Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mahasiswa Bawa STEM Praktis ke Sekolah Dasar: Dari Gizi, Listrik, hingga DNA

Mahasiswa Bawa STEM Praktis ke Sekolah Dasar: Dari Gizi, Listrik, hingga DNA
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Gelombang Baru: Mahasiswa Mengajar Sains Praktis di Sekolah Dasar

Program PKM sekolah dasar yang menghadirkan mahasiswa untuk mengajar sains dan teknologi secara langsung di kelas adalah inisiatif pengabdian masyarakat yang menghubungkan kampus dengan sekolah, memakai edukasi STEM interaktif dan pembelajaran sains praktis berbasis demonstrasi sehingga siswa SD bisa memahami topik kompleks seperti gizi, kelistrikan, dan biologi molekuler melalui pengalaman hands-on yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Tren ini patut dibaca sebagai sinyal perubahan: kampus tidak lagi hanya mengurus riset dan kuliah, tetapi mulai turun ke ruang kelas dasar. Mahasiswa ajar siswa SD tidak sebatas sosialisasi sains ke sekolah; mereka membongkar jarak psikologis antara anak dan sains. Di balik aktivitas yang tampak sederhana, ada ambisi besar: membangun literasi sains sejak dini dan menyiapkan generasi tertarik pada STEM, bukan sekadar hafal rumus di buku.

Gemarikan di Malang: Gizi Ikan dan Stunting Disulap Jadi Topik Seru

Di SDN 2 Curungrejo, Kepanjen, Kabupaten Malang, mahasiswa Pengabdian Kepada Masyarakat Bahari Kelompok 10 FPIK Universitas Brawijaya menggelar sosialisasi Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) pada Kamis 6 Agustus 2026. Sebanyak 60 siswa—15 siswa kelas IV, 22 siswa kelas V, dan 23 siswa kelas VI—menjadi peserta utama dalam kampanye gizi ikan dan pencegahan stunting. Sasaran ini tidak acak; usia 10–12 tahun adalah fase penting pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif yang menuntut asupan protein hewani dan Omega-3 memadai. Menariknya, isu berat seperti stunting diterjemahkan menjadi lomba menggambar, mewarnai, permainan edukatif, dan materi visual dengan Buku Saku Penjelajah Gemarikan.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran sains praktis di tingkat dasar tidak wajib berupa lab canggih; cukup media kreatif yang dekat dengan keseharian anak—dari ilustrasi isi piring hingga cerita tentang ikan sebagai sumber protein. Menurut Dr. Mochammad Fattah, pemenuhan gizi anak bukan soal membuat mereka kenyang, tetapi memastikan kualitas isi piring yang benar-benar kaya nutrisi. Kutipan ini penting: ia menegaskan bahwa literasi sains gizi adalah alat kebijakan publik jangka panjang, bukan sekadar ceramah kesehatan. Penyerahan modul Gemarikan kepada sekolah menegaskan model kolaborasi universitas–sekolah dasar: kampus menyediakan konten ilmiah, sekolah memelihara kebiasaan sehat melalui materi yang bisa diintegrasikan ke pembelajaran harian.

Listrik Sahabat Kita: Energi, Kesadaran, dan Anak Pesisir Tanjungpinang

Di Tanjungpinang, tim PKM menjalankan program "Listrik Sahabat Kita" di SD Negeri 010 Senggarang dengan tema edukasi hemat energi dan pengenalan dasar kelistrikan bagi anak-anak pesisir. Fokusnya jelas: membawa edukasi STEM interaktif ke wilayah yang kerap dipinggirkan dalam narasi pendidikan sains. Materi kelistrikan disampaikan dengan pendekatan sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa sekolah dasar. Ini bukan kuliah teknik; ini adalah percakapan tentang lampu di rumah, charger ponsel, dan kebiasaan menyalakan perangkat tanpa berpikir. Anak diarahkan pada kebiasaan hemat energi dan kesadaran penggunaan listrik yang aman dan bertanggung jawab.

Di sini tampak jelas bagaimana program PKM sekolah dasar punya lapisan keadilan sosial: ketika kampus hadir di Kelurahan Senggarang, ia memotong jarak antara pusat pengetahuan dan anak-anak pesisir. Edukasi hemat energi bukan retorika abstrak; ia jadi alat untuk menekan biaya dan risiko di rumah-rumah yang mungkin rentan instalasi listrik seadanya. Kegiatan ini juga memperkuat hubungan perguruan tinggi dan masyarakat lewat manfaat langsung bagi siswa. Program seperti "Listrik Sahabat Kita" seharusnya dibaca sebagai prototipe kebijakan: jika kurikulum nasional sungguh ingin menanamkan literasi energi, model pembelajaran sains praktis yang kontekstual seperti ini jauh lebih efektif daripada soal pilihan ganda tentang sumber energi.

Ekstraksi DNA di Bulukumba: Biologi Molekuler Turun ke Kelas

Di Desa Ara, Kabupaten Bulukumba, Tim Pengabdian Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin memperkenalkan metode isolasi dan ekstraksi DNA sederhana kepada guru dan siswa SMA Negeri 16 Bulukumba dalam Program Kemitraan Masyarakat tahun 2026. Kegiatan digelar di ruang kelas pada Senin, 24 Agustus 2026. Pengenalan bioteknologi dipilih karena selaras dengan kurikulum, tetapi tim menolak berhenti di teori; mereka menyajikan praktikum sehingga konsep biologi molekuler betul-betul terbaca di depan mata siswa.

Ketua tim, Prof. Dr. apt. Herlina Rante, memperkenalkan ekstraksi DNA dari bunga dengan metode kitchen preparation memakai bahan dan peralatan sangat sederhana. Tahapannya: kelopak bunga digerus lalu diberi larutan buffer (air, deterjen cair, garam) untuk melisis membran inti; filtrat kemudian ditambahkan alkohol dingin dan DNA muncul sebagai serat putih yang menggumpal. Siswa dibagi empat kelompok untuk mempraktikkan langsung prosedur ini. Di sinilah kekuatan pembelajaran sains praktis: DNA tidak lagi sekadar istilah di buku, tetapi benda yang bisa dilihat dan dipegang. Kepala sekolah menilai kegiatan ini memberi motivasi nyata bagi siswa kelas XII yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Mahasiswa Bawa STEM Praktis ke Sekolah Dasar: Dari Gizi, Listrik, hingga DNA

Mengapa Model PKM-STEM ke Sekolah Dasar Perlu Jadi Arus Utama

Jika tiga contoh ini dirangkai, terlihat pola yang tak boleh diabaikan: universitas menjadikan sekolah sebagai mitra riset sosial, bukan sekadar objek pengabdian formalitas. Di Malang, fokusnya gizi ikan dan pencegahan stunting dengan dukungan target SDG tentang Zero Hunger, Good Health and Well-being, Quality Education, dan Partnerships for the Goals. Di Tanjungpinang, kelistrikan dan energi diangkat dari sudut pandang anak pesisir. Di Bulukumba, biologi molekuler yang biasanya elit dijadikan aktivitas kitchen lab dalam ruang kelas biasa.

Program PKM sekolah dasar dan menengah ini membuktikan bahwa sosialisasi sains ke sekolah paling efektif ketika interaktif, kontekstual, dan praktis. Anak bukan penerima ceramah, melainkan pelaku eksperimen. Konsekuensinya strategis: literasi sains tumbuh sejak dini, minat terhadap STEM meningkat, dan akses pendidikan berkualitas meluas ke daerah pesisir serta desa yang jauh dari kota besar. Tantangannya sekarang justru di kampus dan pemerintah: berani menjadikan model ini bagian terstruktur dari kebijakan pendidikan, bukan kegiatan insidental menjelang Dies Natalis saja. Tanpa keberlanjutan, benih rasa ingin tahu yang sudah ditanam berisiko layu sebelum sempat berbuah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!