Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Menulis Berita hingga Berbicara, Siswa Berlatih Jurnalistik

Dari Menulis Berita hingga Berbicara, Siswa Berlatih Jurnalistik
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Jurnalistik sebagai keterampilan hidup

Pelatihan jurnalistik siswa adalah pembelajaran yang mengajarkan cara menggali, memeriksa, menulis, dan menyampaikan informasi secara jelas serta bertanggung jawab. Keterampilan ini semakin penting ketika kabar beredar cepat dan siswa perlu membedakan fakta dari opini sebelum ikut menyebarkannya. Rangkaian kegiatan di tiga sekolah menunjukkan bahwa jurnalistik sekolah bisa menjadi latihan berpikir kritis sekaligus komunikasi, bukan sekadar kegiatan menulis.

Sekitar 100 siswa SMPN 1 Tambakboyo mengikuti pelatihan jurnalistik dalam rangkaian Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa di Plezier Tuban pada Jumat (23/10). Pesertanya berasal dari OSIS, Pramuka, ekstrakurikuler jurnalistik, dan Palang Merah Remaja. Materi mencakup cara menggali informasi, menentukan unsur berita, menyusun lead, serta belajar menulis berita dengan bahasa lugas dan mudah dipahami. Penekanan pada verifikasi juga menghubungkan kemampuan jurnalistik dengan tujuan LDKS: pemimpin perlu menyampaikan informasi secara akurat dan bertanggung jawab.

Nilai praktis pelatihan ini terlihat di luar ruang kelas: siswa diharapkan lebih cermat menerima dan membagikan informasi, bukan sekadar lebih mahir merangkai kalimat.

Belajar dari ruang redaksi

Pada Selasa (27/10/2026), 60 siswa MTsN 1 Ponorogo mengunjungi kantor Jawa Pos Radar Madiun untuk belajar desain dan jurnalistik. Kunjungan ini memberi gambaran langsung tentang proses kerja media, dari penyampaian informasi hingga prinsip menghasilkan pemberitaan yang baik. Siswa juga mendapat bekal untuk menyusun berita yang kredibel dan sesuai standar pemberitaan.

Pengalaman langsung layak mendapat tempat dalam pembelajaran: teori tentang berita akan lebih bermakna ketika siswa melihat bagaimana informasi diproses dan berkesempatan bertanya. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program tahunan madrasah, yang memiliki majalah terbit setiap enam bulan. Karena itu, keterampilan yang dipelajari dapat mendukung karya jurnalistik sekolah yang sudah mereka kenal, bukan berhenti sebagai pengetahuan saat kunjungan.

Pembina ekstrakurikuler jurnalistik, Supaidi, mengatakan kunjungan itu kembali terlaksana setelah vakum dua tahun. Ia berharap siswa dapat menggali informasi dari sumber yang tepat, menyusun berita, dan memilah kabar secara kritis. Ia juga menekankan etika bahasa: berita menarik tetap harus disampaikan tanpa menyakiti pihak lain atau memperkeruh keadaan.

Dari Menulis Berita hingga Berbicara, Siswa Berlatih Jurnalistik

Julasik melatih tulisan dan suara

Pada Kamis (29/10/2026), 30 siswa SD Negeri Nongkodono di Kecamatan Kauman, Ponorogo, mengikuti pelatihan jurnalistik dan public speaking di Studio Jawa Pos Radar Madiun. Mereka merupakan peserta Jurnalistik Asyik SDN Nongkodono, atau Julasik, program ekstrakurikuler yang mewadahi minat siswa dalam menulis dan berbicara.

Kegiatan ini memperluas arti belajar jurnalistik: siswa bukan hanya berlatih menyusun informasi, tetapi juga mengasah keberanian berbicara di depan umum. Mereka mendapat materi dan praktik, mengenal lingkungan kerja media massa, serta berinteraksi dengan tim media. Kepala sekolah Liah Ujiantining menyebut pengalaman langsung itu penting untuk memperluas pemahaman siswa tentang proses kerja jurnalistik.

Bagi siswa sekolah dasar, latihan public speaking siswa dapat membantu mereka mengutarakan gagasan dengan lebih jelas. Namun, keberanian berbicara akan lebih berguna bila berjalan seiring dengan kebiasaan memeriksa fakta dan menghormati orang yang diberitakan.

Dari Menulis Berita hingga Berbicara, Siswa Berlatih Jurnalistik

Keterampilan yang perlu diteruskan

Ketiga kegiatan ini menawarkan jalur belajar yang saling melengkapi: LDKS mengaitkan jurnalistik dengan kepemimpinan, kunjungan madrasah mempertemukan teori dengan kerja media dan desain, sementara Julasik memadukan tulisan dengan latihan berbicara. Jumlah peserta—sekitar 100 siswa SMP, 60 siswa MTs, dan 30 siswa SD—menunjukkan keterlibatan lintas jenjang, tetapi manfaatnya bergantung pada praktik yang berlanjut setelah kegiatan selesai.

Sekolah sebaiknya memberi ruang bagi siswa untuk menerapkan bekal itu melalui majalah, liputan kegiatan, atau latihan presentasi. Dengan pengulangan dan pendampingan, siswa dapat belajar menulis berita yang jelas, memilih sumber yang tepat, memverifikasi informasi, dan menyampaikan temuan secara santun. Itulah ukuran keberhasilan pelatihan jurnalistik siswa: bukan hanya satu kunjungan yang berkesan, melainkan kebiasaan berkomunikasi secara cermat dan bertanggung jawab.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!