Dari limbah menjadi karya bernilai
Pemberdayaan perempuan pesisir adalah upaya memperluas kemampuan perempuan untuk berkarya dan menopang ekonomi keluarga melalui akses pada keterampilan, sarana, serta dukungan yang sesuai kebutuhan. Di Paotere, Makassar, gagasan itu tampak dalam kerajinan sisik ikan yang dibuat oleh 25 anggota Kelompok Perempuan Pesisir Paotere di Jalan Sabutung. Sisik yang kerap dipandang sebagai limbah mereka olah menjadi produk kreatif bernilai jual, sekaligus sumber penghasilan bagi rumah tangga. Program Srikandi PLN bertajuk Woman Support Woman kini mendukung kelompok tersebut melalui bantuan sarana produksi dan fasilitas pengeringan. Langkah ini layak dibaca lebih dari sekadar bantuan alat: nilai utamanya terletak pada pengakuan bahwa usaha yang tumbuh dari keterampilan perempuan pantas memperoleh dukungan praktis agar dapat berkembang.
Bantuan yang menjawab kesulitan sehari-hari
Sebelum dukungan PLN hadir, keterbatasan peralatan membuat pekerjaan banyak dilakukan secara manual, sementara penjemuran bahan bergantung pada cuaca dan ruang yang tersedia. Bagi para perajin, kendala itu bukan urusan kecil: memotong sisik dengan gunting biasa memakan waktu dan tenaga, bahkan membuat jemari membengkak. Musim hujan juga dapat menghambat pengeringan dan mengganggu kesinambungan produksi. Mirnawati, ketua kelompok, mengatakan para anggota sering mengalami tangan bengkak akibat pekerjaan tersebut dan berharap peralatan yang lebih memadai meringankan beban mereka. Mesin pengering pun menjawab persoalan yang langsung mereka hadapi: bahan tetap dapat dikeringkan ketika hujan turun, sehingga produksi tidak perlu berhenti hanya karena cuaca. Inilah ukuran penting bantuan yang berguna—ia menanggapi hambatan nyata, bukan sekadar hadir dalam seremoni.
Dukungan sesama perempuan perlu berlanjut
Melalui Woman Support Woman, Srikandi PLN UIP Sulawesi menempatkan solidaritas perempuan sebagai cara membuka ruang bagi potensi dan kreativitas agar ikut menggerakkan ekonomi keluarga. Ketua Srikandi PLN UIP Sulawesi, Abigail Tonapa, menyebut dukungan itu sebagai bentuk dorongan bagi perempuan yang terus berkarya dan berkontribusi bagi perekonomian rumah tangga. Kegiatan tersebut juga mencakup edukasi keselamatan dan kesehatan kerja dari tim K3 PLN. Para anggota Srikandi turut membeli produk kerajinan sisik ikan, memberi apresiasi sekaligus dukungan langsung terhadap usaha kelompok. Kombinasi alat, pengetahuan keselamatan, dan pembelian produk menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan pesisir akan lebih kuat bila bantuan tidak berhenti pada penyerahan sarana. Namun, dampak jangka panjangnya tetap bergantung pada kemampuan kelompok mempertahankan produksi dan memperluas pasar.
Ukuran keberhasilan ada pada keberlanjutan usaha
Bagi perempuan Paotere, sisik ikan kini bukan sekadar sisa bahan, melainkan pijakan untuk membangun usaha kreatif yang menopang keluarga. Bantuan PLN berpotensi membuat proses produksi lebih ringan dan tidak terlalu rentan terhadap hujan, tetapi keberhasilan akhirnya perlu terlihat dalam kesinambungan kerja dan perkembangan usaha kelompok. Karena itu, dukungan yang berangkat dari kebutuhan nyata patut diteruskan dengan perhatian pada keberlanjutan, termasuk kemampuan para perajin menjaga mutu dan menjangkau pembeli. PLN menyatakan dukungan ini diharapkan membantu Kelompok Perempuan Pesisir Paotere mengembangkan usaha serta memperkuat peran perempuan dalam menopang perekonomian keluarga. Kesimpulannya, mesin dan peralatan dapat membuka jalan, tetapi pengakuan pasar dan pendampingan berkelanjutan akan menentukan seberapa jauh kerajinan sisik ikan membawa manfaat bagi para pembuatnya.






