Keterampilan baru memperluas nilai kopi
Pendampingan usaha kopi adalah upaya meningkatkan kemampuan petani agar dapat menjaga mutu hasil panen sekaligus mengolah dan menyajikannya sesuai kebutuhan pasar. Bagi petani kopi Batui, keterampilan ini membuka peluang untuk bergerak melampaui penjualan biji mentah tanpa meninggalkan pasar green bean yang sudah tumbuh. Pada 18–26 Oktober 2026, PLN UIP Sulawesi mengadakan pelatihan roasting kopi dan barista di Pabrik Kelompok Tani Kopi Batui Oishii. Kegiatan sembilan hari itu diikuti 20 peserta: 10 mempelajari roasting dan 10 lainnya berlatih menjadi barista kopi lokal. Langkah ini tepat karena memberi petani pilihan usaha tambahan, bukan sekadar mendorong mereka mengejar satu bentuk penjualan. Namun, pelatihan baru bernilai jika keterampilan tersebut terus dipakai, kualitas dijaga, dan produk hasil olahan menemukan pembeli.

Pertumbuhan green bean jadi pijakan, bukan garis akhir
Hasil pendampingan yang paling terukur terlihat pada penjualan green bean. Ketua Kelompok Tani Kopi Batui, Fadly, menyebut nilainya naik dari sekitar Rp75 juta per tahun menjadi rata-rata Rp320 juta per tahun—peningkatan sekitar 326,7 persen, atau 4,3 kali lipat. Angka itu menunjukkan bahwa pasar biji mentah tetap penting dan tidak seharusnya disisihkan demi produk olahan. Sebaliknya, roasting dan penyajian dapat melengkapi jalur tersebut: petani bisa menawarkan kopi dalam bentuk berbeda, mengenalkan karakter bijinya lewat seduhan, serta merintis hubungan dengan pelanggan yang mencari pengalaman minum kopi. Pelatihan mencakup pemilihan green bean, pengoperasian mesin roasting, penggunaan peralatan dan mesin espresso, serta teknik penyeduhan dan cupping. Dengan bekal itu, kelompok tani berpeluang menghubungkan mutu bahan baku dengan produk siap dinikmati.

Tiga tahun pendampingan perlu berlanjut menjadi kemandirian
Program TJSL PLN UIP Sulawesi telah berjalan selama tiga tahun dan memasuki tahun terakhir. Pendampingan diarahkan untuk memperkuat kapasitas kelompok tani, dari dukungan sarana produksi hingga peningkatan keterampilan; pelatihan terbaru menjadi respons atas kebutuhan pasar kopi modern. PLN menghadirkan M. Akbar Assidiq, praktisi bersertifikasi nasional sekaligus asesor kompetensi BNSP untuk bidang roasting dan barista. Dukungan ahli dapat membantu peserta membangun dasar teknis, tetapi keberlanjutan usaha akan bergantung pada praktik rutin, konsistensi mutu, dan kemampuan memasarkan hasil olahan. Ada pula dampak yang melampaui kelompok tani: pengembangan produk lokal dapat membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat. Karena itu, sasaran berikutnya semestinya bukan sekadar mengulang pelatihan, melainkan memastikan keahlian menjadi bagian dari kegiatan usaha sehari-hari dan membuka akses pasar yang lebih luas.
Dari hasil panen menuju peluang pasar yang lebih luas
Kenaikan penjualan biji mentah membuktikan bahwa usaha kopi Batui telah memiliki pijakan. Pelatihan roasting dan barista menambahkan kemungkinan baru: petani dapat mempertahankan penjualan green bean sambil mengembangkan kopi sangrai dan layanan seduh yang menampilkan karakter kopi setempat. Kombinasi itu berpotensi memperluas pilihan pembeli dan menambah nilai yang tinggal di tingkat produsen. Namun, keterampilan saja tidak menjamin perluasan pasar; kelompok tani tetap perlu menjaga kualitas dari pemilihan biji hingga cangkir, serta membangun saluran penjualan yang sesuai. PLN berharap penguatan kompetensi membantu kelompok tani menjaga pertumbuhan, meningkatkan daya saing produk lokal, dan memperluas akses pasar. Kesimpulannya, pelatihan ini paling menjanjikan bila dipandang sebagai pelengkap pemasaran green bean, bukan penggantinya. Dari biji mentah hingga seduhan, petani Batui kini memiliki lebih banyak cara untuk membawa hasil panennya kepada konsumen.






