Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Infrastruktur Tahan Bencana Harus Jadi Politik Pembangunan

Infrastruktur Tahan Bencana Harus Jadi Politik Pembangunan
Minat|Asia Tenggara

Infrastruktur tahan bencana: dari jargon teknis menjadi keharusan politik

Infrastruktur tahan bencana adalah cara merancang, membangun, dan mengelola bangunan serta jaringan publik agar tetap berfungsi atau cepat pulih ketika menghadapi gempa, banjir, pergerakan tanah, maupun cuaca ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Konsep ini bukan sekadar persoalan teknik sipil, melainkan strategi ketahanan sosial-ekonomi jangka panjang yang menentukan keselamatan warga, kelancaran logistik, dan keberlanjutan layanan dasar. Di tengah perubahan iklim Indonesia yang memicu cuaca ekstrem kian tak menentu, menjadikan resiliensi infrastruktur sebagai prioritas utama bukan pilihan progresif, tetapi syarat minimum pemerintahan yang bertanggung jawab. Karena itu, ketika Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan perlunya peningkatan ketahanan infrastruktur di kawasan Ring of Fire, pesan tersebut sejatinya adalah pernyataan politik: negara wajib melindungi warganya dengan infrastruktur yang siap menghadapi bencana, bukan sekadar berdiri bagus di hari peresmian.

Pidato Dody di PUtech: sinyal keras bahwa era konstruksi lama sudah berakhir

Sidang Senat Terbuka Wisuda Ke-5 Politeknik Pekerjaan Umum (PUtech) di Semarang pada Sabtu, 19 September 2026, menjadi panggung penting untuk mengumumkan perubahan arah kebijakan infrastruktur. Di hadapan 230 lulusan Ahli Madya Teknik—72 dari Teknologi Konstruksi Bangunan Air, 82 dari Teknologi Konstruksi Jalan dan Jembatan, dan 76 dari Teknologi Konstruksi Bangunan Gedung—Menteri PU Dody Hanggodo menyatakan tantangan pembangunan tidak lagi sekadar fisik. Ia menekankan bahwa infrastruktur harus tahan gempa, kebakaran, dan kondisi ekstrem lain karena berada di Ring of Fire. Pernyataan ini harus dibaca sebagai kritik terhadap praktik konstruksi yang selama ini mengejar kecepatan peresmian, namun abai pada resiliensi infrastruktur. Ketika perubahan iklim dan cuaca ekstrem memperbesar risiko kerusakan, mempertahankan pola lama sama saja membiarkan publik hidup di atas bom waktu beton dan aspal.

SDM konstruksi: lulusan PUtech bukan sekadar tukang gambar, tapi garda depan adaptasi iklim

Kunci infrastruktur tahan bencana adalah kualitas tenaga profesional konstruksi, bukan hanya desain di atas kertas. Dody terang-terangan meminta lulusan PUtech meningkatkan kompetensi, penguasaan teknologi, dan profesionalisme untuk menjawab tantangan pembangunan yang kian kompleks, termasuk risiko perubahan iklim Indonesia dan kondisi di Ring of Fire. Kurikulum PUtech yang terdiri dari 70 persen praktik dan 30 persen teori, dilengkapi magang enam bulan di kementerian, dunia usaha, dan industri serta sertifikasi kompetensi bidang konstruksi, sudah bergerak ke arah yang tepat. Namun tuntutannya lebih tinggi: penguasaan BIM (Building Information Modeling), IoT, dan teknologi monitoring harus menjadi standar minimum, bukan keunggulan ekstra. Tanpa SDM yang melek data dan teknologi, resiliensi infrastruktur hanya akan berhenti pada dokumen Rencana Anggaran Biaya, bukan pada kualitas bangunan di lapangan.

Perubahan iklim dan cuaca ekstrem: ujian nyata resiliensi infrastruktur, bukan simulasi di kelas

Perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi telah menjadi tantangan baru bagi dunia konstruksi. Fenomena ini bukan lagi teori ilmiah, tetapi kejadian yang meruntuhkan bangunan, memutus jembatan, dan melumpuhkan akses logistik. Dody mencontohkan bencana di Flores yang menghancurkan hampir semua bangunan sebagai bukti bahwa ketangguhan fisik infrastruktur masih lemah. Di sini tampak jelas: resiliensi infrastruktur bukan luksus, melainkan garis pemisah antara bencana yang bisa dikelola dan kehancuran total. Standardisasi material dan teknologi yang terus diperbarui menjadi keharusan, bukan opsional. Tanpa revisi standar yang berani—yang mengakui bahwa cuaca ekstrem kini adalah baseline baru—kita hanya mengulang kesalahan, mengizinkan jalan dan jembatan dibangun untuk masa lalu, bukan untuk iklim masa depan.

Infrastruktur sebagai alat pemerataan: jalan, jembatan, dan akses daerah terisolir

Resiliensi infrastruktur hanya bermakna jika dirasakan sampai ke daerah yang selama ini dipinggirkan. Dalam penanganan darurat dan pemulihan pascabencana, Kementerian PU memprioritaskan pemeliharaan jalan dan jembatan guna menjaga kelancaran rantai pasok kebutuhan pokok dan mobilitas masyarakat, termasuk di kawasan terluar. Ini langkah tepat, karena infrastruktur tahan bencana harus melindungi yang paling rentan. Pembangunan jembatan permanen, seperti di Krueng Tingkeum yang dijadwalkan segera dioperasionalkan, memperlihatkan orientasi ke dampak jangka panjang, bukan solusi tambal-sulam. Lebih jauh, pembukaan akses ke daerah pedalaman dan kepulauan terpencil diakui sebagai bagian penting pemulihan karena terkait langsung dengan mobilitas warga dan aktivitas ekonomi lokal. Peningkatan kualitas layanan infrastruktur di daerah, jika konsisten, dapat menjadi instrumen pemerataan pembangunan nasional yang selama ini hanya menjadi slogan.

Kesimpulan: resiliensi infrastruktur harus dimulai dari kampus sampai proyek di pelosok

Pesan terpenting dari rangkaian pernyataan Dody Hanggodo jelas: era pembangunan yang mengabaikan resiliensi infrastruktur sudah selesai. Perubahan iklim Indonesia, cuaca ekstrem, dan posisi di Ring of Fire memaksa negara menjadikan infrastruktur tahan bencana sebagai prioritas kebijakan, bukan proyek musiman. Di titik ini, lulusan PUtech memegang peranan strategis. Dengan kompetensi teknis, pengalaman praktik, penguasaan teknologi, serta integritas, mereka diharapkan mampu membangun infrastruktur yang berkualitas, aman, dan tahan berbagai risiko. Tetapi tanggung jawab tidak berhenti pada individu. Pemerintah perlu memastikan standar konstruksi yang adaptif terhadap iklim, industri wajib memperkuat kerja sama dengan kampus melalui magang dan keterlibatan praktisi, sementara publik berhak menuntut infrastruktur yang tidak mudah hancur setiap kali cuaca berubah. Tanpa tekanan kolektif ini, wacana resiliensi hanya akan menjadi pidato wisuda yang cepat terlupakan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!