Belajar teknologi dari hal yang dekat
Pengabdian masyarakat mahasiswa adalah kegiatan pembelajaran di luar kampus ketika mahasiswa menerapkan pengetahuan untuk menjawab kebutuhan warga, termasuk membantu sekolah membangun kecakapan teknologi dan pengelolaan informasi. Bentuk konkretnya terlihat saat mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) mengunjungi SDN Duren Sawit 01 untuk mengenalkan dasar teknologi informasi dan komunikasi. Tim yang terdiri atas tujuh mahasiswa mengajarkan algoritma melalui contoh urutan memasak mi instan, lalu memperkenalkan fungsi perangkat seperti CPU, papan ketik, tetikus, dan monitor. Cara ini lebih masuk akal bagi siswa sekolah dasar daripada memulai dengan istilah teknis yang jauh dari pengalaman mereka. Dalam sesi edukasi coding siswa, bahasa pemrograman dijelaskan sebagai cara manusia memberi instruksi kepada komputer, termasuk untuk membuat permainan, situs web, dan aplikasi. Kegiatan ditutup dengan lomba mengetik yang memberi ruang bagi siswa untuk mencoba keterampilan secara langsung.

Excel sebagai kecakapan belajar sehari-hari
Keterampilan digital tak berhenti pada mengenal perangkat atau bahasa pemrograman. Pada 24 Oktober 2026, mahasiswa UBSI mengadakan pelatihan Excel sekolah bagi sekitar 30 siswa kelas VIII MTs NU 01 Kramat di Kabupaten Tegal. Siswa mempelajari fungsi SUM untuk menjumlahkan data, MAX untuk mencari nilai tertinggi, MIN untuk nilai terendah, dan AVERAGE untuk menghitung rata-rata. Materi disampaikan melalui praktik langsung, sehingga rumus tidak hanya menjadi deretan nama yang harus dihafal. Inilah inti literasi digital sekolah: siswa perlu mampu mengolah dan menyajikan informasi, bukan sekadar membuka aplikasi atau mencari jawaban. Keterampilan tersebut dapat dipakai untuk tugas belajar, misalnya menghitung nilai dan merapikan data. Agar pelatihan tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, siswa dapat terus berlatih menggunakan aplikasi itu dalam pembelajaran berikutnya.
Dari kas kelas hingga keputusan finansial
Teknologi menjadi lebih bermakna ketika membantu menyelesaikan urusan nyata. Di SMPN 14 Tegal, 30 siswa kelas 8B belajar mengelola kas kelas, termasuk memasukkan pemasukan dan pengeluaran ke tabel agar saldo dapat dihitung otomatis. Latihan tersebut mengaitkan pencatatan digital dengan tanggung jawab, keterbukaan, dan kejujuran—pelajaran yang relevan karena kas kelas menyangkut kepentingan bersama. Di jenjang lebih tinggi, 31 siswa kelas X AKL 2 SMK Ihsaniyah mengikuti edukasi investasi pada 17 Oktober 2026. Mahasiswa membahas perencanaan keuangan, kebiasaan menabung, risiko investasi, serta pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan. Siswa juga diajak berhati-hati terhadap tawaran investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal. Dua contoh ini menunjukkan bahwa kecakapan abad ke-21 bukan hanya soal perangkat lunak: mengelola data dan mengambil keputusan keuangan secara bertanggung jawab sama pentingnya.

Dampak bergantung pada latihan berkelanjutan
Rangkaian kegiatan UBSI memperlihatkan jangkauan pengabdian masyarakat mahasiswa dari sekolah dasar hingga sekolah menengah kejuruan. Isinya beragam, tetapi benang merahnya jelas: siswa diajak memahami teknologi lewat contoh yang dekat, mencoba sendiri, lalu menghubungkannya dengan kebutuhan belajar dan kehidupan sehari-hari. Pendekatan praktik seperti ini lebih kuat daripada ceramah satu arah karena memberi kesempatan kepada siswa untuk menguji pemahaman. Namun, satu kegiatan belum cukup untuk memastikan keterampilan bertahan. Sekolah perlu memberi ruang latihan lanjutan, sementara mahasiswa dapat merancang materi bertahap sesuai usia dan kemampuan peserta. Pelatihan Excel, misalnya, dapat diteruskan dalam tugas pengolahan data; pengenalan komputer dapat menjadi pijakan untuk belajar pemrograman lebih jauh. Inisiatif ini sudah menjadi langkah berarti untuk memperkuat literasi digital dan kecakapan praktis pelajar. Kesimpulannya, nilai program akan semakin besar bila keterampilan yang dikenalkan di kelas terus dipakai setelah kegiatan selesai.







