencana operasi jangka panjang, teknologi mahal berisiko menjadi bangunan yang tidak menyelesaikan masalah. Pemerintah perlu menilai kemajuan dari sampah yang benar-benar tertangani, bukan dari jumlah proyek yang diumumkan.

Sampah jadi listrik bukan pengganti pengurangan dan pemilahan
Skema Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menawarkan dua manfaat: mengurangi volume sampah yang membebani tempat pemrosesan akhir dan menghasilkan listrik. Sampah perkotaan dapat diproses secara termal atau biologis, sementara rencana pemerintah memadukan instalasi besar untuk kawasan padat dengan unit modular yang lebih dekat ke kelurahan atau desa. Namun, sampah jadi listrik sebaiknya ditempatkan sebagai satu bagian dari kebijakan, bukan jalan pintas yang membuat pengurangan dan daur ulang tersisih. Fasilitas hanya dapat bekerja baik jika bahan masuk terpilah dan pasokannya konsisten. Karena itu, integrasi dari hulu hingga hilir harus menjadi syarat proyek: warga memilah, layanan pengangkutan menjaga aliran bahan, dan fasilitas memproses sisa yang sesuai. Prinsip mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang tetap penting agar teknologi energi tidak mendorong produksi sampah baru.
Teknologi desa perlu sesuai kebutuhan warga
Dorongan dari pusat juga menyasar rumah tangga dan desa. Dalam pertemuan dengan Kepala BRIN Arif Satria di Istana Kepresidenan pada 27 Oktober 2026, Prabowo meminta BRIN mempercepat penerapan teknologi pengolahan sampah hingga tingkat rumah tangga dan desa. BRIN diminta berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta perguruan tinggi untuk membantu desa mengenali persoalan setempat dan memilih solusi yang cocok. Arah ini masuk akal: kebutuhan desa tidak seragam, sehingga satu jenis alat belum tentu tepat untuk semua tempat. BRIN telah mengembangkan teknologi untuk skala rumah tangga, desa, kecamatan, hingga kota. Akan tetapi, prototipe tidak otomatis menjadi layanan yang berfungsi. Pengolahan sampah desa perlu mempertimbangkan jenis dan jumlah sampah, kemampuan operator, perawatan alat, serta pengelolaan hasilnya. Pendampingan akademisi dapat menjembatani riset dengan kondisi lapangan, sementara pemerintah daerah dan warga harus ikut memiliki sistemnya.
Ukur keberhasilan dari penerapan, bukan pengumuman
Pekerjaan berikutnya lebih sulit daripada menetapkan target: menentukan lokasi uji coba, menyusun pembiayaan, menyiapkan operator, dan memastikan teknologi tetap berjalan setelah masa awal. BRIN belum merinci lokasi percontohan, anggaran, atau jadwal penerapan di desa; koordinasi dengan kementerian terkait dan perguruan tinggi masih menjadi tahap selanjutnya. Karena itu, tenggat 2028 perlu diterjemahkan menjadi tahapan yang terbuka dan dapat dinilai masyarakat. Pemerintah sebaiknya mengukur hasil melalui pengurangan timbunan, mutu pemilahan, keberlangsungan operasi, dan manfaat nyata bagi warga. Danantara dapat mendorong proyek berskala besar, sementara BRIN dan kampus membantu solusi yang lebih dekat ke komunitas. Kedua jalur itu hanya akan saling menguatkan bila terhubung dengan layanan pengangkutan dan kebiasaan warga. Kesimpulannya, teknologi waste-to-energy penting, tetapi keberhasilan penanganan sampah ditentukan oleh sistem lengkap dari rumah hingga fasilitas akhir.






