Patriotisme perlu dibiasakan dan diwujudkan
Patriotisme adalah kecintaan kepada bangsa yang tampak dalam disiplin, tanggung jawab, kegigihan, dan kepedulian kepada sesama, bukan sekadar penghormatan pada simbol negara. Dua kegiatan di Bulungan dan Natuna memperlihatkan jalan berbeda untuk menghidupkan nilai itu: membangun kebiasaan di sekolah serta mengaitkannya dengan pengabdian dan kemanusiaan di wilayah perbatasan.
Pada Senin, 26 Oktober 2026, Polresta Bulungan mengadakan upacara bendera di SMKN 1 Tanjung Selor sebagai bagian dari pembinaan karakter pelajar. Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WITA itu mencakup pengibaran Merah Putih, pembacaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, serta doa bersama; Ps. Kabag SDM Polresta Bulungan, AKP Muhammad Imran Tawainella, hadir mewakili Kapolresta.
Upacara bukan jawaban lengkap untuk membentuk nasionalisme pelajar, tetapi rutinitas yang bermakna dapat menjadi awal. Nilainya baru terasa jika penghormatan terhadap aturan dan simbol negara diteruskan menjadi perilaku bertanggung jawab di sekolah dan masyarakat.

Sekolah mengubah nilai menjadi kebiasaan
Sekolah adalah ruang dekat dengan keseharian pelajar, sehingga pendidikan karakter di sana sebaiknya tidak berhenti pada seremoni. Upacara memberi kesempatan untuk mengingat nilai bersama; keteladanan guru, konsistensi aturan, dan ruang bagi siswa untuk bertanggung jawab menentukan apakah ingatan itu menjadi kebiasaan.
Kasubsi PIDM Sihumas Polresta Bulungan, Aipda Hadi Purnomo, menegaskan bahwa pembinaan yang konsisten melalui kegiatan positif perlu membiasakan siswa menghargai aturan, menghormati simbol negara, dan memahami tanggung jawab sebagai generasi penerus. Ia juga menyebut pelajar perlu disiplin, menaati aturan, serta menjaga perilaku di sekolah maupun di tengah masyarakat.
Karena itu, kerja sama kepolisian dan sekolah layak diteruskan, bukan hanya ketika ada upacara. Polresta Bulungan menyatakan sinergi tersebut perlu diperkuat agar sekolah juga menjadi ruang pembentukan moral dan kesadaran hukum, selain tempat menimba ilmu.
Perbatasan menuntut patriotisme yang peduli
Di Natuna, patriotisme dibicarakan dalam konteks wilayah perbatasan dan tantangan membangun masa depan bersama. Pada Rabu, 28 Oktober 2026, Bupati Natuna Cen Sui Lan memimpin upacara Hari Sumpah Pemuda ke-98 di Alun-alun Pantai Piwang, Bunguran Timur, sekaligus membacakan amanat Menteri Pemuda dan Olahraga.
Pesan yang digaungkan menekankan tiga karakter: patriotik, gigih, dan berempati. Amanat itu menghubungkan cinta bangsa dengan pengabdian, kegigihan menghadapi tantangan, serta perhatian pada persoalan sosial. Rumusannya penting: “Nasionalisme tanpa kepedulian akan kehilangan maknanya, kegigihan tanpa nurani akan kehilangan arah, dan kemajuan tanpa kemanusiaan bukanlah kemajuan yang sesungguhnya.”
Jika sekolah mengajarkan disiplin melalui praktik sehari-hari, seruan dari perbatasan memperluas pandangan tentang siapa yang harus menerima manfaat patriotisme. Generasi patriotik bukan hanya teguh membela bangsa, tetapi juga siap melayani dan mengulurkan tangan kepada sesama.
Dua konteks, satu ukuran: tindakan nyata
Bulungan dan Natuna menawarkan penekanan yang saling melengkapi. Di sekolah, disiplin dan kepatuhan memberi fondasi perilaku; di Natuna, kedekatan dengan konteks perbatasan menjadi panggung untuk menegaskan pengabdian, kegigihan, persatuan, dan empati. Keduanya mengingatkan bahwa patriotisme tidak tumbuh dari slogan semata.
Tantangannya adalah menjaga agar pesan upacara berlanjut setelah barisan bubar: pelajar menghargai aturan, sekolah menanamkan tanggung jawab secara konsisten, dan pemuda menggunakan ilmu serta karya untuk membantu masyarakat. Tanpa tindak lanjut itu, pendidikan karakter mudah menjadi agenda seremonial; tanpa empati, nasionalisme kehilangan hubungan dengan kehidupan warga.
Kesimpulannya, pembinaan di sekolah dan seruan dari wilayah perbatasan bukan dua pilihan yang bersaing. Keduanya perlu berjalan bersama: disiplin membentuk kebiasaan, sementara kepedulian memberi arah pada kebiasaan tersebut. Ukuran keberhasilannya ialah lahirnya generasi muda yang mencintai bangsa sekaligus bertanggung jawab kepada sesamanya.






