Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Ruang Redaksi, Siswa Belajar Menulis dan Menerbitkan Berita

Dari Ruang Redaksi, Siswa Belajar Menulis dan Menerbitkan Berita
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Redaksi sebagai ruang belajar nyata

Kunjungan redaksi siswa adalah kegiatan belajar di kantor media yang mengenalkan cara informasi dikumpulkan, ditulis, dirancang, dan diterbitkan melalui pengalaman langsung, bukan semata-mata penjelasan di kelas. Dalam sepekan terakhir Oktober 2026, kegiatan semacam ini diikuti murid SD, siswa MTs, hingga pelajar SMK di sejumlah kantor media. Sebanyak 60 siswa MTsN 1 Ponorogo berkunjung pada 27 Oktober; sehari berselang, 65 murid SD Tamansiswa Jetis Jogja dan 30 siswa SDN Nongkodono mengikuti kegiatan pada 29 Oktober. Belasan anggota ekstrakurikuler jurnalistik SMKN 1 Singgahan menyusul keesokan harinya. Rentang usia peserta menunjukkan bahwa belajar jurnalistik tidak perlu menunggu sekolah menengah. Melihat ruang kerja dan bertanya kepada praktisi membuat proses di balik sebuah berita terasa konkret, sekaligus membuka kesempatan bagi siswa untuk menguji minat mereka.

Berita bukan sekadar rangkaian kalimat

Nilai utama kunjungan ini terletak pada gambaran utuh tentang kerja media. Siswa MTsN 1 Ponorogo mempelajari desain, penyampaian informasi, dan prinsip pemberitaan yang baik. Murid SD Tamansiswa Jetis mengenal pekerjaan jurnalis, desainer grafis, penyiar radio, dan staf pemasaran, lalu melihat beberapa ruang kerja, termasuk redaksi dan studio podcast. Siswa SMKN 1 Singgahan mendapat penjelasan tentang menulis berita sampai proses penerbitan. Rangkaian itu membantu siswa memahami bahwa menulis berita menuntut lebih dari pilihan kata: informasi perlu digali dari sumber yang tepat, disusun dengan jelas, lalu disajikan dalam bentuk yang mudah dipahami. Desain dan proses penerbitan pun bukan hiasan tambahan, melainkan bagian dari cara pesan sampai kepada pembaca. Pemahaman ini lebih berguna daripada menghafal istilah jurnalistik tanpa pernah melihat penerapannya.

Dari Ruang Redaksi, Siswa Belajar Menulis dan Menerbitkan Berita

Praktik membangun keterampilan dan keberanian

Pemaparan saja tidak cukup untuk mengajarkan kerja jurnalistik; siswa perlu mencoba, mengamati, dan bertanya. Dalam kunjungan MTsN 1 Ponorogo, peserta aktif mengajukan pertanyaan agar dapat menghubungkan teori dengan praktik. Murid SD Tamansiswa Jetis mengikuti praktik sederhana untuk mengenali proses kerja media, sementara siswa SDN Nongkodono menjalani pelatihan jurnalistik dan public speaking sebagai bagian dari program ekstrakurikuler Jurnalistik Asyik. Pengalaman itu memperlihatkan bahwa karya jurnalistik membutuhkan keterampilan yang saling melengkapi: mencari informasi, menyusun tulisan, menyampaikan gagasan secara lisan, serta mempertimbangkan dampak bahasa. Bagi siswa, latihan berbicara di depan umum juga memberi kesempatan menguji keberanian, bukan hanya kemampuan merangkai kalimat. Praktik langsung membuat tuntutan kerja tersebut lebih mudah dipahami dan memberi pijakan nyata untuk membuat karya di sekolah.

Dari Ruang Redaksi, Siswa Belajar Menulis dan Menerbitkan Berita

Literasi digital harus berjalan bersama etika

Mengenal cara berita diterbitkan perlu disertai kecakapan menilai informasi yang beredar. Siswa SMKN 1 Singgahan mendapat materi literasi digital, termasuk perbedaan media massa dan media sosial. Pesan itu relevan bagi semua usia: kecepatan berbagi kabar tidak otomatis membuatnya benar, dan daya tarik sebuah tulisan tidak membenarkan bahasa yang menyakiti orang lain atau memperkeruh keadaan. Karena itu, siswa perlu belajar memeriksa sumber, memilah informasi, dan memilih kata dengan bertanggung jawab. Kunjungan redaksi baru bernilai penuh jika pengetahuan itu dibawa kembali ke lingkungan sekolah. Siswa SMKN 1 Singgahan berkomitmen membagikan pengalaman belajar jurnalistik dan literasi digital kepada calon anggota baru ekstrakurikuler mereka. Pembina jurnalistik MTsN 1 Ponorogo juga berharap kegiatan tersebut membantu siswa menyusun berita, menggali sumber yang tepat, dan berpikir kritis.

Pengalaman yang seharusnya berlanjut

Kunjungan redaksi bukan pengganti pembelajaran rutin, tetapi jembatan yang membuatnya lebih nyata. Setelah melihat alur kerja dan mencoba keterampilan dasar, siswa dapat meneruskan latihan melalui majalah sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, atau proyek menulis sederhana. Bagi sekolah, manfaat terpenting bukan foto kunjungan, melainkan tindak lanjut: membiasakan siswa bertanya, memeriksa fakta, mengolah informasi, dan menyampaikan hasilnya secara bertanggung jawab. Kegiatan semacam ini juga memperluas pemahaman tentang profesi media, termasuk pekerjaan desain dan penyiaran yang kerap luput dari perhatian. Pada akhirnya, praktik di ruang redaksi memberi siswa gambaran yang lebih jujur tentang proses di balik karya jurnalistik: ada keterampilan, pertimbangan etis, dan kerja bersama yang tak tampak pada halaman berita. Jika pengalaman itu diteruskan di sekolah, kunjungan singkat dapat menjadi awal kebiasaan membaca dan menulis yang lebih kritis.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!