Tekad belajar di tengah kondisi yang tak ideal
Tes Kemampuan Akademik (TKA) adalah asesmen pendidikan yang mengukur kemampuan akademik siswa dan menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan belajar mereka. Ketika banjir dan jalan rusak menghalangi perjalanan ke sekolah, ujian ini juga menguji apakah akses pendidikan tetap dapat dijaga dalam cuaca ekstrem. Di SMA Negeri 1 Darul Hikmah, Desa Krueng Tunong, Aceh Jaya, genangan di lingkungan sekolah tidak menghentikan siswa untuk datang dan mengikuti TKA. Hujan deras membuat sejumlah sekolah di wilayah itu meliburkan siswa atau mengalihkan pembelajaran secara daring, tetapi para peserta di Darul Hikmah tetap menjalani asesmen meski akses menuju sekolah sulit. Keteguhan mereka patut dihargai, namun semangat siswa tidak semestinya menjadi pengganti lingkungan belajar yang aman. TKA siswa SMA hanya dapat berlangsung adil bila setiap peserta punya kesempatan untuk hadir dan mengerjakan soal tanpa harus menghadapi hambatan alam yang berulang.

Ruang ujian lebih tinggi, persoalan banjir tetap ada
Di SMA Negeri 1 Darul Hikmah, siswa mengerjakan soal di salah satu ruangan yang berada di tempat lebih tinggi, berusaha berkonsentrasi meski sekolah terendam air. Adegan itu memperlihatkan keteguhan sekaligus batas dari penyesuaian sementara: memindahkan peserta ke ruang yang lebih aman membantu ujian berlangsung, tetapi tidak menyelesaikan banjir yang mengganggu kegiatan sekolah. Kepala sekolah, Zakiah, berharap pemerintah mencari solusi agar genangan tidak terus berulang, termasuk melalui penimbunan lahan atau relokasi ke lokasi yang lebih aman. Harapan siswa, termasuk Naziratun Nisa dan rekan-rekannya, sederhana tetapi mendasar: lingkungan belajar yang aman dan nyaman. TKA saat banjir tidak seharusnya menjadi keadaan yang dianggap biasa. Jika setiap hujan deras kembali mengganggu proses belajar, penanganan lingkungan sekolah perlu bergerak dari respons darurat menuju solusi yang melindungi pendidikan dalam jangka panjang.

Jalan berlumpur menguji guru dan peserta
Di SMA Negeri 2 Rantau Selamat, Aceh Timur, hujan lebat membuat jalan menuju sekolah di Gampong Alue Punti semakin licin, becek, dan berlumpur karena belum beraspal. Meski akses sekolah berlumpur, guru dan siswa tetap menjalankan tugas serta mengikuti TKA 2026; pelaksanaan gelombang pertama berlangsung lancar hingga hari terakhir. Kepala sekolah Chalidin menyebut 22 siswa kelas XII mengikuti asesmen dengan tekad memperoleh hasil terbaik. Ia juga menceritakan Marianti, guru SMA Negeri 1 Rantau Selamat, yang telah empat hari menempuh perjalanan sekitar tujuh kilometer melalui jalan rusak untuk mengawasi TKA. Perjuangan ini menunjukkan bahwa kelancaran ujian tidak hanya bergantung pada persiapan akademik dan teknis. Kehadiran guru, perjalanan siswa, serta mobilitas warga sama-sama bergantung pada jalan yang dapat dilalui. Ketangguhan mereka mengesankan, tetapi kondisi tersebut tidak seharusnya menjadi ongkos rutin untuk memperoleh pendidikan.
Semangat harus diikuti perbaikan akses
Kedua peristiwa di Aceh Jaya dan Aceh Timur memperlihatkan masalah yang sama: cuaca ekstrem dapat mengancam akses ke sekolah dan kelancaran asesmen, meskipun siswa serta guru berupaya menjaga kegiatan tetap berjalan. Sekolah di Rantau Selamat melakukan persiapan, termasuk try out, bimbingan belajar, dukungan orang tua, serta antisipasi terhadap internet dan listrik. Upaya itu penting, tetapi tidak dapat menggantikan jalan yang layak atau sekolah yang bebas dari genangan. Chalidin meminta pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pihak terkait memperbaiki serta mengaspal jalan menuju Gampong Alue Punti. Di Darul Hikmah, Zakiah mendorong penanganan banjir melalui penimbunan lahan atau relokasi. Pemerintah perlu menindaklanjuti permintaan tersebut dengan solusi yang sesuai kondisi setempat. Kesimpulannya, keberhasilan TKA bukan hanya soal peserta mampu menyelesaikan ujian, melainkan juga memastikan mereka dapat mencapainya dengan aman dan bermartabat.






