Peringatan yang menghidupkan nilai kesantrian
Hari Santri adalah momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri sekaligus meneguhkan nilai keagamaan, nasionalisme, disiplin, dan tanggung jawab dalam kehidupan generasi muda. Rangkaian Hari Santri 2026 di sekolah dan pesantren memperlihatkan bahwa maknanya lebih luas daripada upacara tahunan: nilai sejarah perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan dan pilihan sehari-hari. Di MTsN 1 Batam, peserta didik mengikuti upacara pada Kamis, 22 Oktober 2026, di lapangan madrasah. Sementara itu, Pondok Pesantren Tahfizh Wal Lughoh Ruhul Qur’an menggelar malam tasyakuran sehari sebelumnya, Rabu malam, 21 Oktober 2026. Di MTsN 1 Banyumas, rangkaian peringatan berlanjut hingga pengajian Jumat malam, 23 Oktober. Ragam kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter santri paling kuat ketika sejarah, ibadah, dan proses belajar saling menguatkan.
Resolusi Jihad dan pelajaran mengelola waktu
Upacara Hari Santri di MTsN 1 Batam memberi ruang bagi sejarah untuk menjadi pelajaran praktis. Yunus Supardi, S.Pd.I., Wakil Kepala Madrasah Bidang Kurikulum sekaligus pembina upacara, mengulas Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 masih harus dipertahankan, dan ulama serta santri turut mengambil peran dalam perjuangan itu. Namun, semangat tersebut tidak berhenti pada mengenang masa lalu. Yunus juga menekankan pentingnya menggunakan waktu untuk meraih tujuan hidup. Setiap orang memiliki 24 jam sehari, tetapi hasilnya bergantung pada cara waktu itu diisi. Pesan ini tepat bagi peserta didik: cita-cita, termasuk prestasi akademik dan target hafalan, menuntut usaha konsisten, bukan sekadar niat.
Pengajian menautkan disiplin dengan akhlak
MTsN 1 Banyumas menutup rangkaian Hari Santri dengan tasyakuran dan pengajian bersama Gus Irchamni bagi murid kelas khusus tahfidz pada Jumat, 23 Oktober malam. Sebelumnya, seluruh murid mengikuti pawai dan rangkaian kegiatan juga diisi berbagai perlombaan. Kepala madrasah, H. Ali Nurdin, S.Ag., M.Pd.I., menempatkan peringatan ini sebagai kesempatan untuk memperkuat kedisiplinan, membentuk akhlak, dan membangkitkan semangat belajar. Penekanan itu penting: pendidikan karakter santri tidak cukup diukur dari banyaknya pelajaran agama atau hafalan, tetapi juga dari perilaku dan tanggung jawab sehari-hari. Ali mendorong murid kelas tahfidz memanfaatkan masa belajar di asrama dengan sungguh-sungguh. Ia menyebut target hafalan 10 sampai 15 juz dalam tiga tahun dapat dicapai jika murid disiplin dan mengatur waktu. Dengan demikian, pengajian menjadi penutup yang mengarahkan perayaan kembali pada kebiasaan belajar.
Khotmil Qur’an sebagai doa dan pengingat sejarah
Di Batam, Pondok Pesantren Tahfizh Wal Lughoh Ruhul Qur’an mengisi malam tasyakuran dengan Majlis Khotmil Qur’an, pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Al-Jailani RA, istighosah, dan doa bersama. Acara berlangsung di Balai Acara RuQun Centre pada Rabu malam, 21 Oktober 2026, dipimpin pimpinan pesantren Dr. KH. Sayyid Hanapi, Al-Hafizh, SQ., MM., serta diikuti santri putra dan putri. Khotmil Qur’an pesantren ini bukan hanya penanda menyambut peringatan, tetapi juga cara warga pesantren mengenang jasa ulama dan santri serta mendoakan keselamatan bangsa. Pesantren berharap santri meneladani nasionalisme dan nilai keislaman, lalu berkontribusi di bidang pendidikan, ekonomi, teknologi, dan sektor lain. Pada akhirnya, apel, pengajian, dan doa bersama memiliki arah yang sama: menjadikan penghormatan terhadap perjuangan sebagai disiplin, akhlak, dan pengabdian nyata.






