Pendidikan pesantren harus merangkul perubahan
Pendidikan santri adalah proses membangun iman, akhlak, pengetahuan, dan kecakapan hidup agar lulusan pesantren mampu mengamalkan ilmunya serta menjawab kebutuhan masyarakat. Karena itu, pesantren tidak perlu mempertentangkan ilmu agama dan iptek: tantangannya ialah memastikan kemajuan teknologi berjalan bersama integritas dan tanggung jawab. Gagasan itu ditegaskan Wakil Ketua Pondok Pesantren Wali Barokah Kota Kediri, Agung Riyanto, dalam upacara Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026. Ia menekankan penguatan iman dan akhlak seiring penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan teknologi. Pesan tersebut tepat, sebab kemampuan teknis tanpa etika dapat kehilangan arah, sementara niat baik tanpa kecakapan sulit diwujudkan menjadi solusi. Teknologi pesantren seharusnya menjadi sarana belajar dan berkarya, bukan tujuan tersendiri. Ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya banyaknya pengetahuan yang dikuasai, melainkan manfaat yang dihasilkan bagi sesama.
Bagi santri, keseimbangan itu perlu tampak dalam kebiasaan: belajar dengan disiplin, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, menjaga amanah, dan menggunakan perangkat digital secara bertanggung jawab. Agung juga mengingatkan pentingnya karakter luhur, kejujuran, serta kepedulian terhadap lingkungan. Dengan landasan tersebut, literasi digital santri bukan sekadar keterampilan memakai aplikasi, tetapi kemampuan menilai informasi dan memilih tindakan yang bermanfaat. Inilah cara pesantren menjaga jati dirinya sambil membuka ruang bagi ilmu dan teknologi.

Kecakapan digital mesti berujung pada karya
Dorongan agar santri menguasai teknologi juga disampaikan Bupati Jepara, Witiarso Utomo, saat peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Halaman Setda Jepara pada 22 Oktober. Ia mengajak santri memperluas pengetahuan umum, keterampilan, literasi digital, dan jiwa kewirausahaan, tanpa meninggalkan agama dan akhlak. Arah ini penting: kecakapan digital akan lebih bermakna jika membantu santri belajar, mengembangkan usaha, atau menjawab persoalan di lingkungannya. Namun, pendidikan tidak boleh berhenti pada slogan penguasaan teknologi. Santri perlu memperoleh ruang praktik, bimbingan, dan kesempatan untuk menguji gagasan secara bertanggung jawab. Dengan begitu, teknologi menjadi alat untuk mencipta, bukan sekadar konsumsi.
Kemandirian ekonomi dan kewirausahaan melengkapi bekal tersebut. Santri yang mampu mengubah keterampilan menjadi produk atau layanan dapat membuka peluang kerja dan turut membangun daerah, sebagaimana diharapkan Bupati Jepara. Ini bukan alasan untuk mengukur keberhasilan hanya dari keuntungan. Nilai agama dan akhlak tetap perlu menjadi pedoman dalam bekerja, bermitra, serta melayani masyarakat. Perpaduan ilmu agama dan iptek akan terasa nyata ketika pengetahuan melahirkan karya yang berguna, jujur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bekal masa depan dibangun lewat praktik
Harapan menuju Indonesia Emas 2045 menuntut proses panjang, bukan hasil instan. Agung mengingatkan santri agar memanfaatkan masa pendidikan untuk membangun kompetensi dan karakter, sementara kemandirian ekonomi, kewirausahaan, dan kepedulian lingkungan menjadi bagian dari bekal hidup. Pesan ini menempatkan pendidikan santri sebagai persiapan untuk mengabdi, bukan hanya mengejar capaian pribadi. Praktik belajar perlu memberi ruang bagi kerja sama, kreativitas, dan penerapan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Prestasi santri Wali Barokah di bidang olahraga turut menunjukkan bahwa pembinaan dapat mencakup beragam kecakapan: mereka meraih Juara 1 futsal tingkat SMP dan SMA se-Kediri Raya serta Juara Umum Kejurkab IPSI di Kabupaten Nganjuk. Sementara itu, rangkaian peringatan Hari Santri di Jepara berlangsung sejak 14 Oktober hingga pertengahan November 2026, dengan karnaval lintas iman yang diikuti sekitar 10 ribu peserta. Kegiatan dan prestasi semacam ini bernilai ketika mendorong disiplin, kolaborasi, serta manfaat bagi masyarakat. Pada akhirnya, pesantren perlu melahirkan generasi yang teguh iman dan akhlaknya, luas ilmunya, cakap menggunakan teknologi, dan mandiri berkarya. Itulah keseimbangan yang membuat tradisi tetap hidup sekaligus menyiapkan santri menghadapi masa depan.






