Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mahasiswa Universitas Bawa Literasi Keuangan ke Sekolah

Mahasiswa Universitas Bawa Literasi Keuangan ke Sekolah
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi keuangan siswa: saat kampus turun langsung ke kelas

Literasi keuangan siswa adalah upaya sistematis untuk menolong anak dan remaja memahami cara memperoleh, menyimpan, menghitung, dan menggunakan uang secara bijak, dengan menghubungkannya pada pembelajaran numerasi sekolah dan kebiasaan sehari-hari sehingga mereka mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta membuat keputusan finansial sederhana sejak usia dini. Di sinilah pengabdian masyarakat universitas mulai terasa relevan: bukan sekadar agenda formal tridarma, tetapi intervensi konkret ke ruang kelas dan kampung. Ketika dosen dan mahasiswa membawa program menabung anak, poster PHBS, dan sudut bahasa Inggris ke sekolah dasar dan menengah, mereka sebenarnya sedang menantang pendekatan lama yang menganggap urusan uang sebagai hal yang "nanti saja". Jika generasi muda dibiarkan belajar uang hanya lewat media sosial dan iklan, kita kalah sebelum bertanding.

Mahasiswa Universitas Bawa Literasi Keuangan ke Sekolah

Smart Student, Smart Money: numerasi jadi alat berpikir kritis

Program "Smart Student, Smart Money" di SMA Negeri 1 Tambun Selatan menunjukkan bahwa pembelajaran numerasi sekolah bisa hidup ketika dihubungkan langsung dengan uang saku siswa. Dosen S1 Pendidikan Ekonomi dan S1 Ilmu Ekonomi dari sebuah fakultas ekonomi mengemas pengabdian masyarakat universitas sebagai komitmen nyata pada SDGs 4 melalui penguatan literasi keuangan siswa dan kemampuan berhitung dalam konteks anggaran. Sebanyak 152 siswa diajak menganalisis rata-rata uang saku, membedakan kebutuhan dan keinginan, lalu menyusun rencana pengeluaran sederhana berbasis angka. "Materi yang disampaikan mencakup konsep dasar literasi keuangan, pentingnya mengelola keuangan sejak dini, perbedaan kebutuhan dan keinginan, hingga penerapan numerasi dalam menyusun rencana anggaran sederhana". Survei awal pada April 2026 yang menunjukkan lemahnya kebiasaan mencatat dan merencanakan pengeluaran menjadi pemicu, dan respon kampus ini pantas disebut sebagai koreksi atas kurikulum yang terlalu teoritis.

Dusun Kepuh: menabung lewat celengan, bukan ceramah

Di Dusun Kepuh, pendekatan literasi keuangan jauh lebih membumi: mahasiswa KKN menggelar program "Edukasi Gemar Menabung pada Anak Usia Dini" untuk anak TK hingga SD sebagai bentuk edukasi pengelolaan uang yang dapat mereka rasakan langsung. Alih-alih memberi nasihat abstrak, mereka mulai dari pertanyaan sederhana: mana yang kebutuhan dan mana yang keinginan, lalu menghubungkannya dengan kebiasaan menyisihkan uang. Setelah materi, anak-anak menghias celengan sebagai media program menabung anak yang menyenangkan dan interaktif. Kegiatan diikuti 15 anak, terdiri dari 5 laki-laki dan 10 perempuan. Yang paling penting, kebiasaan menabung tidak berhenti di aula: orang tua melaporkan anak semakin rajin memasukkan uang ke celengan dan pendampingan keluarga didorong sebagai penopang keberlanjutan program. Inilah literasi keuangan siswa versi kampung: kreatif, murah, dan berkelanjutan karena melibatkan rumah sebagai ruang belajar.

Mahasiswa Universitas Bawa Literasi Keuangan ke Sekolah

Poster PHBS dan English Corner: literasi dimulai dari tembok kelas

Di sebuah SD Muhammadiyah, mahasiswa KKN dari universitas lain memilih strategi yang tampak sederhana namun efektif: mengubah tembok kelas menjadi media belajar. Mereka membuat dan memasang empat poster bilingual bertema PHBS, pemilahan sampah, serta dua poster English Corner sebagai upaya meningkatkan exposure siswa terhadap materi sehat dan bahasa Inggris dalam keseharian. Program ini adalah bagian dari pengabdian masyarakat universitas berbasis SDGs 4, dengan fokus pada penyediaan media pembelajaran visual yang komunikatif dan menarik agar materi mudah dipahami sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang lebih edukatif. Prosesnya tidak asal tempel: dimulai dari observasi kebutuhan, menyusun materi sesuai karakter siswa SD, lalu desain dan pemasangan di titik strategis kelas. Pendekatan ini menunjukkan bahwa literasi—baik kesehatan, bahasa, maupun keuangan di tahap awal—sering kali mulai dari hal sesederhana apa yang anak lihat setiap hari.

Mahasiswa Universitas Bawa Literasi Keuangan ke Sekolah

Kolaborasi kampus–sekolah: model pembelajaran interaktif yang layak diperluas

Benang merah dari tiga inisiatif ini jelas: ketika kampus mau turun ke sekolah, lahirlah model pembelajaran interaktif yang melibatkan mahasiswa sebagai fasilitator di tingkat dasar dan menengah. Di SMA, dosen menantang siswa mengkritisi uang saku melalui numerasi; di dusun, mahasiswa menghidupkan program menabung anak dengan celengan; di SD, poster PHBS dan English Corner memperkaya literasi visual di kelas. Semua berpayung pada SDGs 4, tetapi daya ubahnya terasa pada kebiasaan nyata: anak yang mulai menabung, siswa yang belajar mengatur uang, dan kelas yang lebih informatif. Ke depan, universitas seharusnya tidak sekadar mengulang pola, tetapi mengintegrasikan literasi keuangan siswa dengan tema lain—kesehatan, lingkungan, bahasa—agar edukasi pengelolaan uang menjadi bagian dari kecakapan hidup yang utuh. Kalau kampus dan sekolah terus berkolaborasi seperti ini, kita punya alasan optimis terhadap generasi yang lebih melek angka dan makna uang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!