Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Lingkungan Sekolah Jadi Ruang Belajar Hidup bagi Siswa

Lingkungan Sekolah Jadi Ruang Belajar Hidup bagi Siswa
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Lingkungan sekolah sebagai ruang belajar hidup, bukan sekadar latar

Lingkungan sekolah sebagai sumber belajar adalah pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan taman, halaman, bangunan, dan interaksi keseharian di sekolah sebagai hidden curriculum pembelajaran untuk memperkuat deep learning siswa, menumbuhkan karakter, serta menghubungkan pengetahuan formal dengan pengalaman nyata di luar kelas secara berkelanjutan dan kontekstual. Kebijakan Mendikdasmen Abdul Mu’ti menempatkan gagasan ini di pusat reformasi pendidikan dasar dan menengah. Ia menegaskan bahwa deep learning siswa tidak cukup dicapai melalui buku dan slide presentasi; lingkungan sekolah harus diubah menjadi ruang belajar hidup yang terus “mengajar” bahkan ketika bel pelajaran tidak berbunyi. Sikap ini jelas: jika sekolah tetap memperlakukan halaman dan fasilitasnya sebagai dekorasi, Kurikulum Merdeka implementasi akan mandek di level slogan, bukan praktik.

Hidden curriculum: strategi halus yang menguatkan pembelajaran mendalam

Abdul Mu’ti menyebut bahwa deep learning terintegrasi dengan penciptaan lingkungan sekolah yang disebut hidden curriculum. Hidden curriculum pembelajaran ini bukan dokumen resmi, melainkan nilai, kebiasaan, dan pengalaman yang diserap murid melalui interaksi sehari-hari di sekolah. Di sinilah kebijakan ini menarik: ia mengakui bahwa murid belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dan alami, bukan hanya dari apa yang guru jelaskan. Ketika pohon diberi papan informasi berisi nama, nama ilmiah, karakteristik, dan manfaatnya, halaman sekolah berubah menjadi teks hidup yang bisa dibaca dan ditafsirkan murid setiap hari. Kebiasaan membaca papan, mengamati perubahan musim, atau berdiskusi tentang ekosistem di bawah pohon adalah contoh konkret deep learning siswa yang tumbuh dari lingkungan, bukan dari lembar kerja semata.

Lingkungan sekolah sumber belajar: dari literasi hingga keterampilan sosial

Pendekatan lingkungan sekolah sumber belajar punya dampak langsung pada kualitas pemahaman murid. Melalui pengamatan dan interaksi dengan lingkungan, rasa ingin tahu murid terdorong dan kebiasaan positif menjaga lingkungan terbentuk. Di sinilah literasi dan numerasi bisa diajarkan secara kontekstual: papan informasi pohon melatih kemampuan membaca dan menafsirkan teks, sementara penghitungan jumlah jenis tanaman, tinggi pohon, atau luas taman melatih numerasi dalam situasi nyata. Konsep hidden curriculum pembelajaran juga menyentuh keterampilan sosial: murid belajar bekerja sama merawat taman, berdiskusi tentang aturan kebersihan, dan bernegosiasi ketika menggunakan fasilitas bersama. Jika sekolah serius mengintegrasikan pengalaman nyata ini dengan kurikulum formal, Kurikulum Merdeka implementasi tidak lagi abstrak; ia hadir dalam setiap langkah murid di halaman sekolah.

Revitalisasi satuan pendidikan: investasi fisik untuk ekosistem belajar

Kunjungan Abdul Mu’ti ke SMA Negeri 1 Patikraja dilakukan dalam rangka program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun Anggaran 2026 di Kabupaten Banyumas. Di sekolah ini, pembangunan dua ruang baru dan rehabilitasi tiga ruang kelas diarahkan bukan sekadar untuk mempercantik bangunan, tetapi untuk menciptakan ekosistem belajar yang berkelanjutan. Secara lebih luas, ia menjelaskan bahwa pada 2025 program revitalisasi di Jawa Tengah menjangkau 1.783 sekolah dengan anggaran Rp1,475 triliun dan menyerap 23.430 tenaga kerja. Pada 2026, 5.443 sekolah telah menandatangani PKS dengan nilai Rp4,169 triliun, dengan penyaluran dana ke 4.597 sekolah senilai Rp2,434 triliun dan serapan 62.609 tenaga kerja. Di Banyumas, 30 sekolah menerima Rp29,786 miliar pada 2025 dan 176 sekolah menandatangani PKS Rp114,875 miliar pada 2026, dengan penyaluran Rp69,387 miliar ke 156 sekolah dan serapan 1.996 tenaga kerja. Angka-angka ini menunjukkan bahwa kebijakan lingkungan sebagai sumber belajar didukung investasi fisik yang nyata, bukan sekadar wacana.

Taman dan halaman sebagai laboratorium tanpa biaya tambahan

Kekuatan kebijakan ini terletak pada kesederhanaannya: sekolah diminta mengoptimalkan apa yang sudah dimiliki. Menurut Abdul Mu’ti, lingkungan sekolah yang dikelola dengan baik dapat menjadi sarana belajar langsung bagi murid. Pemasangan papan informasi pada pohon, penataan taman sebagai jalur observasi, atau pemanfaatan halaman sebagai ruang eksperimen sosial tidak memerlukan biaya tambahan besar, tetapi menuntut kreativitas dan komitmen guru. Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas pendidikan agar sarana yang tersedia dimanfaatkan optimal dan berkelanjutan untuk menunjang pembelajaran. Pesan ini tegas: revitalisasi fisik tanpa perubahan cara memandang lingkungan sekolah sebagai laboratorium pembelajaran interaktif akan sia-sia. Sekolah yang berani mengubah cara menggunakan ruang akan memanen deep learning siswa yang lebih kaya dan relevan dengan kehidupan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!