Laba tumbuh saat pendapatan dan produktivitas menguat
Laba Bank Mandiri adalah keuntungan bersih konsolidasi yang mencerminkan hasil usaha bank dan entitas terkait dalam satu periode, setelah memperhitungkan pendapatan serta biaya. Hingga kuartal III 2026, Bank Mandiri mencatat laba bersih konsolidasi Rp45,5 triliun, naik 20,7 persen secara tahunan. Capaian ini menunjukkan bahwa ekspansi bisnis menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat daripada sekadar pembesaran neraca. Pendorongnya saling menguatkan: penyaluran kredit bertambah, aktivitas digital nasabah meningkat, dan produktivitas membaik. Pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 6,2 persen menjadi Rp61,2 triliun berjalan beriringan dengan kenaikan pendapatan nonbunga 13,8 persen menjadi Rp29,4 triliun. Menurut Direktur Finance & Strategy Novita Widya Anggraini, pendapatan terus tumbuh seiring kenaikan kredit dan transaksi nasabah, sementara pendapatan berbasis komisi menjadi penopang laba. Dalam konteks ini, hasil kuartal III bukan hanya soal volume, tetapi juga kemampuan mengubah hubungan dengan nasabah menjadi pendapatan berulang.

Kredit menjangkau perusahaan hingga usaha mikro
Kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun per September 2026, tumbuh 16 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini penting bukan semata karena skalanya, melainkan karena pembiayaan tersebar di berbagai lapisan kegiatan ekonomi. Pertumbuhan bisnis bank menjangkau pemerintah dan BUMN, sektor usaha penopang ekonomi, UMKM, hingga masyarakat. Kredit korporasi mencapai Rp700 triliun setelah tumbuh 22 persen, sementara kredit ekosistem turunan untuk segmen SME, mikro, dan konsumer mencapai Rp174 triliun, naik 9 persen. Pendekatan ekosistem ini menghubungkan kebutuhan perusahaan dengan pelaku usaha dan individu di sekitarnya. Kredit mikro non-subsidi sebesar Rp31,2 triliun juga menjangkau 37 provinsi. Sebaran tersebut membuat ekspansi kredit lebih berarti bagi ekonomi: pembiayaan tidak berhenti pada perusahaan besar, tetapi ikut membuka akses bagi usaha produktif dan aktivitas masyarakat.

Transaksi digital mendukung pendapatan dan kenyamanan nasabah
Skala transaksi digital bank menjadi salah satu pengungkit kinerja sekaligus bagian dari pengalaman nasabah sehari-hari. Livin’ by Mandiri memiliki 42,6 juta pengguna terdaftar per September 2026. Sepanjang Januari hingga September, aplikasi ini memproses 4,18 miliar transaksi senilai Rp3.863 triliun; volume naik 22 persen dan nilai transaksi meningkat 20 persen secara tahunan. Aktivitas sebesar itu memperluas peluang pendapatan nonbunga dan memperkuat keterikatan nasabah tanpa bergantung hanya pada margin kredit. Dampak layanan juga terasa di luar laporan keuangan: jumlah keluhan nasabah turun 74 persen, waktu tunggu antrean di cabang menjadi lebih singkat, dan nasabah dapat menghubungi pusat kontak lebih cepat tanpa biaya. Karena itu, pertumbuhan digital patut dinilai bukan hanya dari jumlah transaksi, tetapi juga dari apakah layanan lebih mudah diakses dan masalah nasabah terselesaikan dengan lebih baik.
Efisiensi memperkuat kualitas pertumbuhan
Pertumbuhan pendapatan akan kurang meyakinkan bila biaya dan risiko kredit ikut memburuk. Namun, kinerja Bank Mandiri menunjukkan perbaikan pada kedua sisi tersebut. Biaya operasional turun 9,03 persen secara tahunan menjadi Rp32,7 triliun, sedangkan rasio biaya terhadap pendapatan atau CIR bank only membaik menjadi 36,1 persen dari 43 persen pada tahun sebelumnya. Kualitas aset juga terjaga: rasio kredit bermasalah bruto turun menjadi 0,98 persen dari 1,03 persen setahun sebelumnya. Kombinasi ini memberi dasar lebih sehat bagi kenaikan laba dibandingkan pertumbuhan yang semata-mata didorong penyaluran kredit agresif. Meski begitu, angka kuartalan tetap perlu dibaca bersama keberlanjutan kualitas aset dan kemampuan menjaga efisiensi. Kesimpulannya, kenaikan laba 20,7 persen ditopang bauran yang cukup jelas: kredit yang menjangkau beragam sektor, transaksi digital yang menghasilkan aktivitas bernilai, serta biaya yang lebih terkendali.






