Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Laba BCA Tumbuh, Kredit Produktif Menjadi Penopang

Laba BCA Tumbuh, Kredit Produktif Menjadi Penopang
Minat|Asia Tenggara

Laba tumbuh di tengah ekspansi kredit

Laba BCA adalah hasil usaha bank yang mencerminkan kemampuan memperoleh pendapatan sekaligus mengelola biaya dan risiko; pada sembilan bulan pertama 2026, angka ini tumbuh seiring perluasan pembiayaan kepada nasabah.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) bersama entitas anak mencatat laba bersih Rp45,2 triliun hingga akhir September 2026, naik 4,2 persen secara tahunan dari Rp43,4 triliun pada periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut patut dibaca sebagai hasil yang positif, tetapi tidak berlebihan: laju laba lebih rendah daripada laju kredit. Kredit BCA meningkat 12,6 persen menjadi Rp1.063 triliun. Selisih itu membuat mutu penyaluran dan kemampuan menjaga risiko sama pentingnya dengan besarnya ekspansi. Angka BBCA kuartal III karena itu menunjukkan pertumbuhan yang bertumpu pada aktivitas pembiayaan, bukan semata pada kenaikan laba.

Kredit produktif memberi dorongan utama

Porsi kredit produktif menjadi bagian paling menonjol dalam cerita pertumbuhan ini. Nilainya mencapai Rp831 triliun, tumbuh 17,2 persen secara tahunan—lebih cepat daripada pertumbuhan total kredit. Kredit korporasi naik 20,9 persen menjadi Rp528,1 triliun, pembiayaan komersial mencapai Rp154,1 triliun dengan pertumbuhan 7,8 persen, sedangkan kredit UKM sebesar Rp149,2 triliun atau tumbuh 15,4 persen.

Komposisi tersebut memberi alasan kuat untuk melihat kredit produktif sebagai penopang kinerja BCA: pembiayaan mengalir ke perusahaan, usaha komersial, dan UKM, bukan hanya mendorong angka total. Namun, pertumbuhan kredit yang cepat tetap harus disertai seleksi debitur yang cermat. Presiden Direktur BCA Gregory Hendra Lembong menyatakan, “Pembiayaan BCA ditopang kredit produktif sebesar Rp831 triliun, tumbuh 17,2 persen YoY”.

Pendanaan dan kehati-hatian menjadi penyeimbang

Ekspansi itu disertai sumber pendanaan yang bertumbuh. Dana murah atau CASA naik 10,4 persen menjadi Rp1.103 triliun, sementara dana pihak ketiga meningkat 8 persen menjadi Rp1.301 triliun. Angka ini penting karena pertumbuhan kredit tidak berdiri sendiri: bank perlu menjaga ketersediaan likuiditas ketika pembiayaan terus bertambah. CASA yang tumbuh lebih cepat daripada total DPK juga memberi gambaran bahwa basis pendanaan murah ikut menguat.

Manajemen menyatakan kredit disalurkan ke berbagai sektor dengan prinsip kehati-hatian serta perhatian pada likuiditas perseroan. Sikap itu semestinya menjadi ukuran utama untuk menilai kinerja BCA berikutnya. Pertumbuhan 12,6 persen memberi dorongan bagi laba, tetapi keberlanjutannya bergantung pada kualitas pinjaman dan ketahanan pendanaan. Dengan demikian, ekspansi yang terukur lebih bernilai daripada mengejar pertumbuhan kredit semata.

Dampak bagi usaha dan nasabah

Bagi pelaku usaha, pertumbuhan kredit produktif membuka ruang pembiayaan yang lebih besar, khususnya bagi segmen korporasi, komersial, dan UKM. BCA menyebut BCA Expo 2026 dan BCA UMKM Fest 2026 turut mendukung penyaluran pembiayaan; kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 1.600 pelaku usaha. Perseroan juga menawarkan program Kredit Multiguna Usaha Hari UMKM 2026 yang berlaku hingga Januari 2027, dengan suku bunga mulai 5,81 persen efektif per tahun dan jangka waktu kredit lebih panjang.

Nasabah individu juga mendapat pengembangan layanan digital, termasuk pengaturan limit transfer harian hingga Rp500 juta dan fitur Tabungan Emas di myBCA. Untuk kebutuhan perumahan, BCA menyebut peluncuran KPR Fixed Terencana sebagai cara membantu nasabah merencanakan kredit di tengah dinamika suku bunga. Inisiatif ini memperluas manfaat di luar angka laba, meski dampaknya terhadap hasil keuangan mendatang belum dapat dipastikan dari capaian sembilan bulan.

Kesimpulan: pertumbuhan perlu dijaga kualitasnya

Hasil BBCA kuartal III memperlihatkan laba Rp45,2 triliun dan kredit Rp1.063 triliun, dengan kredit produktif tumbuh lebih cepat daripada total pembiayaan. Itu kombinasi yang menjanjikan: penyaluran kepada sektor usaha menjadi mesin utama, sementara CASA dan DPK menyediakan landasan pendanaan. Namun, kenaikan laba 4,2 persen yang lebih moderat mengingatkan bahwa ekspansi belum otomatis menghasilkan pertumbuhan laba secepat pertumbuhan kredit. Kesimpulannya, kredit produktif memang menjadi penopang penting kinerja BCA, tetapi konsistensi hasil selanjutnya akan bergantung pada disiplin risiko, kualitas debitur, dan likuiditas. Pertumbuhan yang sehat bukan sekadar menyalurkan lebih banyak, melainkan memastikan pembiayaan tetap produktif dan dapat dibayar kembali.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!