Pembangunan SDM Lampung: Mengubah Cara Kita Melihat Kemajuan
Pembangunan SDM Lampung adalah strategi yang menempatkan manusia berilmu, berakhlak, dan beriman sebagai pusat kemajuan daerah, sehingga infrastruktur fisik seperti jalan, jembatan, dan gedung hanya menjadi alat pendukung, bukan tujuan utama. Pendekatan ini menuntut pemerintah, ulama, dan masyarakat bekerja bersama membentuk generasi yang kuat secara moral, sosial, dan ekonomi agar pembangunan tidak berhenti pada beton dan aspal, tetapi menghasilkan kehidupan yang lebih adil, berkarakter, dan berkelanjutan. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal secara terang menolak paradigma lama yang mengukur keberhasilan daerah dari banyaknya proyek fisik, karena menurutnya, tanpa manusia yang baik, semua infrastruktur akan kosong makna dan mudah rusak, baik secara fisik maupun sosial. Pernyataan itu disampaikan saat ia menghadiri Perayaan Maulid Nabi dan penutupan Maulid Arbain Lampung di Masjid Raya Al‑Bakrie, Bandar Lampung, pada Sabtu malam, 26 September 2026. Momentum keagamaan 40 malam berturut‑turut ini dipakai sebagai panggung politik nilai: menegaskan bahwa iman dan akhlak bukan pelengkap, melainkan pilar pembangunan. Di sini terlihat jelas, gubernur ingin mengikat agenda pembangunan SDM Lampung dengan tradisi religius yang hidup di tengah masyarakat, agar narasi pembangunan tidak steril dari dimensi spiritual dan sosial.
Infrastruktur dan Akhlak: Mengapa Beton Tanpa Moral Adalah Resep Kerapuhan
Pernyataan Gubernur bahwa membangun Lampung tidak cukup dengan membangun jalan, jembatan, dan gedung adalah kritik halus terhadap model pembangunan yang masih sibuk mengukur keberhasilan dengan panjang ruas jalan dan tinggi gedung pemerintah. Infrastruktur memang penting, tetapi ia cepat kehilangan nilai ketika dikendalikan oleh manusia yang lemah integritas. Korupsi, proyek asal jadi, dan tata ruang yang abai lingkungan adalah bukti klasik bahwa beton tanpa akhlak adalah investasi yang rapuh. Di Maulid Arbain bertema "Lampung Bersinar" yang juga mengusung gerakan bersih narkoba, gubernur menggandeng para habib, ulama, dan majelis keagamaan untuk mengawal akhlak generasi muda. Ia menegaskan, kecintaan kepada Nabi harus diterjemahkan dalam kejujuran, kelembutan terhadap keluarga, kesantunan kepada sesama, dan kasih sayang. Di sinilah infrastruktur dan akhlak bertemu: masjid, jalan, dan fasilitas publik hanyalah panggung; kualitas interaksi manusia di atasnya yang menentukan apakah Lampung tampak maju, atau sekadar tampak megah dari luar namun kosong nilai di dalam.
Program Desaku Maju: Pembangunan Berbasis Desa yang Bernyawa Manusia
Jika visi pembangunan manusia terdengar abstrak, Program Desaku Maju adalah bentuk konkret dari keberpihakan itu. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal mendorong pemerataan pembangunan berbasis desa lewat program ini, dengan menempatkan desa sebagai simpul ekonomi, pendidikan, dan penguatan sumber daya manusia. Ia menegaskan, pembangunan tidak boleh hanya berorientasi fisik; ia harus dimulai dari desa yang selama ini sering menjadi halaman belakang kebijakan. Desaku Maju menonjol karena memanfaatkan potensi lokal: kopi, hortikultura, pariwisata, ekonomi kreatif, hingga penguatan kelembagaan ekonomi desa. Pemerintah menetapkan 30 desa sebagai proyek percontohan pada 2026, sebuah angka kecil bila dibandingkan jumlah desa yang ada, tetapi cukup untuk menguji apakah model pembangunan berbasis desa ini benar‑benar inklusif atau hanya menjadi label program. Menariknya, program ekonomi itu disambungkan dengan pembangunan SDM Lampung melalui Satu Desa Satu Sarjana dan Satu Desa Satu Hafiz Al‑Qur’an, yang memberikan kesempatan anak desa kuliah lalu kembali mengabdi di wilayah asal. Di sini, desa tidak lagi dilihat sebagai penerima bantuan, melainkan produsen nilai ekonomi dan moral.
Akhlak, Iman, dan Desa: Pendekatan Holistik yang Menantang Cara Lama Berpemerintah
Visi gubernur jelas: pembangunan SDM Lampung harus diiringi penguatan akhlak dan iman, dan itu tidak mungkin dilakukan pemerintah sendirian. Ia secara terbuka mengakui ketergantungan pada para ulama, habib, dan tokoh agama untuk mendidik dan mengarahkan generasi muda. Di tingkat desa, program Satu Desa Satu Sarjana dan Satu Desa Satu Hafiz Al‑Qur’an dikaitkan dengan target berani: dalam tiga hingga lima tahun ke depan, tidak ada desa maupun masjid jami yang tidak memiliki imam hafiz Al‑Qur’an. Pendekatan holistik ini diperkuat dengan penekanan pada budaya: cara menghormati orang tua, bergotong‑royong, menjaga alam, dan mendidik generasi muda. Gagasan pengembangan Desa Budaya dan Desa Wisata adalah upaya menambatkan pembangunan ekonomi pada akar identitas lokal, agar desa maju tidak berarti desa kehilangan jati diri. Dengan generasi yang berpendidikan, berakhlak, dan menjauhi narkoba serta aktivitas negatif, harapannya pembangunan memberi manfaat lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat, bukan hanya menambah deretan proyek di laporan tahunan.
Kesimpulan: Ukuran Baru Kemajuan Lampung, Dari Moral ke Desa
Pembangunan berbasis desa dan penekanan pada iman serta akhlak adalah tawaran paradigma baru bagi Lampung: kemajuan diukur dari kualitas manusia dan kehidupan sosial, bukan dari seberapa mulus aspal atau megah gedung pemerintah. Program Desaku Maju, Satu Desa Satu Sarjana, dan Satu Desa Satu Hafiz Al‑Qur’an menunjukkan adanya upaya mengikat dimensi sosial, spiritual, dan ekonomi dalam satu kerangka kebijakan. Tentu, pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah gagasan ini bagus, melainkan apakah ia akan konsisten dijalankan ketika berhadapan dengan godaan proyek fisik yang cepat tampil di baliho. Jika Lampung mampu menjadikan manusia berakhlak sebagai tolok ukur utama, maka infrastruktur akan mengikuti sebagai konsekuensi, bukan sebagai kosmetik. Jika tidak, beton akan tetap mengeras, tetapi karakter masyarakat bisa mengikis, pelan namun pasti. Pilihan itu sedang diambil hari‑hari ini, dimulai dari masjid, desa, dan ruang pengajian, jauh sebelum tercatat rapi di dokumen rencana pembangunan.






