Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Banjir dan Longsor Memutus Ritme Belajar Siswa

Banjir dan Longsor Memutus Ritme Belajar Siswa
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Bahaya tidak berhenti di gerbang sekolah

Banjir sekolah adalah gangguan terhadap kegiatan pendidikan ketika air menghalangi perjalanan siswa, merendam ruang belajar, atau merusak perlengkapan sehingga pembelajaran harus ditunda maupun disesuaikan. Di Depok, risiko itu tampak setelah jam pelajaran usai: pada Selasa, 27 Oktober 2026, siswa SD menerobos genangan setinggi 40 sentimeter di Jalan Rasamala Raya, Sukmajaya. Sebagian melepas sepatu dan menentengnya, sementara air keruh membasahi celana dan menutupi badan jalan. Pemandangan ini bukan sekadar soal perjalanan yang tidak nyaman. Anak-anak pulang dalam kondisi yang membahayakan, sementara warga menyebut banjir berulang setiap hujan deras. Mereka menduga drainase buruk, saluran menyempit, dan sampah menyumbat gorong-gorong sebagai penyebab. Jika akses siswa saat banjir dibiarkan menjadi urusan masing-masing keluarga, keselamatan selepas sekolah akan terus bergantung pada keberuntungan, bukan perlindungan yang terencana.

Banjir dan Longsor Memutus Ritme Belajar Siswa

Sekolah terdampak, belajar menunggu pemulihan

Gangguan tidak hanya terjadi di jalan. Hujan pada 24–25 Oktober 2026 berdampak pada tiga satuan pendidikan di Kluet Utara: SMP Negeri 2 Kluet Utara, TK Al Husna, dan PAUD Bijeh Mata. Air menggenangi lingkungan sekolah dan merusak sejumlah perlengkapan belajar, sehingga kegiatan belajar mengajar belum dapat berlangsung normal. Di Sultan Daulat, Subulussalam, SD Negeri I Jabi-Jabi diliburkan pada 26 Oktober setelah hujan deras memicu luapan sungai. Sekolah itu dilaporkan telah dua kali terendam sepanjang 2026; ruang kelas yang kemasukan air, tertutup lumpur, atau dipakai sebagai tempat pengungsian membuat pembelajaran harus dihentikan sementara atau dialihkan. Siswa terdampak banjir menanggung hilangnya waktu belajar, sedangkan sekolah harus memulihkan ruang dan perlengkapan sebelum kembali berfungsi. Karena itu, pembersihan bukan pekerjaan tambahan setelah bencana, melainkan bagian langsung dari pemulihan pendidikan.

Banjir dan Longsor Memutus Ritme Belajar Siswa

Longsor dan hujan mengubah keamanan serta jam pulang

Di Somagede, Banyumas, hujan deras sejak dini hari hingga pagi pada Jumat, 30 Oktober 2026, memicu longsor di tiga lokasi. Di SDN 2 Tanggeran, sekitar pukul 07.00, longsor merobohkan tembok keliling sekolah sepanjang kurang lebih 30 meter dan setinggi 3,5 meter; kerugian material diperkirakan Rp175 juta. Petugas memasang garis polisi untuk menjauhkan siswa dan warga dari area berbahaya. Sementara itu, sebuah SD negeri di Darit memilih menyesuaikan jam pulang ketika hujan deras turun pada jam terakhir. Bel dimundurkan sekitar 20 menit; siswa yang rumahnya jauh menunggu di ruang kelas, dan guru mencatat siapa yang dijemput atau pulang bersama tetangga. Pengaturan itu hanya berlaku saat hujan deras, bukan setiap kali langit mendung. Kebijakan lokal semacam ini masuk akal: mempertahankan jam belajar ketika jalan masih aman, tetapi tidak memaksa anak melintasi jalur licin atau genangan.

Keselamatan harus menjadi bagian dari kelangsungan belajar

Rangkaian kejadian ini memperlihatkan bahwa dampak bencana terhadap pendidikan memiliki beberapa tahap: perjalanan pulang menjadi berisiko, jam kepulangan perlu diatur, lalu pembelajaran dapat terhenti ketika sekolah tergenang atau rusak. Di Darit, anak yang berjalan di jalan tanah rawan tergelincir, sedangkan kendaraan penjemput belum bisa masuk sampai air di depan gerbang surut; siswa yang tinggal jauh menunggu di kelas, bukan di emper yang bocor. Di Kluet Utara, kegiatan belajar belum normal karena lingkungan dan perlengkapan terdampak, sementara penanganan longsor di Somagede masih mencakup pengamanan dan pemantauan oleh petugas. Sekolah, keluarga, dan pihak penanganan bencana perlu memperlakukan informasi kondisi jalan, tempat menunggu yang aman, dan pemeriksaan bangunan sebagai bagian dari kesinambungan belajar. Kesimpulannya, libur atau perubahan jam bukan gangguan administratif belaka: itu langkah perlindungan yang perlu disertai pemulihan agar siswa dapat kembali belajar dengan aman.

Banjir dan Longsor Memutus Ritme Belajar Siswa

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!